Weird Stuff Appeared.

  • Tidak mengonsumsi makanan yang diberikan secara cuma-cuma kepadamu hanya dengan alasan you did not need to consume these much for things you had done so little today. Saat itu juga kamu membiarkannya tergeletak di atas sebuah meja, tidak terpikirkan untuk memberikannya ke pak satpam atau pramusaji di kantor karena kamu terlalu ignorance. Rupanya kamu masih terlalu berisi hal-hal yang memenuhi dirimu sendiri. Itu tidak baik, sama sekali. Keesokan pagi kamu terbangun dan mencium aroma tidak sedap dari makanan tadi. Tidak berat hati, kamu melemparnya ke tong sampah seolah tidak ada hal yang salah sedang terjadi di sini. Begitu selesai mandi, kaulihat ada seorang penghimpun barang-barang daur ulang sedang berbisnis dengan tong sampah di dekat tempatmu tinggal. Kemudian kamu menyaksikan, ia memakan makanan yang telah kamu buang. Yang kamu tahu pasti, itu sudah tidak layak dikonsumsi. You looked okay from the outside, but you were pretty sure you torn apart from the inside. You can still feel it today.
  • Kamu ditugasi menengok bisnis seorang beras china; kamu memandangnya dan berbicara dengannya. Dari caranya ia berbicara, kamu tahu ia tidak lahir dan dibesarkan di Indonesia. Mengingat buruknya cara ia mengartikulasi isi pikirannya dalam bahasa Indonesia, lebih-lebih dalam bahasa yang orang-orang percaya sebagai bahasa penyatu umat manusia, bahasa Inggris.

    Berbicara bahasa Indonesia?

    Sedikit,”

    sambungnya

    Do you speak English then?”

    A little.”

    HERE WE COME. Kamu mengamati lingkungan ia *bekerja, tivi kabel berbahasa Mandarin sedang ditayangkan, selembar koran beraksara China tergeletak di atas meja, pelan-pelan kamu membayangkan berapa jumlah nol yang berada di belakang titik dalam rekening tabungan orang yang selalu tersenyum saat kamu ajak berbicara ini. Setelah lelah mengalami pembicaraan yang lebih banyak menggunakan bahasa Isyarat ketimbang bahasa oral, kamu meminta diajak berkeliling tempat usahanya. Kemudian kamu terkejut melihat seorang ibu hamil besar, dengan masker menutupi wajahnya, sedang giat mengamplas sebuah kursi yang rencananya akan diekspor ke Benua Eropa. Lebih terkejut lagi ketika seorang temanmu yang pernah menengok laporan keuangan perusahaannya mengatakan, Ibu itu per hari dibayar tidak lebih dari lima belas ribu rupiah. Oh, sang ibu harus bekerja dari pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore. Temanmu kesal, nasionalismenya terbakar. Ia mengutarakan kekesalannya kepadamu. Kamu juga kesal, tetapi kamu hanya diam. Laun kamu berpikir, “Would this be upset you by these much, if the woman who’s pregnant was not an Indonesian? Say, she’s American and she has to get through what that Ibu has gotten through? Would you still be upset?” Kamu berkesimpulan yes. Lalu kamu lontarkan pertanyaan yang sama ke temanmu, yang nasionalismenya sedang terbakar ini, “Mas bakal semarah ini nggak sih kalau ibuk yang harus amplas kursi tadi bukan orang indonesia? Katakanlah dia orang amerika atau bahkan orang cina?” Pertanyaanmu membuat dunia bungkam. Nasionalisme ternyata berujung fasis. (*= he was not bekerja, all he was doing was watching cable and drinking beer. At freaking nine AM!)

  • Kamu lapar setiap saat.
Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s