Yogyakarta – Surakarta dengan Sepeda

Saya selalu percaya bahwa hidup hanya berisi rentetan kebetulan-kebetulan yang kadang tidak menyenangkan, menyenangkan, dan selebihnya terserah keputusan Anda ingin menganggapnya bagaimana. Namun di hidup saya, kebetulan-kebetulan tadi cenderung berkulit menyenangkan. Pengalaman bersepeda Yogyakarta – Surakarta yang baru saja saya alami tidak akan terjadi jika Jokowi tidak menang dalam pemilihan presiden kemarin. Yes, it doesn’t make sense now but it is going to.

Saya tinggal di rumah seorang bapak RT yang sangat aktif mengelola perkampungannya. Banyak sekali kegiatan bermasyarakat yang sering lahir dari kepala Bapak (saya memanggilnya Bapak karena memang beliau sudah saya anggap sebagai ayah saya sendiri). Bapak adalah pencetus ide brilian bahwa setiap tahun akan ada kejuaraan dengan tema Rumah Sehat, jadi akan ada tim penilai dari puskesmas untuk menilai rumah mana di RT Bapak yang memiliki sistem pembuangan air paling baik, pengelolaan sampah terbaik, dsb. Banyak lagi kegiatan-kegiatan lain yang tujuannya adalah memasyarakatan masyarakat.

Omong-omong, kegiatan sepeda Yogyakarta – Surakarta ini lahir karena sebuah nazar dari warga-warga perkampungan jika Jokowi – JK menang dalam pilpres kemarin, maka satu warga kampung akan bersepeda Yogyakarta – Surakarta. Aneh, memang. But, we’re doing it for fun. Dengan hasil kemenangan Jokowi lalu, maka nazar itu perlu dilaksanakan.

Here we come.

Bersepeda dimulai pukul 4.30, akan dibagi dua tim. Tim pertama yang bersepeda dari Yogyakarta dan Tim kedua menyusul dengan mobil bersepeda dari Klaten. Kebetulan saya masih banyak semangat, jadi saya memilih ikut Tim Pertama.

Dokumen pribadi.
Dokumen pribadi.

Istirahat dilakukan di tiga titik. Saya lupa di mana. Kurang lebih seperti ini:

Titik Pertama.
Titik Pertama.
Titik Kedua.
Titik Kedua.
Titik Ketiga.
Titik Ketiga.

Selama perjalanan, saya sempat merekam perjalanan dengan Endomondo:

Jalur Tempuh Yogyakarta - Surakarta.
Jalur Tempuh Yogyakarta – Surakarta.
Graph.
Graph.
Lap Times.
Lap Times.

That’s it. Ketika sampai di Solo, saya diajak main ke depan pagar rumah Joko Widodo.

Sedang di (depan) rumah Jokowi.
Sedang di (depan) rumah Jokowi.

Dan diberi kudapan nasi merah pecel:

Nasi Merah Pecel, that's news.
Nasi Merah Pecel, that’s news.

Happy tummy = happy life.

“Life happens when you do different things everyday.” — unknown

Selamat meneruskan hidup,

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s