Racau

Kadang-kadang, saya membayangkan dunia sudah terlalu ramai. Sampai-sampai tidak bisa lagi saya temui, sudut yang paling nyaman buat saya untuk menyendiri. Izinkan saya berceloteh tanpa tujuan macam ini. Sudah lama saya tidak melakukannya, rindu juga.

Di pikiran saya, sewaktu saya potong rambut, saya bersebelahan dengan seorang kakek yang kira-kira berusia tidak kurang dari lima puluh lima. Dengan sedikit rambut putih yang sudah memenuhi permukaan tempurung kepalanya, entah apa yang memicunya datang ke tempat penyedikit rambut semacam ini, pikir saya. Tak bisa saya henti memperhatikan apa yang ingin ia capai di sesi potong rambutnya kali ini, diam-diam saya mengarahkan dua bola mata saya ke arahnya.

Dirapikan saja ya, mas. Tidak usah disemir hitam.” Ia sedikit tertawa. Tertawanya bersambut dengan petugas cukur rambut yang menjadi penanggung jawabnya kala itu. Satu hal pasti yang muncul di kepala saya adalah, perasaan itu sudah rapi. Mau apa lagi? Tak saya hiraukan racauan itu, perhatian saya tetap tertuju ke awal mula.

Setelah selesai dengan sesi potong rambutnya, juru cukur-nya (?) mengarahkan cermin ke belakang pundak kakek tadi, menandakan kalau kakek tidak puas dengan hasil potongan di sisi belakangnya, kakek bisa menyampaikan komplainnya dalam bentuk … yang saya tidak tahu apa. Kakek tadi kemudian tersenyum dan mengangguk berulang-ulang, menandakan ia puas dengan apa yang juru cukurnya telah lakukan. Senyumnya lebar dan gemilang. Bikin nyaman untuk terus diperhatikan. Seolah itu adalah senyuman paling sempurna yang pernah saya lihat sepanjang masa hidup saya.

Senyumnya menular ke wajah saya. Lama saya ikut tersenyum. Kemudian satu hal melintas di kepala,

Dapatkah saya tersenyum selebar itu di masa saya tua nanti? Senyum akibat rambut putih saya telah dibuat rapi oleh orang asing yang saya percaya? Lebih lagi, semudah itukah saya percaya dengan orang-orang di masa saya tua? Atau saya hanya menjadi makhluk super-bitter yang tidak akan merelakan secuil rasa percaya pun hinggap di semua umat manusia?

Saya pertahankan senyum tadi. Saya nikmati. Hingga akhirnya ia pergi, tak tahu ke mana. Sama tak tahunya dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Apakah akan menemui jawaban rinci. Saya hanya bisa terus bertanya dan menikmati.

Semuanya.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s