Semacam Niat

Didapat dari pencarian gambar di google dengan katakunci: niat.
Didapat dari pencarian gambar di google dengan katakunci: niat.

How is yours?

Tiga kata ditambah satu tanda baca itu terlontar dari mulut seorang teman dan benar-benar berhasil mengambil seluruh isi dunia saya pada saat itu juga. Lain soal jika sebelum pertanyaan singkat itu, terdapat kalimat pendukung macam “I have chicken-wing for launch, …,” atau “Just had great sunday, …,” jika memang benar itu, dengan mudah saya akan menjawab pecel atau had 24 hours as usual. Tetapi nyatanya tidak demikian, semua berawal dari diskusi melelahkan tentang peran anak kepada orangtua di Father’s Day kemarin.

Sebelum saya menceritakan duduk persoalan, perlu digarisbahawi bahwa saya bukanlah orang yang nyaman untuk berada dalam jangkauan konflik atau diskusi berbau negatif. Sama sekali tidak. Saya spesies manusia yang memegang jamu di tangan kanan dan risoles di tangan kiri tepat di hadapan serial teve The Bing Bang Theory.

Malam itu tidak begitu banyak dihiasi bintang, langit cenderung tebal dengan berbagai asap dan pantulan sorot cahaya lampu perkotaan. Kafe yang kami papani tidak terlalu ramai, beberapa kursi masih kosong menunggu pantat untuk menghampiri. Kami memilih meja sebelah Timur jalan, pilihan saya sebenarnya, karena menjauhi smoking area. Tidak dalam rangka apa-apa, kami bertiga hanya memutuskan bertemu saja. Anggap saja sebagai momen melepas kangen karena setiap hari selalu bertemu (?).

“Happy Father’s Day!” Salah seorang teman melontar demikian, kemudian disusul teman lain yang berkoar “Zionis! Konspirasi wahyudi!” Tawa kecil rekaan sedikit saya keluarkan, joke itu sudah berulang kali saya dengar, sensasinya tidak lagi meledakkan. Pembicaraan mulai menyebar ke lain arah, kebanyakan dua teman saya berkisah tentang keluarbiasaan sosok kedua para ayah. Dengan bangga satu teman menceritakan, sewaktu kecil ayahnya tidak pernah sedikit pun pelit untuk jajan buku. Saya tertawa geli ketika mendengar lema jajan dan buku menjadi gabungan frasa apik pengundang tawa. Bagi Anda yang tidak tertawa pula, maafkan selera humor murahan saya. Teman satu lagi menimpali bahwa dongeng pengantar tidurnya tidak mengenal kata absensi. Sebelum saya sempat memamerkan apa-apa, lagipula tidak ada yang bisa saya kisahkan tentang kehebatan apa yang dimiliki ayah saya (yang jelas dari SD hingga SMP, kepala saya rapi sempurna berkat tangan cekatannya), satu teman menggebu-gebu bercerita tentang tujuan hidupnya, “My both parents took care me well, I have to make them happy, that’s my purpose of life,”lalu kalimat ini diteruskan oleh kalimat tanya di awal tadi,

how is yours?”

Keempat mata mereka kemudian menyoroti saya, menanti jawaban macam macan liar menunggu mangsa. Maafkan, saya tidak pernah baik dalam bermetafora.

What is mine. What is mine. What is mine.

Semua tanya itu terus berputar di kepala bagai roda di jalan turunan tajam (sial, saya memang tidak pandai melakukan ini). Sebenarnya apa yang saya cari pun sampai saat ini tidak ada jawaban pasti. Jika anak seumuran saya kebingungan mencari opsi lain atas jawaban tadi, mudah saja mereka bisa bilang “idem” atau hal-hal bijak lain yang berkaitan dengan orangtua masing-masing. Nyatanya, kasus itu tidak lagi berlaku buat saya. Sepuluh detik, tidak lebih. Waktu yang diperlukan untuk menghancurkan tebing tinggi bernama semangat hidup. Sebelumnya, saya tidak pernah menceritakan tentang keadaan saya kepada mereka, tidak terlalu ada guna. Dialog kami sempat mati karena saya memutuskan ke toilet untuk mengeluarkan beberapa tetes cairan. Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali dan sekadar bilang bahwa tujuan hidup saya adalah untuk mencari jawaban atas itu semua.

Setelah pertemuan kami bubar secara awkward, ada hal baru yang mengganjal kepala saya. Ketika sampai rumah, saya pelu mendekor ulang niat yang mengakar di kepala saya. Tapi sebelum itu dilakukan, saya perlu ke toilet. Tadi lupa pipis.

Advertisements

3 thoughts on “Semacam Niat

  1. teringat scene di pilem kuch kuch hota hai, ketika si anjani kecil (bener kan ya?) ada lomba di panggung sekolahnya, ia mengambil kertas kecil yang bertuliskan “mother”, kemudian ia harus menjelaskan, dan dia cuma diem. diem. sebuah perkenalan dengan ibu, bapak, atau siapa kek butuh yang namanya media. bisa lewat cerita orang, pengalaman pribadi. dan semoga yang nulis komen ini, dan yang nulis tulisan di atas, bisa mengenal bapaknya lewat cerita orang *malah curhat

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s