Bersepeda untuk Tetap Hidup

WP_001390

 “Life is like riding bicycle. To keep your balance, you must keep moving” –  Albert Einstein (Alm.)

Saya tidak sepenuhnya mengamini sabda beliau, nyatanya banyak orang yang tidak bisa mengendarai sepeda tapi tetap bisa menjalani hidupnya dengan seimbang. Dan ini saat yang tepat untuk bilang apa sih tanpa spasi dan diberi tanda pagar.

Baiklah.

Minggu pagi menjadi jadwal rutin saya bersepeda menaiki Jalan Kaliurang. Jadwal itu akan lancar berjalan jika tidak ada turut campur perihal lain misal, rasa malas sebadan-badan. Kebetulan pagi ini si malas sedang punya kesibukan lain, maka saya berangkat pukul setengah enam. Entah siapa yang bilang, memang pagi hari menjadi waktu paling baik untuk menyimpulkan seperti apa dunia luar. Jalanan, udara, dan wajah manusia masih betul-betul perawan belum terperkosa oleh ban kendaraan, asap knalpot, dan kepenatan dunia luar.

Kayuhan pertama sepeda saya dimulai dari Kaliurang 13,5 berakhir di kilometer 17. Terdengar mudah, tetapi percayalah, dengan kondisi jalan menanjak mengarah ke Gunung Merapi terasa sekali membuat aliran nafas tersengal-sengal.

Mencatut perkataan Alm. Einstein tadi, memang benar, tiap kayuhan pedal sepeda membuat saya tetap seimbang. Jika itu tidak saya lakukan, dengan senang hati gravitasi akan mempertemukan kepala saya dan permukaan aspal. Tenang saja, saya tidak sebodoh itu untuk mempraktikan walaupun benar penasaran.

Hal lain yang saya temukan, fokus pandangan sangat memengaruhi lancarnya perjalanan. Semakin jauh saya patokkan pandangan lurus ke depan, semakin lelah tiap meter yang saya rasakan. Lain lagi saat pandangan hanya saya arahkan ke bawah (atau sesekali melihat ke depan takutnya ada bibir truk mencium sepeda saya), kayuhan pedal terasa lebih ringan. Konsentrasi yang tidak terbagi, membuat saya nyaman dalam kelambanan. Maafkan saya si supersok ini untuk tetap kekeuh menghubung-hubungkan. Sama hal di dalam kolong kehidupan, kadang-kadang hidup makin berat dijalani ketika saya mengacu ke titik jauh di depan. Beberapa teman pertukaran pelajar ke negeri sebrang, mereka mendapat beasiswa satu dan yang lain membuat pedal sepeda saya makin berat untuk dikayuh, macam berjalan di kemiringan sinus sembilan puluh derajat.

Rasanya saya ingin cepat sampai ke tujuan, tetapi belum memiliki daya dan perlu banyak lagi melakukan usaha. Lagipula sudah seberapa banyak dari kita yang menjadikan kecepatan sebagai sebuah agama? Abege ini (frasa lain dari dewasa ini), kecepatan macam sudah menjadi sahabat setia pelawan kodrat manusia, dan anehnya semua korban merasa baik-baik saja. Sangkakala seperti bergema ketika musibah EDGE menimpa karena sudah terbiasa hidup bersama HSDPA. Tetapi apalah tahu saya. Perjalanan sepeda ini memang melelahkan, tetapi akan terus saya lakukan. Saya perlu tetap bergerak agar dunia tetap “seimbang”.

Life is like riding bicycle. To keep your balance, you must keep moving. […] Do not say to forget bringing your water, you will get thirsty sometimes.”

Advertisements

4 thoughts on “Bersepeda untuk Tetap Hidup

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s