Wibelum!

Kuliah dan sampai hingga titik wisuda tidak pernah menjadi realitas yang benar-benar saya percaya bahwa itu semua bisa terjadi di hidup saya. Banyak hal pencegah yang terus-menerus datang untuk menggagalkan itu semua sampai hari itu, wisuda itu, datang juga tanggal 6 November kemarin. Saya bingung untuk menggambarkan apa yang saya rasakan saat dan setelah mengalami hal itu. Izinkan saya untuk mengurai itu semua di sini.

Hal pertama yang saya pikirkan adalah biaya wisuda. Man, it was like 1.1M within a day. My cup of tea doesn’t agree with that. Saya bukan datang dari zona ekonomi yang dengan tanpa pikir panjang bisa menghabiskan uang sebanyak itu untuk serimonial yang bahkan berlangsung selama tidak lebih dari empat jam. Namun berkat pertolongan malaikat penyelamat, hey, you, it’s was really happened. Sebagai informasi, dalam rincian biaya wisuda anggaran konsumsi adalah sebesar IDR400,000. Percaya dan yakinlah, ini yang saya dapat dari uang konsumsi tersebut: Nasi kotak. Dua buah. That’s it.

Setelah hal di atas rampung terpikirkan, ini hal lain yang mengganggu saya. Pendamping wisuda. Hal ini mudah saja bagi mereka yang masih memiliki orangtua lengkap sempurna, sayangnya hal itu tidak terjadi pada saya. Serius, ini sempat menjadi pertimbangan siapa orang yang benar-benar “pantas” untuk saya jadikan pendamping wisuda. Coret pilihan pasangan, dengan kondisi seperti ini, I don’t know wheter I’m capable of meeting someone who could really understand me and so I could understand him. Sampai akhirnya, saya meminta bapak dan ibuk kos untuk datang ke wisuda saya sebagai dua pasang pendamping yang saya pikir “pantas” untuk itu. Mereka menjadi sosok pengganti orangtua paling mendekati selama menjalani proses perkuliahan. Dan hal lain yang ingin saya harap maklumi, mesti pertanyaan “Anaknya siapa, Pak, Buk?” atau “Orangtuanya mana, Dik?” Akan memberatkan kedua pihak, saya dan bapak-ibuk kos untuk menjawab, saya benar-benar meminta maaf kepada mereka apabila hal-hal tersebut benar-benar terjadi kepada mereka. Saya sudah imun dengan hal-hal semacam itu.

Anyway, 6 November lalu, hal itu, wisuda itu benar-benar terjadi. Sumpah saya tidak senang ataupun sedih. Sebelumnya saya sudah latihan untuk tidak menangis saat prosesi wisuda berlangsung and I did not. Entahlah. Saya mungkin sudah mati rasa atau pula tidak. Saya tidak bisa pasti menentukan jenis manusia macam apa saya ini. Namun ini yang saya benar-benar percaya: Adalah doa dan percaya bahwa semua hal yang tidak mungkin kaupercaya kau bisa itu pada akhirnya kau akan bisa. Saya tidak menyebut bahwa saya sudah bekerja cukup keras untuk meraih apa yang sudah saya raih selama ini. Saya hanya merasa beruntung atas apa yang telah terjadi di kehidupan saya.

Gosh now I am crying.

Untuk kalian yang membaca ini, percaya bahwa kalian bisa mencapai apa yang ingin kalian capai. Itu saja.

Tabik.

Berlin, I wish we both could meet.

Koleksi Pribadi.
Koleksi Pribadi.
Advertisements

6 thoughts on “Wibelum!

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s