Satu Dua Hal yang Dulu Mengganjal

Beberapa langkah lagi umur akan menginjak seperempat abad dikurangi satu. Di umur segitu segini, saya memandang dunia sudah dengan kacamata yang berbeda. Bagaimana, ya. Coba saya jabarkan saja ya..

  1. Umur hanyalah masalah angka. Pencapaian orang lain di periode umur tertentu bukanlah tolok ukur yang pas untuk dijadikan referensi pribadi. Dulunya saya memandang bahwa hal semacam ini bekerja mutlak namun saya salah. Ambil waktumu, gunakan sebisanya. Gunakan seperlunya.
  2. Kamu tidak bisa mendapatkan hal-hal sekaligus untuk jangka yang panjang.
  3. Dunia ini bukan tempat yang sempurna–dan itu tidak mengapa.
  4. Senyum. Itu akan membuat beban di pundakmu terangkat setengah.
  5. Apa pun yang terjadi, hal-hal negatif di dalam diri bukanlah komoditas yang baik untuk dibagikan ke sekitar.
  6. Hanya karena orang lain membuatmu geram, kamu tidak perlu membalasnya dengan hal setimpal.
  7. Memaafkan adalah cara terbaik kedua untuk tetap membuat tubuhmu sehat.
  8. Tertawa adalah cara terbaik yang pertama.
  9. Tidak semua orang bersifat baik. Pun itu bukan soal yang perlu dipecahkan.
  10. Pula tidak semua orang bersifat jahat. Terbuka saja untuk segala kemungkinan.
  11. Adaptasilah. Menolak semua hal hanya akan membuatmu cape.
  12. Tidur cukup. Cicil kalau tidak memungkinkan.
  13. Makan teratur dan cermat memilih makanan. Tubuhmu butuh asupan.
  14. Di dalam satu titik, hidup akan menuntutmu untuk menjadi rigid namun tetap spontan.
  15. Pesan Ibuk, “Jangan sembrono.
  16. Berbicanglah dengan segala kelas ekonomi manusia, kamu akan terkejut bahwa kamu bisa belajar banyak hal dari mereka.
  17. Pilihannya hanya ada dua, belajar kemudian berbuat salah atau berbuat salah kemudian belajar. Namun satu yang perlu diingat, jangan dua kali mengulangi kesalahan yang sama.
  18. Dunia tidak perlu mengetahui kisah sedihmu.
  19. Bijaksana menggunakan uang.
  20. Berteman dengan banyak orang. Terus sendiri berpontensi menjadikanmu orang yang jahat.
  21. Namun tidak apa pula untuk melakukan hal-hal sendirian.
  22. Kematian urusan sang maha, bukan kuasamu untuk memikirkannya.
  23. Jangan memikirkan hal yang tidak bisa kamu ubah.
  24. Schrödinger’s Cat.

Itu saja.

Advertisements

Contemplating the Conundrums

I don’t know how to start or ending this sort of notion that I myself has brought to me, but lemme..

Saya sedang berada di tengah sesi berkemas untuk keperluan mudik–frasa yang digunakan the majority untuk menyebut pulang kembali ke mana mereka berasal untuk bertemu sanak-saudara dan bertukar cerita. Saya tidak menolak sepenuhnya konsep atau ide di balik ini semua, malah saya sependapat agar perputaran modal tidak terjadi di satu tempat, untuk itulah mudik diciptakan dan terjual ke orang-orang.

Umur saya dua puluh tiga, sudah dua tahun terakhir saya tidak kembali ke rumah yang orang tua saya bangun dan bertemu empat keluarga yang pernah berada dalam satu rahim dengan saya, secara bergantian tentunya karena saya bukan kembar lima. Alasannya kenapa ya. Neuron pros di kepala mencoba mencari alasan dan mari saya jabarkan:

