Ada Apa Dengan Manusia

Pagi-pagi masih bangun, bingung mau ngapain malah memutuskan jogging sajalah.

Siap-siapnya lima belas menit. Pilih jaket, pilih celana, pilih playlist, pilih tutup kepala, pilih kaus kaki, pilih sepatu karena cuma punya satu ya pakai aja yang itu, hidup ini isinya hanya memilih untuk memilih. Uhm, mungkin cuma hidup gue yang seribet ini, banyak mau, banyak milih, banyak nolak. Ada apa dengan manusia.

Buka pintu gerbang dengan santai, ditemani lagu Tulus — Gajah. Sudah berhari-hari ini dengerin itu nggak bosan-bosan. Kalau ada istilahnya, mungkin ini disebut setia lagu. Masuk ke gang yang banyak sawahnya, ajaibnya Yogyakarta dan kampus gue adalah masih bisa lihat yang begini-begini. Di Jakarta kalau mau lihat sawah mesti buka hape, search image di google, keyword-nya: sawah. Sedih.

Sudah tiga per dua perjalanan tiba-tiba dikejer anjing, memang dasar anjing tuh anjing. Sekitar satu kilo kemudian anjingnya nyerah ngejer gue dan gue bersyukur atas itu. Napas nggak karuan, memutuskan untuk jalan saja secara santai lagipula menenangkan jantung. Sekali lagi, dasar anjing tuh anjing.

Kemudian masuk Jalan Solo. Ini jalan protokol atau dalam bahasa manusianya jalan yang sering dan/atau selalu dilewati motor, mobil, truk, bus, dan teman-teman transformer lain. Jalan sedikit demi sedikit dan memperhatikan beberapa hal.

Kok nggak ada trotoar? Manusia disuruh jalan di mana? Tengah jalan?

Bapak yang mengantarkan anaknya sekolah dengan sepeda motor matic 125 cc. Bapaknya pakai helm, anaknya di belakang tidak. Pak, sehat?

Udara masih dingin, ada ibu yang naik motor cukup kencang, kira-kira 60 kmph dan tidak mengenakan jaket. Semoga malam ini tidak kerokan.

Mau ke Indomaret, beli susu dan diharuskan menyebrang jalan. Dicari-cari tidak ada itu namanya zebra cross apalagi jembatan penyebrangan.

Masuk Indomaret, masnya mukanya jutek. Pasti habis ribut sama pacarnya atau kalah taruhan sepakbola. Memang tadi malam ada sepak bola? Tidak pedulilah.

Milih susu ultramilk coklat, high calcium; low fat. Beli dua. Satu buat diminum sambil jalan (maaf ya rosul) dan satunya diminum sambil sarapan. Satu berukuran 250 ml dan satunya berukuran 200 ml. Maka terjadilah percakapan ini. “[masnya nyecan.] [tut. tut. ini bunyi mesinnya.]” “Mas itu ukurannya beda, lho. Kok double scan?” “[masnya diem aja. mukanya tetep jutek. diulang. tetep jutek.] 8rb, mas. [dengan nada jutek]” “[bayar]” “[masnya diem aja sambil kasih kembalian]” “Terima kasih, mas.” “[diem aja]”. Semoga pacarmu bahagia, mas.

Nyebrang jalan lagi. Tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan. Hampir nabrak. Marah-marah. Sempet mikir. Ternyata gue masih waras. Ya sudah senyum saja terus pergi. Terserah elu deh.

Lewat halte TransJogja. Tiba-tiba busnya datang dan klakson karena menutupi jalan dia. Lagi nih, trotoar mana, njing, eh, transjog! Lihat asepnya malah bikin bersyukur kalau gue masih dikasih oksigen lumayan bersih.

Lewat tempat beli sarapan dan baru sadar susu yang tadi dibeli nggak ada sedotannya.

Hidup gue kenapa begini-begini amat. Kalau hidupmu gimana-gimana amat?

Advertisements

4 thoughts on “Ada Apa Dengan Manusia

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s