“When Money Talks, Everybody Listens” — Anonymous

Didapat dari hasil pencarian gambar di Google dengan kata kunci: Hari Oeang.
Didapat dari hasil pencarian gambar di Google dengan kata kunci: Hari Oeang.

Kali ini saya berbicara soal uang, mohon dengarkan.
Beberapa saat yang lalu, Indonesia baru saja merayakan Hari Uang atau dalam ejaan lama menyebut Hari Oeang (dan masih dipakai frasa itu hingga sekarang). Sebagai Indonesian yang baru menetas, jujur sekali saya baru mengetahui ada peringatan semacam ini. Saya bukanlah orang yang terlalu peduli untuk mengingat ada hari perayaan apa di tanggal berapa, saya lebih memilih bungkam dan menyepi dari keramaian yang saya tidak mengerti kenapa harus diperingatkan. Tapi kali ini, lain. Ini bicara soal uang. Rasa penasaraan saya tersulut untuk mencari tahu ada apa di balik fenomena Hari Oeang ini.

Menurut Detik Finance (http://finance.detik.com/read/2013/10/18/143234/2389375/4/indonesia-punya-hari-oeang)

Hari Oeang diperingati karena pada tanggal 30 Oktober 1946 Indonesia mengganti alat tukarnya dari jerat uang rezim hindia-belanda. Alat tukar itu bernama Oeang Republik Indonesia atau ORI. Kemudian alat tukar itu dinamakan Rupiah sama seperti lembar-lembar yang menginap di dompet kita sekarang.

Setelah membaca itu, respon pertama saya: Oh gitu doang. Entah kenapa saya tidak pernah tertarik dengan sejarah. That is history, not mytory. Pardon my burden.

Namun ada yang mengganggu saya belakangan ini, juga soal uang.

Sadarkah kalian bahwa uang adalah makhluk paling kuat di dunia? Bukan saja benda satu ini sangat superior untuk memegang kendali atas muka bumi (sebut saja demikian), namun secara harfiah uang memang benar-benar kuat.

Pekan lalu, ketika saya berdiri di depan kasir minimarket, saya menyaksikan si kasir dengan santainya men-stapler beberapa lembar uang yang sudah ia susun sebelumnya. Hal ini membuat saya berpikir, menjadi uang tidaklah mudah. Bayangkan betapa sakitnya rasa stapler yang menjepit uang-uang tadi. Silakan anggap saya sedang menjadi konyol di sini, tetapi itu benar-benar masuk akal.

Coba perhatikan betapa gigihnya perjuangan uang dalam bertahan hidup (tolong anggap saja ia benda hidup). Seringkali kita melipat, mengoyak, menjepit, meremas, menginjak, bahkan menyobek uang. Catatan: opsi terakhir bisa dilakukan jika Aburizal Bakrie mampir ke rumah Anda dan membagikan hartanya dengan percuma.

Disiram air, uang diam dan bertahan. Disiram bensin, juga demikian. Uang memang benar-benar kuat.

Hal ini merepresentasikan untuk siapa uang dibuat. Anda mau uang? Siapkah Anda dilipat, dikoyak, dijepit, diremas, atau bahkan diinjak-injak?

Pikir ulang. Pikir uang.

Selamat hidup,

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s