Rumahsakit garismiring Homesick

Tatapan penuh tanda tanya selalu tertuju ke arah saya setiap akhir pekan tiba. Mengapa? Alasannya beragam-ragam. Namun kebanyakan, rangorang heran kenapa saya memilih untuk tidak ke mana-mana saat libur bekerja. Saya bisa saja jujur menjawab kalau saya tidak memiliki tempat pulang. Tapi tunggu dulu. Itu bukanlah jawaban diplomatis yang rangorang harapkan. Ditakutkan rangorang akan kasihan. Padahal saya tahu betul kalau saya tidak suka diberi perhatian.

Kok ngga jalan-jalan?

Waduh apa lagi ini.

Pertanyaan ini makin sulit untuk dijawab. Mau bilang kalau saya tidak suka liburan juga kok terasa ingin mencap diri sebagai pelawan arus. Tahu sendiri kalau sekarang akses bepergian semakin mudah ditambah promosi yang gencar dilakukan dari sana dan dari sini. Jadi untuk menjawab pertanyaan “Kok ngga jalan-jalan” butuh keahlian khusus yang sayangnya belum saya kuasai.

Namun, izinkan saya kisahkan satu paragraf untuk menggambarkan kerangka ada apa di antara saya dan liburan. Setelah itu, silakan kita sama-sama berpikir ulang. Kalau tidak mau berpikir ya tidak apa juga, sih. Saya kan cuma nulis. LHO KOK SEDI. Um. Begini..

Saya anak rumahan (walaupun ngga punya rumah). Energi saya akan kembali terisi saat saya berada di dalam ruangan tanpa siapa-siapa di samping saya. Pernah saya uji nyali untuk melancong ke kota seberang. Membayar hotel paling mahal yang masuk akal di neraca keuangan. Hasilnya apa. Dua hari saya tidak ke mana-mana. Alias berdiam diri di hotel seperti orang sakit jiwa. Sarapan saya turun ke bawah. Lapar makan siang, saya pesan Go-Food (ini promosi tak berbayar). Makan malam, juga Go-Food. Hiburan saya hanya menyanyi sendiri di kamar mandi berbekal sebuah speaker mini dan playlist di Spotify. Semua saya lakukan supaya tidak ditanya “Kok ngga pulang” oleh para kolega. Sehabis saya berlibur, saya kembali ke kantor dan tetap saja ada yang mengajukan pertanyaan

Ke mana saja kemarin?

Ngga ke mana-mana. Diam di hotel. Berenang.

Jawab saya ringan.

Jadi bagaimana? Sudah tahu kan apa yang salah dari diri saya? HAHAHAHAHA.

Baru-baru ini, saya memikirkan sebuah fondasi baru di balik mengapa saya tidak kangen rumah. Jawaban paling memuaskan yang saya dapatkan dari hasil perenungan adalah … hmm, saya tidak punya rumah. That is it. Pula saya tidak memaksakan diri ini untuk mencari “rumah”, memiliki “rumah”,  atau kembali ke “rumah”.

Saya memiliki kepercayaan, kalau semua sudah dituliskan jadi tersisa apalagi untuk saya khawatirkan?

Ada baiknya saya hanya ingin terus berjalan. Menikmati pergerakkan.

Dan suatu saat bila saya kelelahan, mungkin saya akan ambil napas panjang dan istirahat sebentar. Sembari menikmati pamandangan. Kediaman. Keheningan.

Laut dan Kolam Renang.

laut-dan-kolam-renang

Selamat meneruskan hidup.

Tabik.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s