Membiasakan Hidup Biasa-Biasa Saja

Saya akan membuat kalian berpikir ulang tentang diri saya. Cerita ini mungkin berakibat bagi kalian yang membacanya, perjalanan yang saya alami berhasil membuat saya bersyukur sempat merasakan hidup. Selamat menikmati lapis lain dari kondisi psikologis diri saya.

Beberapa hari yang lalu, saat perjalanan pulang saya kembali ke Jogja, beberapa kejadian tidak mengenakkan menimpa saya. Perjalanan yang jauh hari sudah saya rencanakan, remuk sudah akibat saya ketinggalan kereta. Penyebab ketinggalannya pun konyol sekali: ketiduran. Saya merasa bersalah saat itu, sampai detik ini saya  belum bisa berlaku bijaksana terhadap uang. Iya, uang. Tiket tadi dibeli kakak saya menggunakan uang, tetapi saya begitu bodoh karena tidak dapat mengelola kepercayaan  itu. Yang seharusnya saya sudah harus berada di kereta pukul 06:10, sampai 07:10 saya baru membuka mata dan menyadari betapa bodohnya saya. Anehnya, seisi rumah tidak ada yang bangun tepat waktu. Kakak yang sedang libur bekerja juga enak-enakan menikmati bunga tidurnya. Ketika bangun saya seketika panik, tidak tahu harus berbuat  apa. Sesal pasti ada, tetapi mau bagaimana. Hal yang saya pertama lakukan adalah: meditasi. Mengatur irama pernafasan agar hemoglobin dapat mengikat sempurna oksigen yang masuk ke dalam tubuh saya sehingga pikiran saya terjaga ketenangannya. Setelah itu, baru saya membangunkan kakak untuk meminta maaf. Padahal, saya sudah memasang alarm tapi tetap saja tidak terbangun. Lalu kakak memaafkan dan menyuruh saya membeli tiket langsung ke stasiun pada hari itu juga. Kenapa saya harus pulang saat itu juga, saya tidak akan memberitahu. Berangkat kemudian ke stasiun, dapat tiket pukul 18:50. (perhatikan detail ini)

Setelah memotong cerita, sampailah saya di kereta kedua. Kereta penuh sekali, terlihat mahasiswa2 baru di sana-sini membawa kopor-kopor mereka yang kelihatan penuh sesak dengan baju-baju, buku-buku, dan semacamnya. Saya duduk di seat 11 B gerbong 5 (biasanya saya susah mengingat detail, tetapi lain dengan ini). Saat baru datang,  tiga seat di lingkup saya masih kosong, padahal tidak sampai sepuluh menit kereta akan berangkat. Apa peduli saya memikirkan urusan orang, saya hanya tertarik mengamati kondisi sekitar, melihat mahasiswa-mahasiswa baru ini terlihat sangat excited menuju Jogja. Saya tersenyum.

Datang seorang bapak 30 tahun, ibu 34 tahun, dan dua orang anak yang masih berumur 6 tahun dan 9 bulan. Mereka kemudian mengambil seat di sebelah dan depan saya. Awalnya saya kira perjalanan kali ini akan membosankan, melihat orangtua yang membawa anak dalam perjalanan mereka, saya selalu skeptis. Pasti akan: berisik. Tapi sudah mau diapakan. (detail ini juga)

Di dalam perjalanan, saya membuka obrolan. Belakangan ini, saya sedang mempelajari bagaimana cara berbasa-basi yang benar. Kata kakak saya, ini penting sekali. Saya tidak sepenasaran itu untuk menanyakan sepenting apa, tetapi melihat corak wajahnya yang mengatakan dengan berapi-api, saya rasa bisa mencobanya. Mungkin setelah berhasil nanti, saya akan menulis buku; Basa-basi for Dummies. Basa-basi yang dapat saya pikirkan hanya: tanya tujuan, dalam rangka apa ke Jakarta, anaknya lucu, umur anaknya, umur suaminya, umur ibu sendiri. Kenapa saya memilih berbasa-basi dengan istri ketimbang ayahnya? Karena sampai saat ini saya percaya, perempuan adalah makhluk yang rawan curhat. Dan ternyata hipotesis saya benar. Satu pertanyaan berhasil mengungkap lapis hidupnya yang tidak terlalu penting untuk saya ketahui. Misal, “Ibu, anaknya lucu, e.” “Iya, tapi rewel banget. Tiap malam nangis, susah diajak tidur.” Lihat?

Kemudian ibu itu bergerak menceritakan tentang sang suami. Saat itu suami sedang ke toilet, jadi dia dengan gamblang mengungkap hobi suami yang dianggapnya: aneh. Mendengar kata aneh, perhatian saya tertuju penuh kepada tiap pembicaraan si ibu.

