@HashtagOne

Mungkin lewat post sejenis ini saya akan mengabadikan sekelumit unek yang saya renungkan kemarin, hari ini, besok lusa, atau bahkan abad mendatang. Beberapa hal baru menghampiri, mereka datang sambil memberi salam atau tidak sedikit yang datang tanpa unggah-ungguh seolah meminta sebuah respon what the heck do you want. Ya inilah hidup. Omong-omong, inilah mereka:

1. I love numbersThat’s why I made this post turned to be like this.

2. Saya sudah–tanda kutip–memiliki psikolog pribadi. Hal ini sungguh menenangkan. Saya malah merasa, semua orang mesti menjumpai psikolog setidaknya enam bulan sekali. Banyak dari mereka–tanda kutip–manusia yang–tanda kutip–sakit jiwanya, namun sebab satu dan lain hal mereka entah bagaimana merasa baik-baik saja. Ada satu ton lebih beban tak terlihat yang mereka–tanda ku..I’m tired doing this–manusia bawa di atas/dalam pundak mereka. Manusia tidak akan kuat untuk menanggung semua beban itu sendiri. Untuk itulah mereka butuh psikolog pribadi. Benar atau tidak, you tell me. Setelah menjumpai psikolog tersebut, saya benar-benar merasa ringan. Pundak saya tidak lagi dipenuhi ton-ton–kalau boleh meminjam sebuah istilah–log yang memenuhi hidup saya selama ini. Satu jam pertemuan saya kemarin (yang rasanya seperti satu tahun itu) menghasilkan tiga hal ini; 1) Cukup amati, jangan ditambah atau dikurang; 2) Willingness and readiness; 3) Tentukan tujuan hidupmu. Sekarang. Kalau tidak, semua orang akan melakukan hal itu untukmu. Besok.

(See?)

3. Teman saya yang berjenis kelamin perempuan, baru saja tiba di –tanda kutip–tanah suci. Kalau boleh mengambil simpul berdasar data yang secara sukarela ia kabarkan sendiri ke berbagai corong sosial medianya, inilah yang ia lakukan; Check-in digital menandakan ia baru saja tiba di rumah @allah (?) > Mengambil enam selfie dan tujuh selfie yang ia gabung ke dalam satu .jpeg dengan caption–I cannot even tell > Ribuan (it’s a hyperbole) hashtag baru saja ia lahirkan tanpa sebuah prosesi medis > dan satu pertanyaan besar yang saya timbulkan sendiri di dalam tempurung kepala pribadi “KE SANA BUAT DOA, KAN? IYA, KAN?”

.

Untuk tetap menjaga kehadiran perasaan positif itu, mungkin pertanyaan tadi datangnya dari rasa sirik saya saja yang belum bisa jalan-jalan ke mana-mana. Lagi pula, saya bukanlah Tuhannya. Siapa saya yang bisa menilai tindakannya dengan label B atau A.

4. I love Sloan Sabbith. 

Didapat dari sini: http://bit.ly/1r0XtB0.
Didapat dari sini: http://bit.ly/1r0XtB0.

I want to become an economist. I’m not saying saying this because of her, this isn’t something what fiction can empower–you know what–this is because of her. And my beloved professor at college. I love my life.

5. Saya kangen perasaan memiliki orangtua.

That’s it for @HashtagOne. See you at another @Hashtag. Look what WordPress has sent me today:

Koleksi Pribadi.
Koleksi Pribadi.
Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s