Nomor Empat Puluh Empat

Saya hanya memiliki satu jam untuk menulis ini sehingga waktu tidur saya tidak begitu defisit, jadi jangan berharap banyak.

Beberapa pekan lalu, saya menyambang ke Yogyakarta. Kota yang sudah tidak lagi saya mengerti masa depannya akan seperti apa. Dua hari saya habiskan di rumah bagi ruang yang saya pesan melalui Airbnb. Saya memilih KaliKala dengan tuan rumah bernama mbak Delima. Sosok dingin tapi ceria. Auranya gelap tapi talkative. Anyway, saya tidak ingin membahas ini sekarang, karena saya tidak begitu memiliki pembicaraan yang mendalam dengan beliau. Namun secara keseluruhan, KaliKala adalah pilihan yang lumayan baik jika ingin menghabiskan waktu di Yogyakarta. Tidak jauh dari pusat kota. Ruang dan sistem yang terbentuk di sana mudah untuk dipahami oleh tamu-tamu baru. Jika ingin mencoba, ini profilnya:

https://www.airbnb.com/rooms/10047691

Semua ini menjadi menarik ketika saya bertemu seorang Jerman bernama Mayer. Pukul sebelas kala itu saat saya baru saja menutup pintu. Sepulang menonton The Accountant yang membuat pikiran saya terus berjalan liar. Saat saya tiba, saya dapati Mayer sedang menulis di jurnalnya. Sembari membubuhi jurnal tsb dengan berbagai ornamen yang ia temui selama di perjalanan. Kartu nama, kartu pos, dsb.

Sind Sie Deutscher?

Buka saya.

Ja. Ich bin Deutscher.

Tidak sia-sia saya mendengarkan podcast German 101 berjam-jam setiap waktu tidur tiba. Tapi itu tidak pula akan membawa saya dapat menguasai bahasa satu ini. Sehingga saya menyerah.

Sprechen Sie Deutsch?

Ia bertanya.

Oh tidak. That is all I got.

Kemudian saya menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Sembari melihat apa yang ia tulis dan bertanya kenapa ia menulis. Maksud saya, come on, ini sudah tahun 2016 dan mengapa tulisan tangan? Tidakkah ada kamera yang dengan mudah akan membawa memori kembali saat dilihat lagi. Atau ada laptop untuk menyimpan jurnal-jurnal tadi.

Ternyata, setelah berbincang, saya memahami bahwa Mayer adalah sosok yang, um, philosophical if you will. Ia vegetarian. Juga hanya menggunakan produk-produk rumahan yang ramah lingkungan. Lebih lagi, di usianya yang menginjak dua puluh tahun, saya terkagum dengan caranya berpikir dan memandang pelbagai hal. Inilah yang pada akhirnya menghubungkan kami berdua.

Kami berdiskusi banyak hal.

Orang-orang Indonesia secara umum. Bagaimana ia terkejut dengan Yogyakarta yang menggunakan dwibahasa, bahkan sering sekali ia bertemu polyglot di kota ini. Pengalaman sexual abuse yang ia alami. Perang dunia kedua dan sejarah Bank Dunia terbentuk. Bahasa Jerman dan betapa sulitnya untuk menguasai bahasa itu. Orang-orang jerman. Marburg. Rencana ia meneruskan perjalanan ke Thailand melalui jalur darat, menembus pulau Sumatra dan langsung saya sarankan untuk tidak melakukannya. Dan banyak lagi.

Look, saya bukan tipe orang yang senang berbicara dengan orang asing. Tapi kali ini lain. Kami langsung klik di pembicaraan pertama kali. Sehingga saya menawarkan ia untuk menjadi teman baik saya. Dan ia setuju.

Sehingga daftar nomor empat puluh empat di dalam seratus hal yang akan saya lakukan sebelum saya mati, terpenuhi. Yaitu ‘Make a best friend with foreigner’.

Here was our appearance

img_1911

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s