Setahun Tanpa Marah

(Ditulis 20 Januari, 2013.)

Didapat dari Google Image Search dengan katakunci: Angry.
Didapat dari Google Image Search dengan katakunci: Angry.

Menginjak akhir Januari ini, saya dapat memastikan bahwa sudah lama sekali saya tidak marah. Mungkin setahun, karena patokan saya adalah hari ketika ayah saya meninggal empatbelas Januari kemarin. Rasa itu telah lama hilang dari dalam diri saya, belum musnah, saya juga tidak bisa menjamin kelak di masa depan saya dapat meredam semua momentum Uranium yang dapat meledakkan nuklir marah saya. Saya bukanlah saya ketika sedang marah. Di taraf marah ringan, saya hanya akan diam di kamar sendirian, bergelap-gelapan dengan suara musik bersaut-sautan. Tetapi saat sedang puncak-puncaknya, saya akan membanting barang, jantung berdebar kuat, dan saya jamin akan tidak baik untuk disimak. Terakhir, laptop pertama saya berakhir mengenaskan, hancur berkeping-keping, lalu saya rendam di bak mandi. Setelah itu tentu saya menyesal bukan main. Saya benci ketika saya marah.

Seiring berjalannya waktu, saya cenderung malas marah. Ketika ada hal yang mungkin saja di kasus orang lain dapat dengan mudah menyulut emosi, belum tentu di kasus saya. Bergantung. Saya tidak merasa ini baik, tidak pula buruk. Marah diciptakan untuk … tidak tahu, tapi saya menyadari beberapa hal. Kadang-kadang, ada masalah yang memang harus diselesaikan dengan marah. Namun, masalah ini mesti tidak berkualitas. Sulit untuk menjelaskan, mudah-mudahan kalian mengerti dengan apa yang saya maksud. Dan di kasus lain, marah juga dapat mengatur ulang sebuah hubungan. Maksud saya begini, anggaplah ada sebuah rak yang penuh dengan buku, dan ketika saya marah, saya hambur-hamburkan keluar semua buku itu. Apa yang terjadi? Ya berantakan. Tetapi setelah show time marah selesai, saya akan merapikan buku-buku tadi. Apa saja bisa saya temui, mungkin buku-buku tadi banyak debu, kemudian saya bersihkan satu persatu, atau saya dapat “menyusun ulang” buku-buku tadi berdasar warna, ukuran, genre, dsb. Jadilah rak tadi bisa terlihat lebih rapi. Ya, seperti itu, pasti ada hikmahnya. Penganalogian saya memang buruk, mohon dimaafkan.

Nah, ketika harus bertukar panggung, apa yang akan saya lakukan? Saat menghadapi orang marah, saya pun hanya tetap diam. Tak jarang, saya akan memasang senyum. Anehnya, saya malah dituduh sedang meremehkan orang yang bersangkutan, entah apa penyebabnya. Senyum saya kurang tulus? Kurang lebar? Kurang tiga jari? Saya angkat tangan. Mem-ping balik manusia marah, akan sangat menghabiskan energi. Belum ada penelitian, mungkin jika dikalkulasikan energi yang digunakan setara dengan kegiatan ibu rumah tangga membersihkan rumah. Di bagian ini, memang pengalaman hidup, tingkat kesadaran, serta penyokong beban hidup lain sangat berperan penting. Menjadi bijaklah, terima apa saja yang diberi orang bersangkutan, resapi, ambil sari pati yang berguna, lalu alirkan keluar. Biar selanjutnya alam semesta yang bekerja. Perlu diingat, manusia tidak akan pernah bisa memukul dan berpikir di waktu yang bersamaan. Untuk pengecualian, situasi ini tidak berlaku bagi atlet tinju.

Setahun sudah saya tidak marah, momen gemilang seperti ini perlu sekali untuk dirayakan. Saya sudah memilihkan seremoni khusus yaitu, MARAH-MARAH?!!!!!!!!!!!!!!!!!! GUE MARAH! PERCAYA DONG, PERCAYA!!! WOY! NYAK, BABE!!! BAGI DUIT JAJAN!

Advertisements

4 thoughts on “Setahun Tanpa Marah

  1. Anger management lo apa selama setahun ini bi?

    Hehe..

    Marahnya sama kaya gue..taraf ringan : diem kaya orang nahan sembelit. Taraf sedang : uring2an gak jelas. Taraf Heboh : banting2 barang.

    Haha..
    Emang marah harus dipelajari n ditaklukan Bi.. Gak baik apapun jenisnya :)

    Tapi setidaknya ada yg bisa memberi hikmah..

  2. Setuju dengan bagian: menghadapi orang marah dengan senyum lebih sering dianggap merendahkan.

    Beberapa kali aku juga mengalami kejadian serupa, padahal maksudnya hanya menghindar dari konfrontasi lebih lanjut.

    Masih belum genap satu tahun sih, tapi mudah-mudahan bisa menyusul Kak Ibnu lebih baik mengendalikan amarah.

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s