Terluar dari Rumah

(Ditulis 26 Februari 2013.)

Didapat dari hasil pencarian gambar di google, dengan katakunci: Matahari.
Didapat dari hasil pencarian gambar di google, dengan katakunci: Matahari.

Catatan Kepala; Penulis hanyalah makhluk berotak kerdil sok tahu dan merasa dirinya paling penting sedunia yang selalu pantas untuk diperhatikan. Jadi jangan berharap banyak kepada orang bersangkutan.

Beberapa waktu kemarin, siang hari tepatnya, saya memutuskan untuk membeli camilan di jaring minimarket dekat rumah. Maksud dekat di sini sekitar 500 meter. Dengan sepeda motor, hanya memakan waktu tempuh kurang dari sepuluh menit. Di era sekarang, jauh – dekat semacam bukan lagi soal jarak. Kembali ke pembukaan yang akan menjadi topik permasalahan, saat menaiki motor, ban kendaraan saya tiba-tiba bocor, atau kempes? Saya tidak berkepentingan untuk memastikan. Dan niat menggebu untuk merasakan ekstrak kacang almond yang bersatu padu ke dalam setangkai es krim, ok, saya terlalu banyak membaca stensilan mini, intinya, saya kepengin nyemil saat itu juga. Siang bolong. TITIK—Eh, lupa titik.

Tetapi belum puas sampai di situ, saya merasa masih kurang yakin dengan keputusan satu ini. Terik matahari siang pasti akan tertawa puas saat melihat saya kepanasan mengayuh sepeda. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, maka timbul solusi baru. Dengan jaket berkupluk terpasang berlengan panjang, sepasang sarung tangan, celana training panjang, kaus kaki, dan sepatu kets, saya siap membelah siang hari yang katanya bolong itu. Oh, jangan lupa menyumpal telinga dengar earbuds.

Di tengah perjalanan, saya berkeringat hebat. Sebagai tipe manusia yang duduk-doang-bisa-berkeringat, ini bukanlah fenomena baru. Dan saya baru tahu, kendaraan pemerang pemanasan global ini rupanya tidak bisa sedikit pun memerangi kepanasan yang terkandung di dalam badan (ibu pertiwi kali ah). Karena tidak kuat, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon mangga, sambil ditemani semut merah yang berbaris di dinding menatap kucuriga, seakan penuh tanya, “sedang apa di sini?” “menanti teduh,” jawabku.

Catatan Badan; Baiklah, jika diteruskan, tulisan ini hanya akan makin dipenuhi drama murahan sampai ber-season-season. Saya pun telah lelah untuk mengeksplorasi level kegaringan sampai layer paling dalam. Saya hanya ingin menyampaikan, di zaman sekarang, kita, manusia, akan melapisi semua akses tubuh dari dunia saat hendak ke luar rumah. Ada masker untuk melindungi paru dari polusi. Jaket tebal supaya pori-pori tidak melebar akibat tersengat matahari abad duapuluh satu ini. Topi, sarung tangan, bahkan telinga pun ikut disumpal oleh bebunyian musik artis luar (yang tanpa disadari telah membuat kans sapaan “selamat pagi, siang, sore, malam” dari orang yang mungkin kita kenal bisa terlewatkan). Ibu saya bisa bercerita panjang lebar jika ditanya ada hubungan apa antara masa mudanya dan bulir-bulir keringat. Tanpa lapis apa-apa, Badarmah muda ke luar rumah bertemu dunia. Ia tak perlu repot tubuhnya akan melemah akibat menghirup campuran oksigen dan karbonmonoksida. Setiap hari. Di mana-mana. Tetapi tidak dengan saya. Jika kelak keturunan saya menanyakan hubungan serupa, antara keringat dan saya, bisa dipastikan kami berdua hanya akan mengalami keheningan panjang sambil menatap mesin pendingin ruangan. Kita memang memiliki kontrol penuh atas kebebasan. Tetapi kebebasan itu pula yang akhirnya membatasi kita. Tak henti-hentinya saya terus berharap kepada makhluk-makhluk hijau di pekarangan rumah, agar mereka selalu berproses sebagaimana mestinya tapi kalau bisa ya semaksimal mungkin. Karena sampai detik ini, saya masih tidak memiliki solusi. Mungkin menikmati kondisi yang ada adalah satu-satunya pilihan. Entah unsur gas apa yang menghantui saya di jalan raya, pokoknya hajar saja.

Catatan Kaki; Tolong coret kata “doang” pada alenia ketiga baris kedua, karena mengonsumsi es krim di tengah hari merupakan solusi gemilang paling brilian abad ini. Dan tulisan ini hanyalah tulisan catat tak berguna, hanya ada Catatan Kepala, Badan, dan Kaki saja. Tanpa ada Catatan Telinga, Mulut, Hidung, Tangan, Rambut, Mata, Lehe..ok, cukup.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s