Sesak Dunia

Kami berdua bisa dibilang datang dari titik yang sama namun ia lebih dahulu jalannya. Kalau di istilah perlombaan adu kecepatan, mungkin bisa dibilang seperti ia colong start duluan. Umurnya hampir dua kali lipat dari umur saya. Tapi sudahlah, belakangan saya sudah tidak lagi memedulikan umur. Umur bagi saya hanya semacam angka pengecoh yang dapat memberi kita petunjuk untuk memercayakan satu atau dua hal kepada seseorang, ternyata setelah beberapa pekan, dugaan kita benar-benar salah adanya. Ia beristri satu dan beranak dua. Datang dari keluarga sederhana, bergaya biasa, namun cukup sadar penampilan jua. Lipatan otot di lengan tangannya berkata banyak soal berapa banyak waktu yang telah ia habiskan untuk mengangkat puluhan kilo barbel di pusat kebugaraan. Indoor atau outdoor mana saya tahu itu.

Kemarin lusa, kami sempat dipertemukan dalam satu kesempatan. Ia mengajak saya berkenalan duluan. “Masih belajar, mas?” Bukanya. “Uhm. Tidak. Sedang tidak bisa tidur. Jadi membaca ini sambil nunggu mengantuk,” balas saya sambil mengangkat cover buku biografi Einstein yang sedang mati-matian untuk saya selesaikan. Kemudian dialog kami hanya berjalan datar cenderung kesasar.

Mas kuliah di sini?” Tanyanya lagi karena ia merasa sudah kehabisan bahan bicara. “Iya.” Jawab saya singkat seolah menegaskan bahwa saya ingin tetap tenang dan terus membaca. “Semester berapa?” “Sudah lulus.” Kemudian ia curhat panjang lebar seolah saya berharap untuk tahu tentang kebiasaan anak, istri, orangtua, dan bahkan mertuanya. Orang-orang memang kadang-kadang hanya butuh teman bicara. Baiklah saya ladeni saja.

Berkat menjadi pendengar pura-pura yang baik, saya dapat tahu bahwa mas ini lulusan STAN tahun 2000 atau 2001, jujur saya lupa. Ia menempuh pendidikan di Manado dan sempat ditempatkan tugas di Papua bagian Utara. Ia datang ke Yogyakarta dalam rangka ujian kenaikan pangkat dari golongan dua ke golongan tiga. Ia berkelakar lebar tentang kisah hidupnya (which I didn’t ask in the first place) dan segala macam pengalamannya di dunia kerja, seolah ingin memberi saya gambaran tentang masa depan macam apa yang akan saya hadapi kelak. Banyak sekali hal yang ia lontarkan, namun kalau boleh saya beri ringkasan panjang isinya hanya seperti ini: semuaaaaaaaaaaaaaanyaaaaaaaaaaaaaaaa hanyaaaaaaaaaaaaaaaa tentaaaaaaaaaaaaaaaang keluhaaaaaaaaaaaaaaaaaan. Ia mengeluh karena diperlakukan seperti buruh selama hampir lima belas tahun ia mengabdi kepada negara. Saya bisa apa kecuali mengangguk dan memasang wajah antusias padahal tidak?

Dialog kami malam itu berjalan hingga pukul satu pagi. Ia bisa saja meneruskan kalau saya tidak menutup malam yang sungguh panjaaaaaaaang itu dengan kalimat, “Sudah dulu ya, mas. Mau ke kamar. Ngantuk.”

Dua hari berselang, hidup saya berjalan tenang. Hingga pada akhirnya kesempatan lain mempertemukan saya dan mas-Sumpah-saya-lupa-namanya ini. Ia baru saja menyelesaikan ujian. Cerita lagi? Tentu saja!

Kali ini keluhannya lain. Ia mengeluh tentang sulitnya soal ujian kenaikan pangkat ini. Ia berkata dan saya kutip, “Ini soal TPAnya kayak soal TPA masuk magister teknik ITB!!” Mungkin bubuhan dua tanda-seru itu cukup menggambarkan betapa penuh penekanannya mas tadi berbicara. Saya bisa apa kecuali mengangguk dan mendengarkan dengan pura-pura penuh perhatian. Ia menilai kenaikan pangkat dipersulit dan bla dan bla. Nasibnya makin dipersulit dan bla dan bla. Kemudian ia mulai bertanya pendapat saya. Saya yang masih minim pengalaman ini hanya dapat memberi argumen ringan semacam, “Saya kuliah hanya satu tahun, masTidak bayar. Malah saya yang dibayar. Nanti diberi pekerjaan yang cukup layak. Rasanya saya belum sanggup untuk mengeluh.”

Ia diam. Saya diam. Kami berdua sama-sama diam.

Memang dan kadang, dunia ini hanya disesaki oleh orang-orang yang lupa bersyukur.

Selamat meneruskan hidup,

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s