  • Jauh–iya. Jauh. Dari Jawa Tengah menuju ke Selatan Sumatra itu jauh. Saya tahu bisa ditempuh dengan pesawat dan moda transportasi lainnya. Saya hanya tidak melihat costs yang dibutuhkan dengan benefits yang saya dapatkan berada dalam posisi seimbang. Saya tahu ini terdengar konyol, tetapi pernahkah kalian merasa bahwa saat pulang sudah tidak lagi di sana? Saat sudah berada di sana, masih ada yang terasa kurang? Pulang sudah menjadi kurang.
  • Harapan orang-orang. Saya tidak bisa mengemban dan menaruh beban harapan orang-orang di pundak saya pada seketika waktu. Harapan orang-orang agar saya menjadi manusia dengan kriteria tertentu bukanlah sesuatu yang saya inginkan saat saya hanya ingin bersantai, membaca buku, dan menikmati diri ini apa adanya. Bukan, bukan pertanyaan kapan kawin itu (btw kalau ditanya begitu jawab saja memang harus ya?–thanks to @Roryasyari), harapan yang lebih kepada rasa penasaran orang-orang tentang apa yang telah saya alami, keputusan apa yang saya ambil, dan beban cerita lain yang saat saya hanya diam, mereka tidak akan terima. Cerita-cerita yang sebenarnya sudah tidak ingin saya ceritaulangkan tetapi saya tetap memiliki beban moral untuk mengatakan kenapa saya menjadi seperti saya yang sekarang ini.
  • Not to tell what you guys doings are wrong. Ini yang paling sulit. Untuk tidak mengatakan apa yang sedang orang-orang lakukan itu salah. Bahwa seolah saya datang untuk membawa cara terbenar untuk melakukan segala sesuatu. Bahwa diam saya tersiksa dan berkata saya tak kuasa. Oh tell me what is worse.

Itu saja sepertinya. Sekarang giliran neuron cons ambil bagian:

  • You should not have forgotten where you came from. People’s objectivity isn’t your luggage to claim. Let them be what they want to be. Now you can think this as a contemporary thought. You are just doing what you should be doing. Enjoy yourself. Be yourself. I’m sorry I cannot be against you. I love you bib.

So it speaks.

Tahun ini saya hanya akan berada di rumah sahabat. Bercengkrama dengan mereka yang tidak menaruh harapan apa-apa terhadap saya. Yang mengizinkan saya diam. Tertawa. Diam. Tertawa. Sedikit berbicara. Repeat.

I hope whoever reading this will find this as a reflection if you may.. For not taking things for granted until it disappeared then you have to build things from zero point.

Because it’s tiring.

Ied Mubarak!

Nomor Empat Puluh Empat

Saya hanya memiliki satu jam untuk menulis ini sehingga waktu tidur saya tidak begitu defisit, jadi jangan berharap banyak.

Beberapa pekan lalu, saya menyambang ke Yogyakarta. Kota yang sudah tidak lagi saya mengerti masa depannya akan seperti apa. Dua hari saya habiskan di rumah bagi ruang yang saya pesan melalui Airbnb. Saya memilih KaliKala dengan tuan rumah bernama mbak Delima. Sosok dingin tapi ceria. Auranya gelap tapi talkative. Anyway, saya tidak ingin membahas ini sekarang, karena saya tidak begitu memiliki pembicaraan yang mendalam dengan beliau. Namun secara keseluruhan, KaliKala adalah pilihan yang lumayan baik jika ingin menghabiskan waktu di Yogyakarta. Tidak jauh dari pusat kota. Ruang dan sistem yang terbentuk di sana mudah untuk dipahami oleh tamu-tamu baru. Jika ingin mencoba, ini profilnya:

https://www.airbnb.com/rooms/10047691

Semua ini menjadi menarik ketika saya bertemu seorang Jerman bernama Mayer. Pukul sebelas kala itu saat saya baru saja menutup pintu. Sepulang menonton The Accountant yang membuat pikiran saya terus berjalan liar. Saat saya tiba, saya dapati Mayer sedang menulis di jurnalnya. Sembari membubuhi jurnal tsb dengan berbagai ornamen yang ia temui selama di perjalanan. Kartu nama, kartu pos, dsb.

Sind Sie Deutscher?

Buka saya.

Ja. Ich bin Deutscher.

Tidak sia-sia saya mendengarkan podcast German 101 berjam-jam setiap waktu tidur tiba. Tapi itu tidak pula akan membawa saya dapat menguasai bahasa satu ini. Sehingga saya menyerah.

Sprechen Sie Deutsch?

Ia bertanya.

Oh tidak. That is all I got.

