Tiga Butir Nasi dan Birokrasi Semut

(Ditulis 03 Januari, 2013.)

Got from google image's search.
Got from google image’s search.

Saat makan siang tadi, pergerakan laju semangat makan saya menurun tajam. Fokus saya terbagi-bagi ke beberapa hal yang tidak penting juga untuk saya ceritakan, alhasil kurang lebih jatah satu jam dalam sehari milik saya habis di depan piring saja. Laju pergerakan ini sungguh merupakan cikal-bakal sebuah pemborosan. Aih, berlebihan.

Di momen-momen akhir sesi makan saya, nasi di piring tersisa sekitar tiga butir. Bingung mau saya apakan, karena mulut sudah sangat enggan menerima lebih banyak asupan (dalam kasus ini, tiga butir nasi sudah termasuk banyak), saya melihat sekeliling meja makan. Mencari sesosok makhluk hidup yang kiranya sedang membutuhkan asupan gizi dari tiga butir nasi. Kemudian, saya mendapati seekor lalat yang konsen pada buah pisang, tidak mungkin ia kepingin nasi. Lagian karbohidrat pada nasi tidaklah baik untuk seekor lalat. Iya, saya ngarang.

Dan pandangan saya berhenti pada seekor semut yang sedang jalan kaki sendirian. Tanpa menunggu waktu lama, nasi tiga butir tadi saya letakkan di depan mata semut tersebut. Kaget, semut tadi memutuskan kabur turun dari meja makan. Saya ditinggal sendirian. Cedih.

Rasa penasaran menahan saya untuk tetap duduk diam di meja makan. Benar saja, tak memakan waktu lama, semut tadi kembali lagi bersama teman-temannya. Ia membawa tiga orang, eh, tiga  semut lain untuk mendiskusikan langkah paling tepat apa yang dapat mereka putuskan terhadap nasi tiga butir ini. Sampai sini, saya berkesimpulan bahwa kaum semut adalah kaum paling rempong ciptaan Tuhan.

Berhubung semut-semut tadi hanya berjumlah tiga orang, eh, tiga semut, sangat mustahil rasanya bagi mereka untuk membawa butir nasi yang beratnya … tidak sampai satu ons itu.

Kemudian mereka berdialog;

Semut satu:                                         .

Semut dua:                                          .

Semut tiga:                                          .

Setelah berembuk cukup lama lewat dialog di atas, semut-semut itu mengambil satu langkah tepat.

Bisa saya gambarkan kejadian yang saya lihat tadi seperti ini:

Dua semut yang cukup kelaparan makan di tempat, karena faktor tadi, nasi ini cukup berat untuk diangkat jadi tidak mungkin take away. McD kali ah. Satu semut berjaga kalau-kalau ada musuh jahil yang berniat jahat mengambil butir nasi. Dan satu semut lain buru-buru pulang ke kampung halaman untuk membawa kabar gembira bahwa telah ditemukan tiga butir nasi di meja makan. Satu kampung, makan-makan!

Kira-kira tigapuluh menit kemudian, satu perkampungan semut yang belum saya namai ini datang ke meja makan. Dari mimik wajah mereka, mungkin mereka sangat bahagia. Saya tidak bisa memastikan karena wajah semua semut kelihatan serupa. Sebagian semut mengerubungi tiga butir nasi, sebagian lagi semacam berjaga di area sekitar membentuk lingkaran dengan sudut π radian. Ngarang total. Lagi-lagi, sorak-sorai semut-semut ini tidak terdengar di telinga saya karena berbeda gelombang. Drama pengangkutan nasi pun dimulai. Sekitar tujuh orang semut mengangkat butir nasi pertama, kemudian sebagian semut lain turut serta mengawal di baris depan dan belakang. Jika di dunia manusia, adegan ini mirip-mirip dengan proses pengawalan pemimpin negara.

Saya hampir mati bosan memperhatikan. Lalu dengan iseng saya memencet mati satu semut yang sedang berjaga. Tanpa berharap apa-apa, hanya iseng saja. Reaksi para kaum semut langsung riuh. Mereka berlarian ke mana-mana. Saya hanya tertawa. Bagaimana bisa aksi kecil saya tadi mendapat reaksi begitu besar untuk para semut ini. Semacam pesan estapet, berita meninggalnya satu semut ini sampai ke telinga tujuh semut pembawa butir nasi. Seketika mereka menjatuhkan butir nasi yang sedang diangkat dan langsung memutuskan ke tempat kejadian perkara di mana korban berada.

Bisa saya simpulkan, tujuh semut ini berasal dari divisi angkut-mengangkut. Semut yang mati tadi mereka bawa pulang untuk … mungkin dimakamkan. Rasa takjub saya berlanjut ketika semua semut ikut membubarkan diri. Para semut ikut mengantar jenazah ke rumah duka tanpa memedulikan tiga butir nasi yang awalnya menjadi fokus mereka. Hampir tidak percaya, tetapi kelakuan semut ini sungguh mengubah sudut pandang saya. Di balik kelakuan ganggu mereka, ternyata semut memiliki ikatan yang kuat satu sama lain. Hari ini saya belajar banyak dari semut. Terima kasih, Sem? Em? Mut? Ya itulah pokoknya.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s