Balai Diklat Keuangan Yogyakarta

[saya berdiri di depan banyak orang dan mereka semua menyimpan harap kepada saya untuk berkata sepatah atau dwipatah kata]

Ada satu hal, tidak, banyak hal yang telah saya pelajari selama mengalami gerus pendidikan di tempat ini. Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Ya, mungkin sebagian dari kalian tahu bahwa saya adalah manusia dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif terendah di kelas. Tetapi kalau boleh menyita menit-menit kalian untuk menjelaskan kenapa, izinkan saya melakukannya.

Mungkin yang pertama, saya tidak menganggap nilai itu penting. Ya, kalian boleh memutar bola mata mendengar alasan klise barusan. Saya tidak percaya bahwa belajar bisa diukur dengan nilai. Lebih lagi, saya percaya bahwa nilai Indeks Prestasi Kumulatif hanya akan mengantarkan seseorang menuju meja wawancara sebuah perusahaan besar, berhubung saya sedang menempuh sekolah kedinasan yang nantinya saya tidak perlu diwawancara oleh siapa-siapa untuk mendapat pekerjaan, jadi, you know where I am going with this right? Saya pula merasa beruntung bahwa saya adalah tipe manusia yang–rasanya–akan terus belajar sampai kapan pun tanpa diembel-embeli sebuah nilai A, B, dan seterusnya. Saya sangat senang dan menikmati proses belajar tetapi entah kenapa saya tidak pernah suka dengan yang namanya ujian. Ya, silakan putar bola mata kalian sekarang. Entahlah. Saya mungkin memang aneh dan kalian bukan orang pertama yang beranggapan demikian.

Kedua, you guys hav..uhm, kalian tidak memiliki ide apa yang sedang saya alami dan telah alami saat masa pendidikan berlangsung. Saya datang dari struggling family. Dan tolong hormati keputusan saya untuk tetap menyimpan rapat-rapat perihal ini.

Yang ketiga dan biarkan ini menjadi yang terakhir, entah sejak kapan saya berucap menggunakan konsep poin demi poin seperti ini, well, saya telah lama kehilangan sifat kompetitif saya. Dahulu sekali, saat saya duduk di bangku sekolah menengah, saya bersifat demikian dengan level–kalau saya flashback–itu mengerikan. Saya tidak suka melihat ada seseorang di atas saya. Ya, menyebalkan memang. Fortunately, I get used to it. Justru anehnya (lagi), saat banyak orang melakukan sesuatu saya malah enggan untuk melakukan itu. Saya belum bisa menyimpulkan apa-apa terkait hal ini. Mungkin lain kali saya butuh bertemu psikolog dan mendiskusikan problem ini.

Tetapi hal yang benar-benar ingin saya sampaikan, saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikan di lingkungan Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Di sini, saya dan kalian memiliki pengajar-pengajar luar biasa. Kalau boleh menyebut nama, tolong izinkan saya, PakRoy, Andalah juaranya. Terima kasih karena telah memasukkan kerangka berpikir di bidang perpajakan ke dalam kepala saya dan teman-teman. PakHikmah, jarang sekali ada orang yang penuh dengan ilmu dan rendah hati di saat yang bersamaan. Maaf bila sok tahu, tetapi kesan singkat itulah yang saya tangkap. BukJamila, izinkan saya memublikasi jawaban atas pertanyaan saya, “Mengapa ibuk bisa terlihat percaya diri setiap saat? Saya ingin seperti itu.” lalu ibuk bilang dan saya masih ingat sekali, “Kalau menurut dosen pembimbing tesis saya, sifat ini adalah kelemahan saya.” Saat itu saya tidak bisa merespon apa-apa karena saya perlu waktu untuk memroses itu semua. Dan saya sekarang berani bilang, tidak, sifat itu bukanlah kelemahan, justru kekuatanmu ada di situ, Buk. Tetaplah menjadi demikian. IbukAniek, ibuk merupakan pendengar yang baik. Di dunia ini sudah banyak pembicara yang baik, tetapi jarang sekali jenis manusia yang bersedia menjadikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Dunia ini membutuhkan ibuk. PakRoberto, saya awalnya kehabisan kata-kata untuk menjabarkan seperti apa bapak di mata saya tetapi saya tidak boleh. Saya harus punya kata-kata. Here it comes, bapak adalah role model saya dan mungkin kami semua. Tutur kata yang tak pernah keluar percuma dan kemampuan baik bapak dalam membaca data kemudian menjadikannya sebuah fakta, semoga sifat itu bisa menular ke kami semua. Terima kasih. PakBudi saya salut dengan salah satu gaya hidup bapak. PakBasit, Anda menyenangkan. Dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada pengajar-pengajar lain, kalian pasti adalah orang-orang luar biasa. Sayang sekali takdir hidup tidak sempat mempertemukan kita.

Wah, saya ternyata sudah banyak bicara. Mungkin bisa saya akhiri dengan hal-hal manis tetapi saya bingung apa.

Mungkin ini, di salah satu pembicaraan, teman saya seorang filsuf jadi-jadian pernah bilang. Hidup itu seperti roda dan di dalam roda tersebut hanya ada dua hal. Usai dan memulai. Mungkin kita telah usai menjalani satu tahun kebelakang tetapi mari pandang sisi roda satunya. Entah ada dunia macam apa di luar sana, perjalanan ini belumlah usai. Kita baru saja memulai.

Terima kasih. Saya akhiri. Salam.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s