Jadi begini, si bapak adalah lulusan Biologi UNY, tetapi bekerja sebagai guide-r (?). Ia hobi membaca, menulis, dan mencicip kopi. Sampai di sini, saya memiliki sejuta pertanyaan untuk bapak setiba kembali dari toilet nanti. Lalu, ibu berkata saya tidak akan bisa. Bapak orangnya pendiam sekali. Saya orang yang tidak dikenalnya ini, hanya akan dianggap sebagai sumpit, bapak adalah gong. Kalaupun saya memukul bapak, pasti bunyinya tidak ada terdengar. Baiklah. Saya tertantang.

Saat bapak kembali dari toilet, saya memburu dengan pertanyaan. Dan hasilnya, saya si sumpit ini, berhasil membuat bapak “bunyi”. Setelah saya gali, bapak adalah orang yang memang (akan orang lain anggap) “aneh”.

Bapak lulusan Biologi, tetapi bekerja sebagai guide. Bapak sangat menolak terkurung di dalam kantor. Bapak juga bukan sembarang guide, bapak hanya menerima job sebagai guide peneliti bunga dan burung. Jam terbang bapak sudah sangat tinggi. Ratusan turis asing dan lokal berlangganan dengan bapak. Bapak menguasai bahasa Inggris (fasih sekali), Jerman, Perancis, Indonesia, Jawa, Arab, dan sedikit Espanyola bebeh. Saya merinding ketika mendengarnya. Bapak juga pembaca Sherlock Holmes, Dee Lestari (at last we have something in common), Hercule Poirot, Mrs. Dalloway, dan buku dan penulis lain yang namanya bahkan tidak pernah mampir ke telinga saya. Bapak pendengar musik-musik “lain”. Saya kehabisan kata untuk menggambarkan seperti apa kerendahan hati dan seberapa kerennya beliau.

Saya tidak akan menceritakan semua yang saya dapat dari obrolan kami berdua (kepanjangan, malas ngetiknya), intinya bapak berpesan:
1) Kalau kamu mau mempelajari bahasa asing, pelajari dulu aksen mereka. Fasihkan dari sana, baru memperkaya dengan vocabullary-nya. Bapak beranggapan, ini sangat masuk akal. Seperti orang Jawa, walaupun berbicara bahasa Indonesia, pasti akan kentara sekali logatnya. Kalau kita berusaha untuk “menyamakan” aksen tadi, orang-orang yang akan kita ajak bicara akan menganggap kita seperti keluarga. Ini penting sekali, menurut beliau. Dan saat saya tanya bahasa mana yang paling bapak suka, ia menjawab dengan gamblang: Jawa Kromo Hinggil dan bahasa Arab. Saya tertawa.
2) Jangan pernah sombong. Beliau bertanya, “Kamu tahu seberapa pintar B.J Habibie di masanya dan dia tidak sebegitu lalainya untuk mengumbar semua kepintarannya?” Bapak berkata seperti ini, mengingat referensi nama saya yang kebetulan juga Habibi. “Jadilah seperti Habibie” dia berkata. Akan saya coba.
3) Jangan pernah berhenti bertanya dan puas dengan jawaban. Jawaban bukanlah tujuan, pertanyaan adalah perjalanan. Saya merinding lagi mendengarnya.
4) dan lain-lain.

Mari saya urai lagi apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan di sini:
1) Kalau saya tidak kesiangan, saya tidak akan memiliki obrolan menyenangkan ini.
2) Tiket yang bapak dan ibu miliki, sudah dipesan jauh hari. Sebulan sebelum Idul Fitri.
3) Tuhan itu gila. Saya suka.

Sampai saat ini saya tidak bisa berhenti mengucap syukur. Begitu kecilnya diri ini. Perjalanan kemarin memberi saya banyak referensi bacaan dan sudut pandang lain tentang kehidupan. Bapak berjanji akan mengirim cerpen2 yang pernah ia tulis melalui ke email saya. Yeay.

Oh iya, nasib tiket yang hangus itu tidak akan berakhir di tong sampah. Tiketnya saya laminating dan saya jadikan … gantungan kunci. :))

WP_001745

Lagi, melalui ini saya ingin meminta maaf atas segala salah yang telah terjadi. Kepada Rangga Dachlan, I’m sorry for being such a douche bag. :)

Dan kepada bapak, maaf saya lupa bertanya siapa nama kalian sekeluarga. Selamat meneruskan hidup,

Advertisements

5 thoughts on “Membiasakan Hidup Biasa-Biasa Saja

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s