Satu Menit Terlama

Keperluan pribadi
Keperluan pribadi

Hari itu berjalan biasa. Matahari bersinar terik seperti biasanya. Orang-orang berjalan dengan dua kaki seperti biasanya. Kendaraan berlalu lintas seperti biasanya, ada yang kecelakaan, ada yang tidak. Ya hidup ini memang biasa-biasa saja, hanya terdiri dari dua puluh empat jam, atau setelah saya hitung dengan kalkulator, 1440 menit yang dimiliki sama pada tiap-tiap manusia. Saya tidak pernah mengistimewakan waktu tertentu sampai apa yang baru saya alami betul-betul mengubah pola pikir itu.

Jadi saya akan mulai bercerita dari Jogja.
Kota ini penuh fantasi. Tidak sedikit orang-orang unik yang saya temui di sini, bukan apa-apa, hidup menjadi manusia saja sudah cukup melelahkan apalagi hidup hanya dijadikan untuk sekadar menjadi manusia biasa, makin merepotkan. Orang-orang unik tadi biasanya saya kelola agar sewaktu-waktu kalau saya kehilangan arah dalam hidup, mereka bisa saya jadikan Utara untuk kompas saya. Bagaimanapun, berbicara dengan orang-orang seperti ini bisa merestorasi kepercayaan diri.

Jadi sampai mana tadi, oh iya, Jogja.
Jogja bagai pisau bermata dua, pesonanya bisa memerangkap saya sebagai manusia yang tidak manusia. Kekurangan kota ini adalah akses angkutan umum, bahkan sudah sampai ke level yang sangat memprihatikan. Tidak tersedianya angkutan umum (tidak perlu dulu layak, mari berdiri di poin memadai sejenak) membuat tiap manusia di sini semacam menjadi manusia mesin. Manusia butuh mesin maksud saya. Dan justru ini lucunya, harusnya jika berada di situasi tidak ada angkutan umum (yang memadai) seperti ini, manusia-manusia yang hidup di dalamnya akan hobi berjalan kaki, tapi ini Indonesia bung. Jalan kaki masih dipandang sebagai aktivitas paling bawah dari kelas ekonomi yang paling bawah. Dan Indonesia memandang pandangan orang lain begitu penting, jadi kegiatan berjalan kaki itu dicuri-curi untuk dilakukan, kalau saja sedang ingin bersenang-senang.

[Sebelum saya melangkah ke tahap berikutnya, saya baru saja membayangkan data mengerikan. UGM, setidaknya berhasil mengundang manusia-manusia baru untuk berkuliah di sana sebanyak 12.000 orang tiap tahunnya. Lalu katakanlah 80% dari jumlah itu berasal dari luar daerah, maka apa yang terjadi? Saya rasa kita cukup pintar untuk mengetahui arah pembicaraan ini. Dalam jumlah yang membeludak* itu tiap tahunnya, apabila 50% dari 80% tadi membawa kendaraan pribadi, motor atau pun mobil bila mampu, siapa yang menjadi korban kalau bukan kita-kita sendiri? Jumlah tadi belum termasuk universitas-universitas lain macam UNY, UII, UAD, UIN, UPN, dan U-u lainnya itu. Sebagai perbandingan, tahun lalu, antrean kendaraan di Perempatan Kentungan belumlah semengerikan sekarang. Saya membayangkan kalau situasi tidak memadainya angkutan umum ini terus dibiarkan, Jakarta mungkin akan malu karena kurang macet dibanding Jogja.]

Ok, apalah tahu diri ini. Jadi kemarin saya sedang ingin bersenang-senang, maka saya berjalan kaki. Tidak pernah terlintas sebelumnya kalau jalan kaki bisa menjadi kegiatan yang memang sukses membuat senang. Saya melihat dunia dalam keadaan yang sebagai mana seharusnya dunia saya pandang. Saya melihat daun baru tumbuh, bunga yang sedang mekar. Malah ketika saya perhatikan pohon pisang, ada seorang ulat yang sedang bersiap-siap untuk tidur panjang, menggantungkan nasib di daun pisang sebelum akhirnya bisa terbang bebas menjadi kupu-kupu, urusan cantik atau tidak biarlah Tuhan yang menentukan.

Percayalah saya senang saat itu.