Kemudian saya menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Sembari melihat apa yang ia tulis dan bertanya kenapa ia menulis. Maksud saya, come on, ini sudah tahun 2016 dan mengapa tulisan tangan? Tidakkah ada kamera yang dengan mudah akan membawa memori kembali saat dilihat lagi. Atau ada laptop untuk menyimpan jurnal-jurnal tadi.

Ternyata, setelah berbincang, saya memahami bahwa Mayer adalah sosok yang, um, philosophical if you will. Ia vegetarian. Juga hanya menggunakan produk-produk rumahan yang ramah lingkungan. Lebih lagi, di usianya yang menginjak dua puluh tahun, saya terkagum dengan caranya berpikir dan memandang pelbagai hal. Inilah yang pada akhirnya menghubungkan kami berdua.

Kami berdiskusi banyak hal.

Orang-orang Indonesia secara umum. Bagaimana ia terkejut dengan Yogyakarta yang menggunakan dwibahasa, bahkan sering sekali ia bertemu polyglot di kota ini. Pengalaman sexual abuse yang ia alami. Perang dunia kedua dan sejarah Bank Dunia terbentuk. Bahasa Jerman dan betapa sulitnya untuk menguasai bahasa itu. Orang-orang jerman. Marburg. Rencana ia meneruskan perjalanan ke Thailand melalui jalur darat, menembus pulau Sumatra dan langsung saya sarankan untuk tidak melakukannya. Dan banyak lagi.

Look, saya bukan tipe orang yang senang berbicara dengan orang asing. Tapi kali ini lain. Kami langsung klik di pembicaraan pertama kali. Sehingga saya menawarkan ia untuk menjadi teman baik saya. Dan ia setuju.

Sehingga daftar nomor empat puluh empat di dalam seratus hal yang akan saya lakukan sebelum saya mati, terpenuhi. Yaitu ‘Make a best friend with foreigner’.

Here was our appearance

img_1911

Rumahsakit garismiring Homesick

Tatapan penuh tanda tanya selalu tertuju ke arah saya setiap akhir pekan tiba. Mengapa? Alasannya beragam-ragam. Namun kebanyakan, rangorang heran kenapa saya memilih untuk tidak ke mana-mana saat libur bekerja. Saya bisa saja jujur menjawab kalau saya tidak memiliki tempat pulang. Tapi tunggu dulu. Itu bukanlah jawaban diplomatis yang rangorang harapkan. Ditakutkan rangorang akan kasihan. Padahal saya tahu betul kalau saya tidak suka diberi perhatian.

Kok ngga jalan-jalan?

Waduh apa lagi ini.

Pertanyaan ini makin sulit untuk dijawab. Mau bilang kalau saya tidak suka liburan juga kok terasa ingin mencap diri sebagai pelawan arus. Tahu sendiri kalau sekarang akses bepergian semakin mudah ditambah promosi yang gencar dilakukan dari sana dan dari sini. Jadi untuk menjawab pertanyaan “Kok ngga jalan-jalan” butuh keahlian khusus yang sayangnya belum saya kuasai.

Namun, izinkan saya kisahkan satu paragraf untuk menggambarkan kerangka ada apa di antara saya dan liburan. Setelah itu, silakan kita sama-sama berpikir ulang. Kalau tidak mau berpikir ya tidak apa juga, sih. Saya kan cuma nulis. LHO KOK SEDI. Um. Begini..

Saya anak rumahan (walaupun ngga punya rumah). Energi saya akan kembali terisi saat saya berada di dalam ruangan tanpa siapa-siapa di samping saya. Pernah saya uji nyali untuk melancong ke kota seberang. Membayar hotel paling mahal yang masuk akal di neraca keuangan. Hasilnya apa. Dua hari saya tidak ke mana-mana. Alias berdiam diri di hotel seperti orang sakit jiwa. Sarapan saya turun ke bawah. Lapar makan siang, saya pesan Go-Food (ini promosi tak berbayar). Makan malam, juga Go-Food. Hiburan saya hanya menyanyi sendiri di kamar mandi berbekal sebuah speaker mini dan playlist di Spotify. Semua saya lakukan supaya tidak ditanya “Kok ngga pulang” oleh para kolega. Sehabis saya berlibur, saya kembali ke kantor dan tetap saja ada yang mengajukan pertanyaan

Ke mana saja kemarin?

Ngga ke mana-mana. Diam di hotel. Berenang.

