Within Two Days

1. Semenjak tinggal di Yogyakarta dan membaur dengan habitat-habitat lokal yang ada, banyak yang telah saya pelajari. Salah satunya: belajar negosiasi *a la Jokowi. Saya jadi sedikit paham kenapa Jokowi pergi ke sana-ke mari dan mendengar sana-sini. Mungkin itu salah satu cara untuk memperoleh data supaya nantinya bisa ia olah, dsb. Pada dasarnya, kebanyakan orang jawa senang ngobrol. Dari sinilah itu semua berasal. Saya diajarkan untuk terlibat dalam lingkup permasalahan dan diskusi (ngobrol, red) menjadi tahap awal untuk menyelesaikan. Saya cukup senang. Satu hal yang saya sayangkan, kadang-kadang ngobrol tadi menjadi berlebihan. Misal kemarin saat hendak mulai jalan, rencana telah disusun, semua sudah siap, ngobrol tadi memakan setengah jam sebelum akhirnya saya membual dengan sedikit kesal dan sesal, “Nek kita ngobrol ra mlaku-mlaku ig.” Kemudian mereka diam dan saya merasa baru saja merusak kebahagiaan khalayak banyak. Maaf. Maafkan pula wawasan berbahasa jawa saya. (*= entah kenapa saya menyangkutpautkan ini dengan Jokowi, mungkin karena sudah Sah!, he?)

2. Menyangkut hal di atas, karena banyak mengobrol saya juga menjadi banyak mendengarkan. Hal ini ternyata menantang sekali. Untung saya sudah cukup berhasil menguasai. Kadang-kadang ketika mendengarkan, saya tidak sabar untuk membalas argumen pihak bersangkutan tetapi itu semua tidak bekerja demikian. Saya masih perlu menunggu si pihak selesai berargumen dan menyelesaikan kalimat yang disampaikan, baru giliran saya tiba untuk merespon apa yang ia bicarakan. Tapi hal ini ada jebakan, maksud saya, sering saya terjebak mendengar hanya untuk membalas apa yang pihak lain sampaikan. Belakangan, saya belajar bahwa mendengarkan ya cukup dengan mendengarkan. Tanpa pretensi apa-apa dan sebagainya. Malah saya sering mendengarkan saja tanpa ingin membalas apa pun yang manusia di depan saya sedang sampaikan. Mari belajar seni mendengarkan.

4. Jumat lalu saya pergi bersama teman-teman kelas untuk piknik di Candi Plaosan Lor. Ketika sampai ada beberapa orang asing yang sedang membersihkan candi. Rasa penasaran menolong saya untuk mengobrol bersama mereka dan saya terkejut ketika tahu bahwa mereka jauh-jauh datang dari Eropa hanya untuk membersihkan beberapa cagar budaya yang ada di Indonesia. Bernaung di organisasi di bawah UNESCO, mereka baru saja dari Borobudur untuk membersihkan area candi. Saya kagum dan malu. Sebagai gantinya, saya memberi salah seorang-yang-saya-lupa-namanya-dari-Polandia sedikit hadiah: hansaplast. “if you get hurt, use this. Thanks for doing whatever you’re doing right now.” said I.

3. Saya mencoba Paintball bersama teman-teman kos dan sangat menyenangkan. Kami namai diri sendiri The Sumaryono’s, mengambil nama bapak kos. Haha, silly. However, here it comes: 

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi

Selamat meneruskan hidup,

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s