Namun, saya selalu percaya tidak ada satu hal pun di dunia yang dapat bertahan lama. Kesenangan macam ini pasti ada saja pengganggunya. Dalam kasus ini, seorang ibu tua berhasil menyita perhatian bersenang-senang saya. Kondisi ibu itu begini: dia sudah tua, rambutnya dicat putih, dan kulitnya pasti tidak pernah tersentuh krim anti-aging mana pun, ia baru saja turun dari seekor bus yang membantunya membawa barang bawaan miliknya. Entah mengapa ibu itu memutuskan turun di depan posisi saya, mungkin sudah sampai tujuannya. Kemudian ia berjalan santai sambil menggandeng beberapa kardus yang membuat saya gerah untuk menolongnya. Keputusan untuk mendekati sudah sulit terbendung, maka saya buatlah beberapa dialog agar komunikasi kami saling terhubung. Dialog itu terjadi dalam bahasa jawa seadanya (saya) dan jawa sepenuhnya (ibu), tapi maafkan tempurung kepala saya yang sudah mulai menua ini, kemampuan ingat yang saya punya tidaklah sebaik yang diharapkan semua pihak. Jadi kira-kira begini ‘e (aksen ‘e ditambahkan agar kesan jawa saya terasa, intinya tambahkan semua akhir kalimat dengan akhiran ‘e, maka sudah cukup jawalah Anda di Jogja yang tercinta ini):

“Buk ‘e, mau ke mana ‘e?”
“(setelah diterjemahkan) Itu mau ke sana?”
“Jauh ndak buk ‘e?”
“Ndak ‘e masGanteng (jelas ini tidak pernah terjadi), dekat aja di situ.” Si Ibu sambil menunjuk-nunjuk ke arah yang tidak ada, saya tahu benar si Ibu hanyalah menyuruh saya diam agar capek membawa barang yang ia derita tidak ditambah lagi dengan capek mulut meladeni saya yang kurang kepadatan kerjaan ini.
“Mau tak bantu bawain ndak barangnya buk ‘e?”
“Ah, ndak usah deket aja.”
“Ndak apa kok buk ‘e, sini saya bantu.” Saya pun kemudian sedikit memaksa mengambil barangnya, tetapi tangan saya malah ditepisnya. Mungkin, atau pasti, ia mengira saya ingin mencuri, saya mulai salah tingkah saat itu. Sebelum akhirnya saya berkata, “Aku ndak pengin nyuri ‘e buk ‘e, kasian lihat ibu panas-panasan sendirian, yowes tak temenin panas-panasan aja ya.” Lalu ibu tua yang rambutnya dicat putih itu pun tertawa lebar, saya heran tetapi memutuskan untuk bergabung ikut tertawa yang sampai hari ini saya bingung alasannya apa.

Ternyata rumah si ibu tidaklah jauh dari kediaman saya tinggal, begitu sampai si ibu disambut hangat oleh kesatu cucu yang berlari semangat menghampiri. Saya mulai bingung peran apa yang harus saya bawakan di kondisi seperti ini, tidak ada pilihan lain, saya memutuskan pamit saat itu juga. Tetapi karena ini Indonesia bung, birokrasi pamit dari rumah orang asing pun akan dipersulit.

“Buk ‘e, aku pamit ya. Nggak enak sudah siang.” Ia tertawa lagi.
“Ndak boleh, sini masuk dulu minum wedangan (atau apa pun itu sebutannya).”
“Ndak mau ‘e, nanti ngerepotin.” Untungnya saya orang Indonesia, jadi cukup tahu caranya berbasa-basi.
“Ndak apa sini.”

Kemudian rumah itu saya masuki, tidak terlalu luas tapi saya kira akan terasa sempit kalau dua puluh orang memutuskan bermain futsal di dalamnya. Setelah wedangan (atau apa pun itu) sampai, saya melihat telpon genggam yang sedari tadi saya kantongi. Ada satu pesan masuk berharap ingin saya baca, tapi saya bukanlah orang yang gampangan, saya abaikan sebentar. Sebelum saya sempat mengalihkan perhatian, saya melihat ada angka

11:11

di layar itu. Saya tersenyum.

Menurut apa yang pernah saya baca dan entah itu di mana, mitologi 11:11 merujuk kepada alam spiritual yang lebih dalam. Singkatnya, apabila saya melihat angka itu tanpa sengaja, artinya saya sedang berada di jalur hidup yang memang seharusnya saya jalani. Saya tidak sepenuhnya percaya, tapi apa salahnya juga tidak percaya. Mohon iyanya saja. Saya nikmati betul-betul satu menit dari 1440 menit di satu hari yang saya punya. Saya tatapi empat angka kembar siam itu sebelum ia memutuskan untuk berganti ke tiga angka kembar siam satu angka tidak siam. Tanpa saya duga, satu menit tadi terasa abadi. Lama sekali.

Setalah menit berganti, saya bilang maksud hati kepada ibu ‘e kalau saya ingin pamit dan sebuah alasan tentunya telah saya siapkan.

“Ibuk ‘e, aku mau pulang.”
“‘E mau ke mana? Itu minumnya diabisin dulu.”
“Aku mau menyelamatkan dunia buk ‘e.” Tentu saya bercanda, melihat kecoak terbang saja saya tidak kuasa, apalagi menyelamatkan dunia. Setelah minuman saya habiskan, saya pulang ke rumah dan memenuhi kodrat saya sebagai manusia, melihat dunia sambil berjalan kaki. Ternyata tidak seburuk itu kok menjadi manusia.

Selamat hidup,

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s