Contemplating the Conundrums

I don’t know how to start or ending this sort of notion that I myself has brought to me, but lemme..

Saya sedang berada di tengah sesi berkemas untuk keperluan mudik–frasa yang digunakan the majority untuk menyebut pulang kembali ke mana mereka berasal untuk bertemu sanak-saudara dan bertukar cerita. Saya tidak menolak sepenuhnya konsep atau ide di balik ini semua, malah saya sependapat agar perputaran modal tidak terjadi di satu tempat, untuk itulah mudik diciptakan dan terjual ke orang-orang.

Umur saya dua puluh tiga, sudah dua tahun terakhir saya tidak kembali ke rumah yang orang tua saya bangun dan bertemu empat keluarga yang pernah berada dalam satu rahim dengan saya, secara bergantian tentunya karena saya bukan kembar lima. Alasannya kenapa ya. Neuron pros di kepala mencoba mencari alasan dan mari saya jabarkan:

  • Jauh–iya. Jauh. Dari Jawa Tengah menuju ke Selatan Sumatra itu jauh. Saya tahu bisa ditempuh dengan pesawat dan moda transportasi lainnya. Saya hanya tidak melihat costs yang dibutuhkan dengan benefits yang saya dapatkan berada dalam posisi seimbang. Saya tahu ini terdengar konyol, tetapi pernahkah kalian merasa bahwa saat pulang sudah tidak lagi di sana? Saat sudah berada di sana, masih ada yang terasa kurang? Pulang sudah menjadi kurang.
  • Harapan orang-orang. Saya tidak bisa mengemban dan menaruh beban harapan orang-orang di pundak saya pada seketika waktu. Harapan orang-orang agar saya menjadi manusia dengan kriteria tertentu bukanlah sesuatu yang saya inginkan saat saya hanya ingin bersantai, membaca buku, dan menikmati diri ini apa adanya. Bukan, bukan pertanyaan kapan kawin itu (btw kalau ditanya begitu jawab saja memang harus ya?–thanks to @Roryasyari), harapan yang lebih kepada rasa penasaran orang-orang tentang apa yang telah saya alami, keputusan apa yang saya ambil, dan beban cerita lain yang saat saya hanya diam, mereka tidak akan terima. Cerita-cerita yang sebenarnya sudah tidak ingin saya ceritaulangkan tetapi saya tetap memiliki beban moral untuk mengatakan kenapa saya menjadi seperti saya yang sekarang ini.
  • Not to tell what you guys doings are wrong. Ini yang paling sulit. Untuk tidak mengatakan apa yang sedang orang-orang lakukan itu salah. Bahwa seolah saya datang untuk membawa cara terbenar untuk melakukan segala sesuatu. Bahwa diam saya tersiksa dan berkata saya tak kuasa. Oh tell me what is worse.

Itu saja sepertinya. Sekarang giliran neuron cons ambil bagian:

  • You should not have forgotten where you came from. People’s objectivity isn’t your luggage to claim. Let them be what they want to be. Now you can think this as a contemporary thought. You are just doing what you should be doing. Enjoy yourself. Be yourself. I’m sorry I cannot be against you. I love you bib.

So it speaks.

Tahun ini saya hanya akan berada di rumah sahabat. Bercengkrama dengan mereka yang tidak menaruh harapan apa-apa terhadap saya. Yang mengizinkan saya diam. Tertawa. Diam. Tertawa. Sedikit berbicara. Repeat.

I hope whoever reading this will find this as a reflection if you may.. For not taking things for granted until it disappeared then you have to build things from zero point.

Because it’s tiring.

Ied Mubarak!

Advertisements

2 thoughts on “Contemplating the Conundrums

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s