Sepenggal Kisah Jagal

Mari kita bicara tentang bunuh diri.

Topik ini tentu tidak enak sekali untuk dibicarakan, namun izinkan saya berbicara dari sisi orang yang pernah melakukan praktiknya, mengetahui orang yang pernah melakukannya, dan kenal dengan orang yang pernah melakukannya. Oh, tapi tidak satu pun dari semua itu yang percobaan bunuh dirinya berhasil, alias, si penjagal, maaf, mati.

Saat ditanya dan bertanya, kenapa untuk setiap percobaan bunuh diri yang dilakukan, jawaban yang saya temukan macam-macam.

Kalau di pengalaman pribadi, saya, saat itu, sedang berada di nadir kehidupan saya. Saya tidak bangga untuk mengakui ini, tapi harus saya akui, sekarang, saya lemah pada saat itu. Namun, in my defense, it was not morally wrong to feel what one’s feel, since, everyone has a freewill over their feelings. Saya pada saat itu merasa tidak ada gunanya, jadi kesimpulan paling masuk akal saat itu, lebih baik saya mengakhiri hidup saya. Simply as it.

Di seorang teman, ia merasa tidak fits di mana pun ia berada. Merasa ada yang salah dengan dirinya dan lingkungannya. Kenapa hal buruk terjadi ke orang-orang baik dan ia merasa tidak adil kalau orang-orang baik tadi merasakan itu sendirian. Jadi ia mengambil kontribusi dengan cara ingin melukai diri dia sendiri.

Pindah ke jendela lain, lelaki matang di usia empat puluhan. Merasa telah melakukan segala hal memungkinkan yang bisa ia perbuat dan tak pernah berpikir akan merasakan perasaan baru, excitement baru, seakan semuanya terus begitu-begitu saja. Kemudian ia ingin mengakhiri hidupnya.

Mungkin kamu yang membaca sudah mulai mengerutkan dahi dan berpikir apa ini sebenarnya, percayalah, saya yang menulis juga merasakan hal yang sama.

Tarik napas sebentar.

Embuskan.

Sudah?

Mari kita teruskan.

Reaksi apa sih sebenarnya yang diharapkan para pelaku bunuh diri?

Saya tidak bicara atas pribadi orang lain, tapi yang jelas sih bukan,

Lo kurang bersyukur aja tuh. Nggak sadar masih banyak hidup orang yang lebih buruk dari kondisi elo?

For everyone whose saying this in mind, F— you.

Pertama, saya setiap hari bersyukur atas kehidupan yang saya punya.

Kedua, pernah tidak sih berpikir bahwa ada moral yang dilanggar saat kita membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kaum-kaum marginal? Seolah penderitaan mereka kurang cukup dan mesti ditambah-tambah dengan rasa syukur kita terhadap mereka? Seolah, kita saat yang tepat untuk bersyukur adalah saat saya melihat langsung seseorang menyapu jalan, menjual koran, mengais barang/makanan di tempat pembuangan.

Now you get it what the F word was for? We are getting somewhere.

Saya harap tulisan ini bisa melawan rasa prejudice dan bitter siapa saja yang membacanya. Poin saya adalah, jika hal-hal terkait bunuh diri ini umpamanya menimpa siapa saja orang-orang di dekat Anda, mohon diingat, yang mereka butuhkan bukanlah diberi sebuah cap dan/atau dinasihati. Pun dikasihani.

Coba untuk mendengarkan luka mereka. Coba untuk memahami luka mereka. Dan kalau bisa, bimbing mereka untuk keluar dari luka-luka tadi. Tapi kalau tidak bisa, kehadiranmu di samping mereka sudah sangat membantu. Tidak perlu lagi ditambah reaksi,

Oh kalau segini doang nggak akan bisa mati, mas.

Karena hal itu, malah menambah keinginan mereka saya untuk tetap, maaf, mati.

Selamat meneruskan hidup

Advertisements

6 thoughts on “Sepenggal Kisah Jagal

  1. Beberapa kali pernah ada di posisi saat seseorang mau bunuh diri dan aku bagian yang mencoba ‘menenangkannya’. Alhamdulillah, para ‘pelaku’ sampai sekarang masih hidup dan terlihat lebih tenang dan bahagia. Cuma mereka belom tau aja kalo orang yang ‘nenangin’ mereka dulu sebenernya pengen ikutan loncat dari balkon lantai 4 juga LOL

    1. Sebenarnya aku juga begitu kok, bangBen. Pernah berpikir apa aku terlalu egois untuk menghalang-halangi temanku untuk mati, toh dialah satu-satunya orang yang punya kuasa terhadap hidup dirinya sendiri. Karena sebenarnya pada saat itu, akulah yang belum siap kehilangan dia.

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s