Saya Sudah Tidak Punya Orangtua dan Itu Tidak Mengapa

Saya … sejujurnya butuh beberapa detik untuk melanjutkan kalimat ini, sudah tidak punya orangtua dan saya lupa bagaimana rasanya kehadiran mereka di kehidupan saya, yang, sedang berjalan ini. Biasanya saya akan mengatakan hal-hal semacam ini ke orang-orang yang saya putuskan kelak akan menjadi teman saya. Atau hampir jadi teman, sebelum akhirnya mereka pergi duluan. Hahaha.

Maksud saya bukan ingin mengundang iba, tetapi, saya pikir, saya ingin menginformasikan bahwa ada unsur “itu” sehingga terbentuklah saya yang sekarang ini. Di benak saya orang-orang akan menyalahkan nggak pernah dikasih tahu orangtuanya kalik tuh untuk setiap peri kesalahan yang saya lakukan. Dan saya hanya tidak mau hal itu terjadi. Saya tidak ingin orangtua saya yang sudah mati disalahkan atas segala kesalahan yang saya perbuat di muka bumi ini. Namun belakang, saya sadar bahwa saya berlebihan. Hahaha.

Saya men-judge diri ini lebih sering ketimbang yang orang-orang lakukan kepada saya.

Alih-alih mendapat reaksi itu, mau tidak mau orang-orang akan mengatakan; 1) I’m sorry to hear that; 2) I’m sorry for your lost dan daftar ini akan berlanjut entah sampai kapan. Kemudian saya akan mengalami kebingungan sekitar dua detik dan merespon It’s okay, not your fault though. Mungkin di lain waktu saya perlu memperbarui respon selanjutnya karena jujur saja, saya capek. Capek harus mengalami hal yang berulang-ulang dan memberi respon yang berulang-ulang.

Sebenarnya saya ingin menulis ini sebabnya karena post dari linimasa yang satu ini:

http://linimasa.com/2014/12/13/kukenal-sosok-wanita-yang-jarang-sekali-berdoa/

Ibu saya dulu, juga seperti itu. Apa yang digambarkan di situ bisa sepenuhnya sama persis mirip (udah mas) dengan Ibu saya dulu. Ia pekerja keras. Bedanya, ia gemar berdoa. Dulu saya kerap mendapati ia memaksa melek di pagi buta, hanya untuk berdoa. Hidupnya digantungkan lewat doa. Um apa lagi, ya.

Tuhkan saya nggak ingat apa-apa.

Kalau boleh jujur saya agak bersyukur juga sih orangtua saya meninggal. Hanya dengan cara itu sepertinya saya bisa belajar macam-macam. Banyak kesempatan datang saat mereka sudah tidak ada. Banyak pula kesengsaraan datang saat mereka tiada. It’s, you know, equally fair.

Psikolog saya pernah bilang kalau kesedihan paling hakiki adalah kesedihan yang tidak bisa ditangisi. Setelah mendengar itu saya malah ketakutan dan mengajukan pertanyaan lanjutan, “Is it dangerous for me to have felt that kind of sadness?” Dia tidak memproduksi bahkan sebuah kata dari mulutnya, hanya senyum getir dan sedikit anggukan. Kalau dipikir-pikir ada benarnya. Itu berimbas pada saya, yang saat ini tidak bisa merasakan jenis kesedihan yang orang di sekitar saya sedang alami. Alam bawah sadar saya semacam menginformasikan ah itu nggak seberapa, gue pernah menderita lebih dari itu, diem deh lo. Saya tidak sama sekali bangga akan hal ini. Malah saya pengin bisa menangis kalau orang di depan saya lagi cerita yang sedih-sedih. Tapi saya nggak bisa, maaf ya. Jadi kalau kiranya kamu yang sedang membaca ini bisa bikin saya menangis, ketemu yuk! I’m quite serious. :)

Lalu biarlah ini menutup pembicaraan kita dan ya, saya baik-baik saja.

Apa yang Ingin Saya Bilang Jika Bertemu Mama

Tidak ada.

Saya lupa bagaimana rupa, tingkah, dan pola pikirnya.

Mungkin jika bertemu lagi saya hanya akan menyapanya, “hai ma,” kemudian pembicaraan berlanjut dengan membahas hal-hal di masa lampau.

..ketika percakapan berhenti, saya mungkin ingin izin pamit diri. Meninggalkan pesan perpisahan seperti, “sampai bertemu lagi!”

Dan kembali meneruskan kehidupan ini.

Advertisements

2 thoughts on “Saya Sudah Tidak Punya Orangtua dan Itu Tidak Mengapa

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s