My Take on Communicating with Foreigners

Dua pekan lalu, saya diminta untuk mengisi sebuah sesi, semacam kegiatan pagi rutin di kantor, tentang teknik berkomunikasi dengan stakeholders asing. Reaksi pertama tentu saya bingung. Teknik komunikasi? Saya tidak memiliki kualifikasi yang diakui untuk berbicara tentang hal ini. Lagipula komunikasi saya dengan orang indonesia saja masih tidak keruan perwujudannya. Namun atas dasar mencoba filling the moment saya usahakan perintah atasan tersebut bisa dijalankan.

Kok gaya tulisan saya belakangan jadi membosankan ya? AHAHAHAsudahlamatidakmembacanovelHAHAHAHA.

Ini slide yang saya buat dan gunakan kala itu:

https://docs.google.com/presentation/d/1bwknIjTyRxLsRDaORwEDgBHezlG5X4dNC0qaPPo09WA/edit?usp=sharing

Titik berat saya pada saat itu, bagaimana reaksi sebagian besar orang-orang indonesia saat berhadapan dengan what-so-called bule. Karena pada pengalaman pribadi, saya pernah berpura-pura tidak bisa berbahasa Indonesia ketika berada di dalam lift di sebuah hotel di Semarang dan kala itu, orang yang awalnya menegur saya seperti salah tingkah dsb. Saya bisa merasa bahwa ia seperti terintimidasi secara intelektual, mungkin ini hiperbola, tetapi entah kenapa saya selalu merasakan ambiance itu. Ketika rasa superioritas diberikan secara cuma-cuma kepada bule hanya karena kita, mayoritas orang indonesia, tidak bisa berbahasa inggris.

Lewat kesempatan itulah saya ingin meluruskan persepsi-persepsi, yang bagi saya pribadi, menggangu itu. How we value English is overrated by the way.

Ini foto ketika saya mengesi sebuah sesi tsb:MorningActivity: Communicating with Foreign Stakeholders--or Foreigners in General 13180957_804078256392767_1320257618_n 13183216_804078309726095_595017105_n

Apa yang saya sampaikan tentu jauh dari kata sempurna, namun yang ingin saya capai di sesi itu adalah, bisakah kita bersikap biasa saja ketika berada di hadapan bule. Menatap mereka sama seperti kita menatap bangsa-bangsa lain di dunia. Pada akhirnya kita hanya manusia, dengan sistem pencernaan yang berawal dari mulut dan diproses keluar lewat anus.

Tabik!

Advertisements

One thought on “My Take on Communicating with Foreigners

  1. Aku sih biasa aja klo sama bule. Eh errr tp waktu tinggal di Sydney malah norak klo satu bus dgn bule, apalagi yg blonde, hehehe. Soale setahun disana, aku tinggal di semacam kampung Asia yg isinya Melayu & Cina, hahaha. Jd ya langka bgt bisa liat bule. Sekalinya liat bule jadi excited =_____=

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s