Seputar Kromosom X&Y

Fiuh, I’m reaching this point.

Sebenarnya saya tidak pernah membayangkan akan membuka hal ini di tempat ini, akan tetapi, saya perlu memetakan hal-hal yang berputar di kepala saya dan ini termasuk ke dalam salah satunya. Di kemudian hari saya akan benar-benar memublikasikan ini atau tidak; atau memublikasikan lalu menghapusnya karena saya merasa tidak nyaman; saya benar-benar tidak tahu.

Melela bukan sebuah hal baru di dunia saya. Sejauh ini saya sudah melakukannya beberapa kali ke teman-teman terdekat saya. Sebenarnya dan seharusnya ini adalah hal sederhana, ini sama saja seperti bilang ke seseorang bahwa kamu adalah orang jawa, sumatra, dsb ke orang-orang yang baru saja kamu temui di kehidupan sehari-hari. Reaksi mereka pun harusnya sesederhana itu. Mereka hanya perlu menelan informasi tadi dan tidak perlu merasa kasihan sambil memiliki pikiran di belakang kepala semacam “Wah kasian kamu akan masuk neraka,” karena percayalah, sahabat saya pernah melakukannya. Dia benar-benar takut dan kasihan karena saya akan masuk neraka. Saat menerima reaksi ini saya juga tidak perlu pergi liar dan menceramahi dia siapa orang-orang yang harusnya masuk neraka karena hal itu berada jauh di atas wewenang saya. Saya tahu reaksi dia berdasar atas pengetahuan yang ia miliki dan kepeduliannya kepada saya bahwa ia tidak akan tega melihat teman baiknya masuk neraka. Saat itu saya hanya tertawa dan benar-benar ingin memeluknya tetapi saya tidak melakukan bagian kedua.

Di sini saya tidak sedang mencoba membeberkan proses melela saya dan menyarankan bahwa kalian juga harus melakukannya, tidak. Malah saya sarankan jangan lakukan kalau tidak punya alasan yang perlu. Jangan lakukan kalau tidak perlu. Ya, sesederhana itu.

Saya justru sedang di dalam tahap kebingungan melihat orang-orang yang saya kenal dekat dan keputusan-keputusan hidup yang mereka ambil. Walaupun hal ini adalah isu lama, yang sudah berkali-kali saya dengar lewat beberapa orang, tetapi ini akan menjadi lain saat sudah terjadi kepada orang-orang yang saya kenal secara pribadi. Ketika seseorang yang kamu kenal penuh pendirian dan rela menguburkan pendirian mereka karena terbentur tekanan sosial. Saya tidak yakin menggunakan istilah tekanan sosial dengan benar, but I’m trying to go with that. Ia yang saya kenal dekat akhirnya memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan. Bagi sebagian orang, saya paham, mereka akan merespon dengan “akhirnya ia kembali ke jalan yang ‘benar’,” namun saya juga memiliki sudut pandang bahwa dia sedang melakukan hal yang bukan dia sama sekali. Calon istrinya tidak tahu siapa dia, saya tidak bisa menggunakan kata ‘sebenarnya’ karena saya juga mulai tidak mengerti siapa dia sebenarnya. Belakangan saya tahu dia juga tetap berhubungan dengan pria lain di luar pengetahuan istrinya. Saya ingin seketika menghentikan proses menulis ini dan membiarkan siapa saja yang membaca ini mengambil kesimpulan sendiri. Tetapi saya tidak bisa. Hal ini bukanlah fenomena baru dan akan terus terjadi.

KARENA

kita hidup di lingkungan sosial yang akan mempertanyakan dengan keras saat seseorang tidak ingin memiliki keturunan. Saat naluri kita akan bertanya “Kok belum isi, sih?” kepada sepasang perkawinan yang telah tujuh tahun menjalankan pernikahan mereka.

Saya malah tidak bisa membayangkan betapa lelahnya orangtua asuh saya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu bahkan hingga hari ini, di usia pernikahan mereka menginjak usia kepala tiga. Saya tahu penasaran tadi lahir dari rasa kepedulian. Namun bukan sekali-dua-kali saya menemukan kepedulian tadi hanya sebuah topeng yang dipasangkan kepada rasa penasaran yang tidak bertanggung jawab. Seolah peduli padahal tidak. Hanya mencari informasi untuk disebarluaskan. Bahan gosipan, kalau boleh disebut demikian.

Saya hanya bisa menyarankan untuk meninggalkan seseorang dengan privasi mereka masing-masing. Tak perlu repot-repot untuk mengusiknya karena memang kita tidak memiliki kuasa atas itu. Sama sekali tidak. Baru-baru ini saya berhasil ditampar oleh perihal yang sama. Kepada teman saya yang sebentar lagi akan menikah tadi, sikap saya yang seharusnya adalah membiarkan ia dan keputusan hidupnya. Saya tidak punya satu cuil idepun bagaimana beratnya hal-hal berjalan di hidupnya hingga melahirkan keputusan final yang akan ia jalani sekarang. Biarlah seseorang merdeka dengan pilihan hidupnya. Mau tidak mau lingkungan akan mencoba menjajahnya, iya, mau tidak mau. Namun hal terjauh yang bisa kita lakukan adalah tidak ikut-ikutan melakukan hal yang sama.

Biarkan seseorang merdeka di atas kehidupan mereka sendiri. Biarkan mereka. Izinkan mereka.

Selamat menjalani hidup.

Advertisements

2 thoughts on “Seputar Kromosom X&Y

    1. Menurut Rio Damar melalui melela.org-nya, Melela bisa diartikan seperti coming out dalam bahasa Inggris. Hahaha. Aku sih percaya saja. Pemuja setia soalnya. 🙈

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s