Saya dan Menulis

(Ditulis 27 Maret 2013.)

Didapat dari hasil pencarian gambar di Google dengan katakunci: Menulis.

Saya senang menulis. Entah menulis blog seperti sekarang ini, catatan pribadi, dan sebagainya. Mungkin bisa dibilang perfeksionis tetapi saya lebih mengacu untuk mengategorikan kebiasaan ini sebagai habitual yang meribetkan diri sendiri, saat bertukar pesan singkat misalnya, jika ada satu-dua typo dan kesalahan penempatan tanda baca dan hal remeh lainnya, saya akan merevisi kesalahan-kesalahan tadi di pesan berikutnya. Misal seperti ini (pesan awal – revisi pesan):

Saya: Nanti jdai, kan? (19:08)

Saya: *jadi (19:09)

atau kekeliruan tanda baca,

Saya: Ya sudah itu saja, (19:08)

Saya: *. (19:09)

Ribet? Memang. Saya menyadari benar saat mengirim pesan revisi seperti itu akan menguras ulang pulsa saya, tapi tak mengapa. Atas nama kepuasan batin, saya rela-rela saja melakukannya. Muahaha.

Hobi menulis ini bermula saat sedang musim-musimnya “Sahabat Pena”. Tidak, saya tidak setua itu. Waktu itu umur saya masih lima. Yang membaca dan membalas tarasul-tarasul* yang saya terima pun para tetua saya. Saya baru bisa membaca kelas dua dan iya saya sebodoh itu.

Ada rasa entah apa (macam bahagia bercampur puas), saat saya menerima balasan surat dari orang yang bahkan belum pernah saya lihat bentuk dan rupanya. Berbekal alamat dari kolom pembaca di majalah anak-anak saat itu, saya iseng saja mengirim tarasul ke alamat pembaca yang ia sertakan di sana. Tidak jarang memang surat saya berujung tanpa balasan. Tetapi saya merasa puas. Itu saja. Saya senang melakukannya, lagipula tidak merugikan orang lain, bukan?

Pernah saat membaca kolom negara Swiss oleh kedutaan mereka, saya langsung tergerak untuk mengirim surat ke sana. Berhubung bahasa Inggris saya dan kakak-kakak belum sebaik yang diharapkan, kami nekat saja mengirim tarasul tersebut. Isinya kurang lebih, kami meminta lima tiket terbang gratis dan akomodasi lain agar kami berlima bisa melihat langsung … Bank Swiss! (saat menulis bagian ini saya mulai tertawa menyadari kebodohan sendiri)

Selang beberapa pekan, surat dibalas. Yang kami terima … lima kaus bertema negara tersebut, poster Bank Swiss, dan buku panduan berlibur di Swiss. Mungkin orang-orang kedutaan akan berpikir bahwa kami sangat tidak tahu diri.  Siapa kami?! Saat tahu apa yang kami lakukan, orangtua tertawa atas ketidaktahudirian anak-anaknya. Ah, masa-masa itu.

Seiring ke sini, menulis saya jadikan lahan membaca diri, bahkan bisa saya sebut sebagai media penyembuh. Tidak sedikit masalah diri yang bisa sembuh secara alami lewat menulis. Tidak perlu diumbar ke siapa-siapa, yang perlu saya lakukan ya menulis saja. Kadang tanpa titik-koma, saya nyerecos tanpa aturan. Kemudian di akhir tulisan, saya mulai bisa berdamai atas apa yang saya permasalahkan. Memang terdengar mudah, tetapi sumpah, berdamai dengan diri sendiri adalah core tersulit di sektor masalah apa pun. Mungkin maksud terselubung Tuhan tiap memberi masalah ya itu tadi, agar makhluk-makhluk mungilnya ini bisa berdamai dengan diri sendiri. Halah, apalah tahu saya.

Namun rasanya kurang jika hanya berfokus kepada diri sendiri. Makrokosmos ini memerlukan manusia-manusia yang bisa mau menulis. Saya selalu kepengin tahu apa yang pejabat-pejabat lakukan saat berkutat di atas meja mengilat mereka, saya juga ingin paham ada maksud apa atas grafik-grafik saham yang selalu terlihat membingungkan, dan pembaruan lain di tiap bidang di dunia ini. Roda putar kehidupan berjalan begitu cepat, untuk mengikutinya langsung dari jurnal-jurnal berbahasa kitab suci itu saya mengaku, sangat melelahkan. Perlu manusia yang terlibat langsung di dalamnya yang mengabarkan langsung kepada generasi-generasi kepo macam saya ini. Media paling terjangkau ya lewat tulisan dan dipublikasi lewat jejaring blog, media sosial, atau apa pun itu. Bukan maksud tidak mau susah, baiklah, maksud saya memang itu. Saya malas bermunafik ria di sini. Membaca lembar-lembar jabaran dari para ahli yang menyertakan berbagai referensi (yang tidak terlalu saya taruh peduli) untuk pada akhirnya saya tetap tidak merasa tercerahkan (boleh salahkan otak bodoh di tempurung kepala saya) adalah kegiatan paling mumpuni buat buang-buang waktu. Namun sekali lagi, itulah esensi membaca. Anggap saja membaca macam kegiatan berjudi. Entah rugi waktu atau untung ilmu. Namun ini semua bisa diminimalisir jika semua umat terlibat. Umat-umat yang berbahasa gampang dicerna maksud saya. Saya lebih memercayai tukang tambal ban pinggir jalan yang sudah mengadu nasib berpuluh-puluh tahun untuk membetulkan ban bocor saya dibanding montir bersetifikat internasional. Alasannya sederhana: lebih murah. *diludahin.*

Ya saya kira itu saja. Mari menulis selagi masih sempat. Apa saja yang sedang dikerjakan. Atas keperluan apa pun. Jika kiranya berguna, boleh kabarkan kepada semua. Dengan senang hati dunia akan membacanya. :D

[*menurut KBBI, tarasul artinya surat tulisan tangan]

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s