Awal Dua-Lima

Sejak kecil ia berpola tidak biasa. Dunia, bagi ia, adalah wadah besar yang tertuang sejuta misteri belum terpecahkan. Ia pernah membongkar jam tangan milik ayah padahal itu baru saja dibeli. Alasannya? Ia hanya ingin melihat apa yang membuat jarum kecil di dalam sana berputar tanpa henti. Ia pernah membuat kaca pembesar dari bekas bohlam yang sudah mati. Kegunaannya? Untuk melihat lebih jelas barisan semut-semut di parit depan rumah.

Ia anak mami. Begitu ledek teman-temannya. Yang kemudian membuat kepalanya memutar terus argumen tadi.

“Anak mami?”

“Lho memang kalian bukan? Lalu dari mana kalian sampai ke dunia ini?”

Suatu malam, tanpa angin dan hujan, ia berkata kepada ibunya,

“Kalau sudah tidak lagi di dunia, tolong tetap datang menyampaikan kabar ya.”

Dua tahun kemudian intuisinya benar.

Hati ia remuk. Bukan, dunia ia remuk.

Lima, enam, .. tahun berselang, saat dunianya dilanda kerisauan, pesan singkat sampai di kepala.

Schrodinger’s cat. Schrodinger’s cat. Schrodinger’s cat.

Kabar tadi tiba. Ia tahu benar ibunya tidak akan pernah ingkar.

She’ll be his forever ghost.

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s