Khasiat Kampung Halaman

(Ditulis 25 Mei 2013, 9:35 PM, Kotabumi, Lampung Utara)

Head

Entah bagaimana saya harus memulai ini.

Namun saya kira semua umat manusia kota memang ada perlunya sesekali untuk menyempatkan diri pulang ke kampung halaman. Jika tidak ada sebuah tempat yang bisa dipanggil kampung halaman, ya tidak usah dipaksakan. Sesuai jargon lama “tak ada premis yang tak curhat”, maka kali ini saya akan mencoba bermain dengan detail kecil yang saya rasakan dan sungguh, tiap kejadian itu betul-betul melebarkan lagi sektor sudut pandang saya terhadap kehidupan.

Awalnya, saya semacam berada di titik jenuh terhadap Yogyakarta. Kegiatan yang itu-itu saja ditambah situasi kota yang makin penuh, panas, dan faktor pendukung negatif lainnya yang membuat saya tidak fokus untuk mengerjakan apa-apa. Lalu tawaran pulang kampung halaman datang tanpa perencanaan, berangkat kemudian seperti anak hilang pada umumnya.

Perjalanan Yogyakarta – Jakarta melalui jalur kereta, Bogowonto 07:30 WIB.

Mampir Jakarta sebentar mengambil titipan barang, lalu diteruskan Jakarta – Merak – Bakauheni – Bandar Lampung – (dan tibalah saya di) Kotabumi, Lampung Utara. [total perjalanan kira-kira memakan 23 jam, untungnya saya masih sekaya itu terhadap waktu]

Setelah dua tahun meninggalkan kota “persinggahan” ini, ternyata tidak ada perkembangan berarti di sana-sini. Malahan saya terheran-heran mengapa dulu saya bisa bertahan hidup di kota kecil ini. Tidak ada mal, toko buku, bioskop, dll. Pointmark, inilah lintas perjalanan hidup yang perlu digarisbawahi, kadang-kadang, ada baiknya tidak mengetahui dulu perihal sesuatu untuk sebuah alasan. Tsk. God’s better plan. Waktu itu, putaran hidup saya tidak semelar seperti sekarang. Saya rasa itulah yang bisa membuat saya tetap waras bertahan. Tetapi jika sekarang itu diteruskan, bisa saya jamin rumah sakit memiliki pasien baru dengan kendala penyakit kejiwaan.

Kemudian, saya diajarkan lagi oleh kehidupan tentang indikator perkembangan. Saat bertemu dengan teman-teman lama, dengan jelas sekali saya melihat perubahan di diri ini. Saya cenderung menemukan banyak poin-poin positif yang agak menggelitik untuk ditilik. Teman-teman mengenal saya dengan macam-macam sebutan, Ibnu si A sampai Z’ masih tersangkut di benak mereka. Cenderung ganggu, masa lalu memang hinggap melekat kuat tetapi apa boleh buat. Jadi jika ingin mengukur sejauh mana perkembangan diri, temuilah teman-teman lama dan berbincang tentang hidup bersama mereka. Satu yang perlu diingat, hidup ini bukan lomba dengan daftar skor di sebuah papan, jadi tidak perlu terlalu menggerus unsur membanding-bandingkan. Akan capek sendiri nantinya. Ini baru saja saya sadari dan benar-benar terjadi. Melihat teman-teman yang jauh lebih (sebut saja) sukses dengan bidangnya masing-masing, mau tidak mau itu langsung berefleksi terhadap hidup sendiri. Ini sekaligus menjadi sebuah semangat untuk terus maju atau malah titik balik tentang ke mana waktu yang telah saya habiskan selama ini. Klise, saya tahu. Pada akhirnya saya sampai pada pemahaman: ya sudahlah. Tiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda, jalani saja apa yang ada dengan sebaik-baiknya dan sesadar-sadarnya. Dobel klise, saya tahu.

Dan tibalah saya di sini sekarang. Masih banyak perjalanan yang perlu saya buat, saya jamah, dan saya selesaikan.

Perjalanan dua minggu menemui kenangan kemarin benar-benar berhasil merestorasi kepercayaan pada diri sendiri. Banyak cara lain tetapi mungkin saja ini bisa menjadi opsi nyata tentang pentingnya keluarga, sahabat, dan teman-teman lama.

Selamat hidup.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s