Orientasi Bahasa Terhadap Maksud

(Ditulis 23 Desember, 2012.)

Translator

Belakangan ini, kemampuan berbicara saya semacam menjadi sangat terbelakang. Tak jarang, saya justru membisu di tengah kalimat yang belum kunjung saya selesaikan. Peristiwa ini baru saja saya alami sore tadi, saat sedang bilang “pasti lebih di…. ,” ada jeda yang begitu lama sebelum akhirnya saya mengucap “pentingkan”. Padahal bukan itu juga yang saya maksudkan. Setelah beberapa selang waktu, saya baru  mendapat kata “prioritaskan”-lah yang harusnya saya sebut. Dan saya sedikit menyesali perkara selip bahasa tadi. Memang maknanya tidak bergeser terlalu jauh, tetapi tetap saja saya merasa tidak puas. Menjadi begitu insecure dengan bahasa seperti ini amat merepotkan. Di kepala saya beredar duapuluh enam huruf berlari-larian, dan tugas saya adalah menangkap mereka, untuk selanjutnya menyusunnya menjadi sebuah kata lalu membentuk sebuah kalimat utuh dari sumber daya yang ada, pelbagai huruf tadi maksud saya.

Ini juga pernah terjadi ketika pembicaraan saya dengan orang asing beberapa waktu kemarin. Entah mengapa otak saya mandek memproduksi kata-kata yang seharusnya bisa dengan gampang saya keluarkan. Seketika saya gelagapan. Semua vocab di kepala lenyap. Akhirnya bahasa tarzan bertindak.

Di kasus pribadi, manifestasi lewat bahasa ucap cenderung lebih menyulitkan. Beda dengan bahasa tulis yang masih menyediakan fitur edit, tambalsulam, dsb. Hal inilah yang perlu sekali untuk saya latih. Saya sadar benar kadang-kadang saya terlalu difensif untuk menyampaikan maksud. Tidak mau menyinggung perasaan, tidak mau ribet dengan topik yang sedang diangkat, dan pelbagai alasan lain yang cenderung membikin saya repot sendiri.

Mungkin ikut pelatihan public speaking perlu saya lakukan. Saya masih tidak bisa membawa diri di berbagai situasi yang berbeda. Atau jangan-jangan memang ada yang salah dari dalam diri saya. Bisa dilihat sendiri bahkan lewat bahasa tulis pun saya suka kadung menyampaikan hal-hal tidak jelas begini. Saya ingin sekali menjadi orang yang ceplas-ceplos saat berbicara. Dulu saya seperti itu, tapi seiring berjalannya usia, kemampuan berbicara itu hilang entah ke mana. Usia memang mengubah segalanya dan tidak selamanya ke arah yang baik. Sebagai catatan pribadi, saya benar-benar harus berubah di sektor ini. Agar ajakan Ngobrol, yuk! akan menghasilkan kegiatan dua orang yang bercakap-cakap sebagai manusia. Bukan kumpulan insan digital yang duduk berhadapan dan memainkan gadget masing-masing, kemudian bubar seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ini pe-er pribadi.

 p.s

Apakah ada yang mengalami hal yang sama? Sebutkan pula usia agar dapat menjadi acuan saya. Ehem.

Advertisements

6 thoughts on “Orientasi Bahasa Terhadap Maksud

    1. Maksud diterima. Namun hidup tidak hanya berdiri dalam satu maksud, biasanya maksud-maksud lain akan menyusul maksud tunggal yang mati2an kita perjuangkan. Sampai sini, aku bingung. Baiklah, maksudku adalah, memperkaya perbendaharaan bahasa tidaklah buruk, pun aku tidak bilang akan baik. Ya bergantung pada kerelatifan sisi mana sudut pandang yang digunakan. Mari bingung bersama-sama.

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s