Rekap Dua Puluh Tiga

Ada ucapan yang menyebut bahwa menulis adalah salah satu cara agar hidupmu menjadi abadi. Manusia pada umumnya ingin menjadi abadi lewat cara-cara tersembunyi. Dua kalimat tadi tidak saling berhubungan namun tidak apa. Saya bukan penulis yang baik, pula ingin terus menulis. Karena sampai sekarang, saya masih tidak ingin menaruh hidup saya dalam keabadian. Ketika mati nanti, saya hanya ingin dilupakan. Itu saja.

Hari ini bertepatan saya dan Yogyakarta bertambah usia. Kami berdua adalah partner yang solid dulunya, namun tidak saat ini. Yogyakarta telah digandrungi banyak pihak yang membuat perhatian ia tidak lagi ada pada saya. Juga saya kesulitan mengikuti gerak-geriknya. Ia bergerak terlalu cepat, terburu-buru, dan tanpa hitung-hitungan yang terukur. Jadilah saya sekarang memutuskan berpisah dengan Yogyakarta lalu kami berdua sepakat untuk menempuh jalur hidup masing-masing. Semoga saja kami berdua bermuara pada kebaikan yang hakiki. Semoga saja.

Dua puluh tiga menjadi tahun kemerdekaan saya.

Saya adalah orang yang menurut data World Bank 40 persen terbawah. Di mana saya lahir dari rural area, orangtua yang tidak begitu well-informed, juga ekonomi menengah ke bawah. Semua berubah ketika Tuhan memercayai saya dengan tanggung jawab dan tanggung jawab baru. Ia mengambil kedua orangtua saya dari muka bumi ini. Saya kebingungan pada saat itu. Usai enam belas, saya lalui dengan harap-harap cemas. Namun berkat doa dan nekad yang saya kobarkan setiap saat, sampailah saya di titik sekarang. Titik di mana saya berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Dua puluh tiga ingin saya gunakan untuk mengucapkan terima kasih ke pelbagai pihak yang selama ini telah menjadi bagian singkat dan pula tidak dari bagian keseharian, bulanan, hingga tahunan saya. Tidak ada hal yang benar-benar baru di bawah sinar matahari. Saya jelas tidak bisa membalas segala bentuk perhatian, kebaikan, dan ketulusan kalian semua. Saya hanya ingin mengembus napas panjang dan mengikhlaskan bahwa saya bukanlah apa-apa. Bahwa modal hidup saya selama ini hanya kejujuran, penasaran, dan keberanian.

Sekarang, saya hanya ingin mewujudkan mimpi-mimpi Ibnu Habibi di masa dahulu dan saya berjanji untuk bekerja keras agar semua hal yang Ibnu Habibi dulu visikan tercapai kelak di masa depan.

Bahwa hidup ini tidak terjadi begitu saja adalah benar adanya. Saya saksi hidup itu semua.

Dan untuk anak muda atau bahasa kekiniannya adalah generasi Y, saya hanya ingin menyarankan untuk melakukan tiga hal ini.

Christine Lagarde, managing director IMF pernah berucap agar generasi Y melakukan Three E(s):
1) Embrace
2) Engange
3) Enjoy

Semangka

Tulisan ini tidak saya edit. Karena saya pemalas.

Tabik.

Advertisements

6 thoughts on “Rekap Dua Puluh Tiga

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s