Susahnya Jadi Kaum Insomnia

(Ditulis 14 Maret, 2013.)

Didapat dari hasil pencarian gambar di google dengan katakunci: insomnia.
Didapat dari hasil pencarian gambar di google dengan katakunci: insomnia.

Sebelum berdebat tak berkesudahan tentang makna pasti insomnia sendiri, saya sudah melakukan riset kecil agar terciptanya solusi untuk masalah ini. Menurut Thesaurus Microsoft Word 2013, kata Insomnia (n) memiliki sinonim: Sleeplessness, wakefulness, dan restlessness. Selesai? Belum? Silakan hubungi kamus terdekat atau sumber tepercaya versi kalian sendiri. Maaf pembukaan post ini agak berlebihan. Bukannya mengapa, belakangan ini banyak orang-orang kurang kerepotan yang menganggap kalau Insomnia adalah kaum keren yang tidak bisa tidur sampai berhari-hari. Lain lagi dengan orang yang tidak bisa tidur di dini hari, namun tidur di waktu yang seharusnya manusia umum mulai beraktivitas. Doh, ribet amat. Macam kaum insomnia ini memiliki derajat prestisius, begitu? Memangnya Indonesia nggak punya kata khusus untuk menggambarkan situasi ini? Lupakan kata begadang yang sudah tidak keren digunakan karena terlampau ketinggalan zaman. Maaf sekali lagi, penyanyi yang menyanyikan judul lagu dengan kata itu pun sudah amat sangat serius sumpah tidak ada keren-kerennya sama sekali dari dahulu zaman purba kala. Jadi lengserkan saja nama itu dari calon terpilih presiden versi masing-masing. Jangan sampai negeri ini tiba-tiba kehilangan banyak warganya akibat tingkat bunuh diri yang meledak mendadak atau lebih buruk lagi, banyak warga yang memutuskan untuk pindah kewarganegaraan. Kalau ada rezeki, saya sih rencananya akan melakukan itu. Terlebih negara ini tidak lagi menjadi negara utuh kalau terus begini. Karena satu dari sekian syarat terbentuknya negara adalah memiliki warga masyarakat*. Iya deh ngaku, saya baru saja menyontek buku PKn milik keponakan saya.

Dan maaf sekali sekali sekali lagi, saya mulai berlagak sok kritis. Apalah tahu saya. Membeli celana dalam sendiri saja tidak bisa sendirian. Jadi mari lupakan kasus ini.

Omong-omong, tidak bisa tidur di waktu yang seharusnya mesti pernah mampir di fase hidup setiap manusia di muka bumi. Bayi, balita, muda, dewasa, TUAK!, dan segala sektor umur sudah tidak asing dengan tabiat ini. Di kasus pribadi, kondisi ini macam menjadi habitual yang belum bisa saya jinakkan. Di kasus pribadi lagi, saya belum tidur selama dua hari. Dan di kasus pribadi lagi, hanya tersisa lima hari agar saya menjadi manusia pertama yang akan mati karena kurang tidur**.

Jika sudah demikian, kegiatan saya tak jauh dari browsing random stuff, membaca novel yang masih rapi terplastik pabrikan—dan solusi paling akhir yang biasanya akan saya pilih jika sudah hampir mati bosan dengan aktivitas lain—saya memaksa terpaksa diri untuk menonton televisi. Sudah sering saya bilang sebelumnya, selain tidak mendidik, kebanyakan acara teve nasional bisa menjadi racun tubuh. Efek yang ditimbulkan tidak baik untuk kinerja jantung, jejaring otak, dan peredaran darah. Berlebihan? Bisa jadi. Tidak.

Dan malam ini, kebetulan saya sedang tidak beruntung karena entah mengapa tanpa kontrol yang jelas, federasi sistem tubuh bernama Ibnu Fajar Habiby ini memutuskan untuk menyetel *menyetel bahasa lo?!* televisi. Nasional. Kebanggaan. Kita. Bersama. Mohon. Doanya.

Dari hasil pengamatan pukul 2 pagi, hampir seluruh teve nasional sedang menyiar rangkum berita sehari belakangan. Bakat cenayang saya tidak perlu saya gunakan, mudah sekali menebak apa isinya. Tidak jauh dari kabar pembunuhan, pemerkosaan, perselingkuhan, dan imbuhan pe-maknanegatif-an lain yang tidak ada ujung pangkal. Saya lelah dengan ini semua. Bahkan di waktu yang seharusnya saya hidup tenang sebentar di alam mimpi sendiri, saya masih harus dijejali kabar-kabar macam begini.

Iya, saya hanya akan menyalahkan diri sendiri atas rentet kejadian ini. Tidak seharusnya saya berlagak sok pintar untuk mengharap ada kabar muda-mudi negeri ini yang meraih nobel kedokteran. Ada peraih juara catur dunia yang berasal dari seluk pelosok sudut Indonesia. Tidak harusnya pula saya mengharap ada astronot pertama yang mengamalkan asas pancasila. Iya, saya sebodoh itu.

Karena, di teve nasional kita masih terjadi dialog seperti ini:

[dialog ini benar terjadi dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri. dialog yang melibatkan repoter dengan ciri perempuan rambut setengah panjang, jam tangan mengilau, dan berkawat gigi yang sedang mewawancari keluarga yang terpaksa tidur di bawah jembatan karena tidak memiliki atap tidur lain. satu ayah, satu ibu, dan dua anak perempuan, umurnya kira-kira 5 atau 6.]

Reporter kepada bapak: Pak, kenapa tidur di bawah jembatan begini pak?

Bapak: Ya nggak ada pilihan lain, non***.

Reporter kepada ibu: Memangnya ibu sekeluarga nggak takut ada razia?

Ibu: Ya takut, non. Tapi mau gimana lagi.

Reporter kepada dua anak perempuan: Adek, enak nggak tidur di bawah jembatan begini?

Saya kehabisan akal. Saat itu juga saya cabut paksa kabel power telivisi saya sambil berkata, MENURUT NGANA?!

Rusak sudah malam saya. Ingatkan otak bodoh ini sekali lagi agar lain kali tidak usah memercayai kualitas tayangan teve nasional di waktu-waktu sekarang. Saya hanya bisa berdoa agar reporter tadi selalu merasakan nikmat dengan tidur dibalut selimut berpendingin suhu ruangan dengan penerangan nyaman dan tentu saja bukan di bawah jembatan.

Selamat malam.

[*: Warga masyarakat itu semacam pemborosan kata nggak sih?

**: Baru-baru ini saya membaca random artikel kalau manusia hanya dapat bertahan hidup tanpa tidur selama satu minggu.

***: Saya bohong untuk penggunaan sapaan “non” itu, saya tidak ingat jelas si bapak memanggil reporter dungu itu dengan sebutan apa.]

Advertisements

3 thoughts on “Susahnya Jadi Kaum Insomnia

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s