Menjadi Seonggok Dua Puluh

Hallo, apa kabar kalian semua?

Sial, tangan saya kaku sudah dipakai untuk menulis. Jadi alasan saya menulis semua ini sebab-musababnya karena banyak hal baru-baru ini terjadi di hidup saya dan syukur semuanya baik-baik saja. Mari saya rangkum ke dalam beberapa pokok bahasan.

  • Pendidikan.

Saya menjalani pendidikan di tempat baru sekarang. Bahkan tidak pernah terpikirkan saya akan bersentuhan dengan sekolah keuangan macam ini. Saya sedang mempelajari bidang perpajakan, sejauh ini cukup menyenangkan. Saya jadi tahu sumber pokok pemasukan negara, bagaimana cara mengumpulkannya, dan sedikit tentang penggunaannya.  Mungkin ini salah satu hadiah ulang tahun saya kemarin, entahlah. Jelasnya, saya menikmati untuk menggelut di bidang ini.

  • Sosial.

Ruang lingkup sosial saya cukup menjadi lebar belakangan ini. Masuk ke dalam zona baru mesti berbonus manusia-manusia untuk dijadikan partner bersosial. Awalnya saya agak canggung untuk membuka topik pembicaraan, berkali-kali saya imply topik semacam “Suka baca novel?” atau “Lagi dengerin musik apa?” supaya saya bisa membaca situasi barangkali ada satu atau dua hal-hal yang bisa membuat saya dan mereka membicarakan hal yang sama. Tetapi ternyata tidak. Lingkungan ini benar-benar baru, bahkan saya tidak memiliki hal kesukaan yang bersangkutan dengan mereka. Justru itu tantangannya. Saya mencoba untuk sedikit berluwes diri, menerima perbedaan. Karena kata salah seorang teman di sini, “Perbedaan itu boleh. Membedakan yang tidak boleh.” Baiklah. Silakan muntah. Oh iya, saya terlibat sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk merekap kegiatan kampus, semacam jurnalis begitu dan juga saya memiliki PR besar untuk menulis screenplay theater kampus di akhir tahun ini.

  • Tempat tinggal.

Saya resmi menjadi anak kos sekarang. Tidak begitu sulit di bidang ini, mengingat saya sudah cukup lama hidup sendirian dan sungguh itu hal yang menyenangkan.

Itu saja sepertinya, oh iya, belakangan saya baru menembak (ingatkan saya untuk membuka KBBI lain kali dan mencari padanan kata paling pas untuk menyatakan cinta kepada [ew]) seseorang. Jadi konsepnya saya membuat Curriculum Vitae yang menggambarkan diri ini. Saya tuliskan pengalaman-pengalaman berpacaran dengan orang-orang lain sebelumnya yang klimaksnya saya ingin melamar di hatinya dengan posisi sebagai pacar. Tebak apa yang terjadi? Hasilnya tidak seperti yang saya harapan. Well, things happened. Untuk mengenang itu semua, biarlah saya mengabadikan keisengan itu ke dalam sini:

Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Koleksi pribadi

Selamat hidup,

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Seonggok Dua Puluh

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s