Tidak Boleh Lelah Mencintai Cinta

Didapat dari hasil pencarian gambar di google dengan kata kunci: kayu.
Didapat dari hasil pencarian gambar di google dengan kata kunci: kayu.

Kamu tahu saat itu kamu harus membuat keputusan. Bukan soal hidup atau mati, melainkan hanya sekadar ‘tetap di rumah?‘ atau ‘ngekos aja sekalian?’ karena tempat pendidikan barumu tidaklah sedekat itu. Keputusan tadi berakar pula kepada keputusan keputusan lainnya. Kamu paham betul bahwa mencari indekos laki-laki di Indonesia tidak pernah mudah, mereka memisahkan kata nyaman dan tidak mahal jauh di luar pikiran. Baru saja mulai memutuskan namun helaan napas sudah kaudapatkan.

Proses mencari baru saja kamu mulai. Ditemani seorang teman, kalian berdua menggunakan moda teknologi paling mumpuni pada masa itu. GPS; Gunakan Penduduk Sekitar. Satu demi satu indekos kalian jelajahi tetapi belum pula ada yang menarik hati. Kemudian kalian memutuskan untuk bertanya kepada bapak yang menjabat sebagai Rukun Tetangga (?), berharap bahwa beliau mengetahui benar-benar seluk-beluk kondisi perumahan yang dimiliki para warganya.

Permisi, pak. Boleh tanya tempat kos di sekitar sini ndak, ya?” ‘ndak‘, hanya kata itulah yang bisa kamu gunakan untuk memperhalus kalimat, lain waktu kamu harus belajar kromo inggil, nak.
Wah, kebetulan di sini ada. Mau lihat?

Kamu diantar masuk menuju kamar-kamar kosong yang kiranya dapat membuat mulutmu berkata “ya” oleh si bapak. Kamar pertama dan kedua tidak mebuat kamu tertarik karena itu terlalu nyaman dan terlalu mahal. Di kamar berikutnya mulailah terjadi kesepakatan, “ya” akhirnya mulutmu berkata demikian. Yang mengantar kamu dan temanmu untuk  bergegas pulang, berteduh atau minum es jeruk, terserah kalian, pilihan sudah dari dulu ada di tangan.

Mau minum dulu, ndak?” Bapak mulai mencurigai kalau kalian berdua kehausan.
Ndak pak, terima kasih.” Kebohongan pertama yang kaulakukan
Benar?
Iya, pak. Aku pulang dulu, ya.” Kebohongan kedua yang kaulakukan
Iya, hati-hati, ya.

(Dari dalam hati)

Sial, haus.” Kebodohan yang dihasilkan oleh kebohongan. Tenang saja, di Indonesia hal ini sering terjadi.

Sekarang kamu sedang berada di sini. Di tempat yang kamu tentukan sendiri oleh ucapan “ya” tadi. Kamu telah menyaksikan sendiri kehidupan bapak dan ibu dan banyak sekali hal yang bisa kaupetik dari sana. Kamu baru saja mengetahui bahwa bapak dan ibu tidak memiliki keturunan. Kamu mulai terheran-heran penyebab yang bisa membuat mereka sanggup bertahan sampai sejauh ini. Sebut saja itu cinta. Cinta ternyata berkekuatan. Kekuatannya bahkan bisa mengalahkan persepsi orang-orang bahwa menikah haruslah memiliki anak, bahwa menikah dan anak adalah nomor satu, bukan nomor dua, bukan nomor tiga. Bahwa menikah dan tidak punya anak sudah bisa disebut sebagai dikotomi tak terbantahkan. Haram atau melanggar norma atau apa pun yang hati kecil orang-orang sering membersit sekali atau dua kali bahkan lebih.

Bapak dan ibu menganggap kamu dan teman-teman kos lain sebagai anak sendiri, mungkin juga bukan, karena kamu hanya menebak-nebak dari semangat mereka ketika membuatkan tugas ospekmu dan teman-teman kos lainnya. Bapak dan ibu begitu tekun waktu itu, semacam tidak membolehkan kamu dan teman-teman kos kelelahan oleh semua kegiatan yang baru saja kalian alami. Bapak dan ibu juga tiap akhir bulan mengumpulkan kalian di ruang makan. Mereka menyediakan berbagai hidangan dengan tujuan tersirat, yang juga kamu sendiri berusaha menangkap: mengobrol. Ya, kamu dan teman-teman dipersatukan untuk mengobrol. Hal apa saja yang sudah kalian alami di tempat pendidikan, adakah dosen yang tidak mengenakkan, siapa saja yang baru mendapat hukuman. Apa pun itu, kamu dan teman-teman selalu bercerita dan biasanya disambut bapak dan ibu dengan sebuah atau dua buah tawa. Hidup ini membahagiakan sekali, bukan?

Kamu tidak pula perlu pusing untuk urusan laundry, bapak dan ibu sudah menyediakan bibik untuk melakukan itu. Sejauh ini kamu sendiri sudah dibuat bingung, indekos ini sangat terasa seperti rumah sendiri. Oh iya, jangan lupakan air minum, lemari pendingin, kompor gas, teve, dan fasilitas lain yang bisa kaugunakan semaumu, sesuka hatimu.

Kamu tidak boleh lupa bahwa hidup ini penuh warna. Sedih, tawa, riang, murung, marah, kecewa, puas, dan kawan-kawannya hanya degradasi yang membuat kombinasinya terasa tidak datar, tidak normal, tidak itu-itu saja, karena kamu tahu hidup bukanlah itu-itu saja. Jangan lupakan orang di sekitar dan sediakan kebahagian untuk dibagi-bagikan.

Kemudian satu lagi, jangan pernah berani menanyakan kenapa bapak dan ibu tidak memiliki keturunan. Itu bukan urusanmu.

Selamat menikmati hidup,

Advertisements

2 thoughts on “Tidak Boleh Lelah Mencintai Cinta

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s