Peledak Kepala Bernama: social media

Didapat dari pencarian gambar di google dengan kata kunci: sosial media.
Didapat dari pencarian gambar di google dengan kata kunci: sosial media.

Saya tahu saya tidak sendirian.

Arus informasi yang digiring media sosial belakangan ini langsung masuk ke tempurung kepala tanpa saringan yang jelas dan lama-kelamaan akan membentuk timbunan gado-gado data tidak berupa. Lagi-lagi media sosial mengambil paksa perhatian saya belakangan ini. Ada satu perkara yang sedang menjadi banci tampil di lingkup timeline. Saya tidak mengenal kedua pihak yang sedang terlibat, saya juga tidak memiliki kuasa untuk bertindak bahkan berkesimpulan apa-apa, tetapi peristiwa ini sedikit menyadarkan saya bahwa saya sudah terlalu banyak mengonsumsi masalah orang. Ini tidak baik. Saya butuh rehat sejenak. Dalam waktu yang lama.

Lagi-lagi, isu seperti ini memang semacam tidak ada penyelesaian. Mempermasalahkan setiap inchi perihal (orang lain) lalu mengumbarnya ke permukaan sudah menjadi soal biasa di era ini. Sadar atau tidak, sebagian orang akan menikmati masalah ini, sebagian orang menjadi korban, dan sebagian lagi tidak merasa keberatan. Jangan-jangan jauh di alam bawah sadar sana, ada tumpukan “sampah” dari segala permasalahan dan media sosial menjadi kontributor paling dominan. Tetapi apa tahu saya.

Saya jadi kangen ketika membayangkan kondisi timeline dahulu kala. Masa keemasan itu saya alami ketika baru menjadi user twitter di tahun 2010. Sebagai gambaran, mudah saja bagi saya untuk tertawa ketika @indraherlambang muncul dengan tweet witty-nya. Atau saat @rindut jajan papan tulis barunya. Uhm, dan, ketika @gandrasta hadir dengan pisau sarkasnya. Para pengicau kala itu, masih “segar-segar”. Tidak jarang tweet carkas bertaburan di sana-sini, bermain #hashtag sedang lucu-lucunya, kultwit menjadi wadah brilian penyalur pengetahuan, dan twitwar … apa itu? Coba bandingkan dengan waktu dekat ini, walaupun semua itu masih terjadi tetapi di beberapa kasus imbuhan sok- mesti ditambahkan. Soklucu. Sokpintar. Soktwitwar(?). Duh, ribet amat sik. Nggak punya kehidupan selain twitter?!

Mungkinkah kita semua sudah bosan? Atau sedang menunggu media sosial baru dan mengulang siklus yang itu-itu? Sebentar, kepala saya sudah terasa panas. Nampaknya memang benar, media sosial dapat meledakkan kepala seseorang.

Dan maaf, saya lebai.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s