Jawab saya ringan.

Jadi bagaimana? Sudah tahu kan apa yang salah dari diri saya? HAHAHAHAHA.

Baru-baru ini, saya memikirkan sebuah fondasi baru di balik mengapa saya tidak kangen rumah. Jawaban paling memuaskan yang saya dapatkan dari hasil perenungan adalah … hmm, saya tidak punya rumah. That is it. Pula saya tidak memaksakan diri ini untuk mencari “rumah”, memiliki “rumah”,  atau kembali ke “rumah”.

Saya memiliki kepercayaan, kalau semua sudah dituliskan jadi tersisa apalagi untuk saya khawatirkan?

Ada baiknya saya hanya ingin terus berjalan. Menikmati pergerakkan.

Dan suatu saat bila saya kelelahan, mungkin saya akan ambil napas panjang dan istirahat sebentar. Sembari menikmati pamandangan. Kediaman. Keheningan.

Laut dan Kolam Renang.

laut-dan-kolam-renang

Selamat meneruskan hidup.

Tabik.

Rekap Dua Puluh Tiga

Ada ucapan yang menyebut bahwa menulis adalah salah satu cara agar hidupmu menjadi abadi. Manusia pada umumnya ingin menjadi abadi lewat cara-cara tersembunyi. Dua kalimat tadi tidak saling berhubungan namun tidak apa. Saya bukan penulis yang baik, pula ingin terus menulis. Karena sampai sekarang, saya masih tidak ingin menaruh hidup saya dalam keabadian. Ketika mati nanti, saya hanya ingin dilupakan. Itu saja.

Hari ini bertepatan saya dan Yogyakarta bertambah usia. Kami berdua adalah partner yang solid dulunya, namun tidak saat ini. Yogyakarta telah digandrungi banyak pihak yang membuat perhatian ia tidak lagi ada pada saya. Juga saya kesulitan mengikuti gerak-geriknya. Ia bergerak terlalu cepat, terburu-buru, dan tanpa hitung-hitungan yang terukur. Jadilah saya sekarang memutuskan berpisah dengan Yogyakarta lalu kami berdua sepakat untuk menempuh jalur hidup masing-masing. Semoga saja kami berdua bermuara pada kebaikan yang hakiki. Semoga saja.

Dua puluh tiga menjadi tahun kemerdekaan saya.

Saya adalah orang yang menurut data World Bank 40 persen terbawah. Di mana saya lahir dari rural area, orangtua yang tidak begitu well-informed, juga ekonomi menengah ke bawah. Semua berubah ketika Tuhan memercayai saya dengan tanggung jawab dan tanggung jawab baru. Ia mengambil kedua orangtua saya dari muka bumi ini. Saya kebingungan pada saat itu. Usai enam belas, saya lalui dengan harap-harap cemas. Namun berkat doa dan nekad yang saya kobarkan setiap saat, sampailah saya di titik sekarang. Titik di mana saya berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Dua puluh tiga ingin saya gunakan untuk mengucapkan terima kasih ke pelbagai pihak yang selama ini telah menjadi bagian singkat dan pula tidak dari bagian keseharian, bulanan, hingga tahunan saya. Tidak ada hal yang benar-benar baru di bawah sinar matahari. Saya jelas tidak bisa membalas segala bentuk perhatian, kebaikan, dan ketulusan kalian semua. Saya hanya ingin mengembus napas panjang dan mengikhlaskan bahwa saya bukanlah apa-apa. Bahwa modal hidup saya selama ini hanya kejujuran, penasaran, dan keberanian.

Sekarang, saya hanya ingin mewujudkan mimpi-mimpi Ibnu Habibi di masa dahulu dan saya berjanji untuk bekerja keras agar semua hal yang Ibnu Habibi dulu visikan tercapai kelak di masa depan.

Bahwa hidup ini tidak terjadi begitu saja adalah benar adanya. Saya saksi hidup itu semua.

Dan untuk anak muda atau bahasa kekiniannya adalah generasi Y, saya hanya ingin menyarankan untuk melakukan tiga hal ini.

Christine Lagarde, managing director IMF pernah berucap agar generasi Y melakukan Three E(s):
1) Embrace
2) Engange
3) Enjoy

Semangka

Tulisan ini tidak saya edit. Karena saya pemalas.

Tabik.