Kisah Kasih di Awal Usia Bekerja

Kepada ia yang tidak boleh disebutkan namanya, terima kasih..

Semua dari kita mungkin tahu bagaimana beratnya menjalin hubungan cinta. Semua itu membutuhkan komitmen, waktu, uang, dan tenaga (namun hanya poin ketiga yang bisa dinilai jumlah pastinya berapa). Kisah ini saya tuliskan setelah mendapat izin dari satu pihak bersangkutan, si belia yang baru saja memasuki dunia kerja.

Ia menjalin hubungan dengan anak kuliahan, dengan SKS berkisar di angka dua puluhan, belum ditambah dengan laporan praktikum, tugas, waktu bersenang-senang, dan komitmen untuk tampil prima dengan cara berdandan. Sebelum jadian, anak kuliahan bilang begini:

Dari sepuluh (saya ulangi SEPULUH) cowok yang deketin aku, mamaku setujunya sama kamu.

Ia yang Tidak Boleh Disebutkan Namanya (IYTBDN) tidak mencerna jelas kata MAMAKU SETUJUNYA SAMA KAMU karena spekulasi saya, ia sedang dimabuk asmara. Perhatian, saat menulis dimabuk asmara saya juga bergidik sedikit, jadi Anda yang membaca tidak benar-benar sendirian.

IYTBDN hanya mendengar kata SEPULUH. Melalui kata itu, alam bawah sadarnya mengatakan bahwa dialah bibit unggulan. Tidak cukup fakta untuk memasuki dunia saja ia sudah mengalahkan jutaan sel sperma, ia masih butuh pengakuan lain dari seseorang yang spesial (baginya, dahulu kala) *bahwa dialah yang ingin dipilih menjadi teman dalam mejalani kesehariannya.

..atau cara masuk akal lain untuk menyebutnya, *bahwa dialah yang dipilih mama anak kuliahan tadi untuk menjadi teman dalam menjalani keseharian anaknya.

Singkat cerita, mereka jadian. Yeay for love? Let me guide you there.

Saat menjalani hubungan, dengan dua kesibukan yang bertolak belakang, tidak banyak kemesraan yang bisa disampaikan. Kalau boleh saya tebak, dua sisi yang terjadi adalah begini;

Saat IYTBDN mengeluhkan kerjaannya, anak kuliahan hanya akan bilang

Sabar aja toh.

Sebaliknya, saat anak kuliahan mengeluhkan tentang jutaan praktikum yang dijalaninya, respon IYTBDN adalah

Ya semangat aja.

— Detail di atas tentu hasil karangan bebas, kedua belah pihak tidak cerita apa-apa tentang hal ini, pun imajinasi liar saya tidak cukup pintar untuk menebak komunikasi macam apa yang bisa terbangun dalam keseharian mereka. Berapa banyak kecup dan peluk digital yang telah terumbar, tidak ada yang pernah tahu. Bahkan kedua belah pihak tidak pernah menghitung itu.

Mari langsung saya antarkan saja menuju di mana musibah itu mulai mengambil peran.

Saat IYTBDN mengirimkan hadiah lewat jasa perantara dan tinggal menunggu hari saja sampai akhirnya paket kiriman tiba ke mana ia harusnya tiba, anak kuliahan tiba-tiba mengirimkan pesan ini,

Kalau ada orang yang mau jujur tentang perasaannya, tapi itu menyakitkan bagaimana?

I KNOW RIGHT?!

Kalau kisah ini diteruskan, lamanan ini hanya akan dibubuhi kisah opera sabun yang bisa Anda dapatkan di torrent-torrent terdekat. Jadi izinkan saja saya memberi tahu apa isi paket itu.

Itu adalah bantal putih polos yang bertuliskan nama IYTBDN yang bersanding dengan nama si anak kuliahan. Tulisan nama tadi dijahit sendiri oleh pihak yang menjadi korban. Estimasi paket akan sampai adalah keesokan pagi setelah kejujuran tadi tersampaikan.

Selesai.

Kalau ditanya pendapat pribadi, saya masih percaya kok cinta itu ada. Tidak benar-benar ada formula yang benar dalam menilainya karena cinta,

bukan ilmu eksakta.

Selamat meneruskan hidup,

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Kasih di Awal Usia Bekerja

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s