An Untidy Thought

Didapat dari hasil pencarian gambar di Google dengan kata kunci: Untidy.

1. “Agamamu apa sih sebenarnya????????”  Tanya teman yang membuat bingung harus saya respon apa dan bagaimana. Itu keluar dari mulut teman setelah tahu bahwa saya belum solat ashar ketika jam sudah sampai pukul 17:30. Ekspresi saya tenang-tenang saja saat itu, kecemasan yang ia harapkan tidak tertampak sama sekali di sana. Itulah–saya pikir–yang membuat ia tidak puas dan bertanya hal retorika macam demikian. Ia ingin membenarkan keyakinannya atas sesuatu jadi pertanyaan tadi keluar sehingga ia–entah bagaimana–bisa merasa lebih benar atas sesuatu pula.

2. Follow-up dari hal di atas, ia meminta tangan saya di dekatkan ke korek api yang sedang ia pegang dan baru saja nyalakan. Saya hanya membelalak heran dan berusaha setengah mati (selagi saya masih hidup) untuk tetap tidak merespon dengan letupan-letupan emosi yang kurang perlu.

3. “Kamu mau masuk surga atau neraka? Tahukan api di dunia itu hanya asapnya api di neraka?” Argumennya kurang sempurna, enggan saya koreksi. Malas meladeni, pasti nanti panjang. Saya hanya menjawab, “Kalau boleh memilih, saya tidak ingin masuk ke dalam dua-duanya. *Puas?” [*= diucap di dalam hati]

4. “Kenapa? Terus kamu mau ke mana?” Haduh, ini orang sedang berlebihan energi rupanya. Ya sudah deh diladeni saja, kamar mandi juga sedang dipakai orang lain. Hitung-hitung membuang waktu selagi giliran mandi saya tiba. “Duduk-duduk di depan pintu surga boleh tidak, sih? Tapi sekali-sekali pengin juga kunjungan ke surga, beli alat-alat mandi, bahan bacaan, dsb.” “Ya nggak bolehlah!”Kata siapa?” Elephant in the room.

5. “Jadi aku nanti menemani malaikat apa itu yang jaga pintu surga?” “Ridwan” “Iya, Ridwan, menemani dia jaga pintu surga. Kali saja dia kesepian, kan lumayan ada teman ngobrolnya, aku.” Semua tertawa. Mungkin mereka berpikir saya sudah gila. Hey, kaca.

6. “Kamu kenapa merokok?” Gantian saya bertanya. Percayalah dari semua alasan yang ia beberkan, tidak ada satu hal pun yang belum pernah saya dengar dari alasan-alasan perokok lain saat disuguhi pertanyaan yang sama. Lagipula apa peduli saya. Itu uang ia sendiri yang ia habiskan untuk dibakar. Saya tertawa. Di dalam hati.

7. “Nanti kalau kamu sudah tua dan sakit-sakitan, tolong jangan mengharap perhatian lebih ya dari saya. Kalau orang lain ya terserah saja. Tolong diingat bahwa saya sudah mengingatkan sejak awal.”

8. “Kamu memang selalu tampil mengesalkan begini, ya?” Ia berbalik memberi tanya. “Menurut standar beberapa orang, ya memang demikian. Tapi menurut beberapa orang lainnya, tidak kok. Mereka nyaman-nyaman saja dengan interaksi kami selama ini. Memangnya ada apa?” “Tidak, tanya saja.” Ia mulai kehilangan argumennya. Saya beri ia sedikit senyum.

9. “Aku mandi dulu, ya. Oh iya, kamu tadi dapat salam.” “Dari siapa?” “Jari tengah.” Pergi.

10. Fiksi atau bukan, saya biarkan kalian yang memutuskan. Selamat malam.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s