Khazanah Bernama Mama

(Ditulis 22 Desember, 2012.)

Badarmah, EM.Mama adalah manusia paling berarti di perjalanan hidup ini. Kehadiran beliau membawa angin surga bagi saya, ya walaupun saya tidak tahu angin surga itu seperti apa, tetapi mama selalu menghadirkan kesegaran di tiap kesempatan. Mama meninggal tiga tahun lalu, waktu itu rasanya seperti langit meruntuhkan diri. Dunia saya tidak lagi berputar, semua menjadi sangat datar, dan saya menjadi manusia yang mengalami kemunduran di segala bidang.

Maafkan kalau ini akan menjadi ladang curhat, tetapi saya perlu sekali untuk mengeluarkan ini.

Berhari-hari setelah kepergian mama saat itu, salam pulang sekolah saya tidak ada lagi yang menjawab. Yang biasanya saya selalu semringah saat pulang ke rumah, tetapi tidak pada saat itu. Nyawa saya terangkat setengah, roda kehidupan sedang di bawah, tidak mau bergerak ke sisi mana-mana. Saya merasa dunia ini kejam sekali, saya benci untuk bertahan hidup dan segala bau kehidupan.

Mama merupakan manusia paling pertama yang saya tumpahi semua perihal yang menimpa saya, kejadian sekecil atom pun saya ceritakan kepadanya. Saya semacam butuh lalu lintas penghubung antara saya dan dunia saya. Tetapi itu hanya berlangsung sementara, karena saat mama sudah tiada, kepala saya dipenuhi dunia yang tidak bisa saya kontrol pergerakannya. Kepala saya sesak oleh arus informasi yang tidak dapat lagi saya bagi. Saya kehilangan corong penyuara. Saya kehilangan gelombang di mana seharusnya saya berada. Saya kehilangan segalanya. Dunia saya redup, tidak ada lagi cahaya.

Saya tidak ingat jelas apa yang bisa membuat saya bertahan sampai detik ini. Saat itu, saya hanyalah menjalani kehidupan yang ada. Saya menjadikan “bertahan” sebagai titik acuan. Ini penting sekali, tidak setiap kali kita, manusia, mendapatkan “kesempatan” ini. Kehilangan adalah bercandaan Tuhan yang paling tidak lucu, tetapi mungkin Tuhan ingin mengetes kita … entah untuk apa. Cara Tuhan bekerja memang sangatlah misterius, suatu saat kita dibawa ke titik paling tinggi karena Dia ingin melihat seberapa “kuat” kita menangani sebuah puncak, tapi di saat lain, Tuhan bisa saja mengubur kita dalam-dalam di inti bumi. Dia ingin sekali mencoba-coba manusianya ini untuk menjalani berbagai ujian yang telah ia buat, bukan mustahil kelak saya akan dipaksanya melihat di dalam gelap.

Tapi, hey! Di sinilah saya sekarang. Manusia penuh syukur ini hanya ingin bilang kepada mamanya di sebrang kehidupan sana:

Terima kasih, Ma. Di bumi ini sedang memperingati Hari Ibu, hari di mana ibu-ibu sangatlah berbahagia menjadi ibu. Kadang-kadang saya juga bingung buat apa perayaan macam ini dibuat, tetapi inilah kami, manusia, makhluk ciptaan paling iseng di dunia ini hanya ingin bikin seseruan saja, supaya kehidupan tidak terlalu datar. Mungkin. Saya berterimakasih telah diperbolehkan meminjam rahim mama sebagai pintu masuk saya ke dunia, ketahuilah, saya sangat bersyukur bisa hidup. Dan maafkan segala kesalahpahaman yang telah saya buat. Untungnya mama bukanlah Ibu Malin Kundang yang sangat jahat karena tega mengutuk anak sendiri menjadi batu. Saya sangat tidak ingin menjadi anak durhaka sekaligus objek wisata seperti itu.

Baiklah. Kalau ini diteruskan, akan makin banyak ucapan terima kasih dan maaf di segala sudut. Lagi, saya hanya ingin bilang, TERIMA KASIH GENDUT! I love you so muchest.

Selamat Hari Ibu, muggles!

Advertisements

8 thoughts on “Khazanah Bernama Mama

  1. I had gone a-begging from door to door in the village path, when thy golden chariot appeared in the distance like gorgeous dream and I wondered who was this king of all kings!

    My hopes rose high and me thought my evil days were at an end, and I stood waiting for alms to be given unasked and for wealth scattered on all sides in the dust.

    The chariot stopped where I stood. Thy glance fell on me and thou earnest down with a smile. I felt that the luck of my life had come at last. Then of a sudden thou didst hold out thy right hand and say „What hast thou to give me?“

    Ah, what a kingly jest was it to open thy palm to a beggar to beg! I was confused and stood undecided, and then from my wallet I slowly took out the least little grain of corn and gave it to thee.

    But how great my surprise when at the day’s end I emptied my bag on the floor to find a least little grain of gold among the poor heap. I bitterly wept and wished that I had had the heart to give thee my all.

  2. Itu puisi yang ditulis oleh orang dengan inisial R.T di bukunya yang berinisial G. Buku G membuat R.T. memenangkan hadiah Nobel Literatur.

    Saat menulis G, orang tua, istri dan anak R.T. mati berturut-turut. R.T. tidak pernah menjelaskan makna puisinya, tapi hamba tidak bisa tidak berspekulasi bahwa dalam puisi itu, R.T menyiratkan bahwa sang pengemis adalah dirinya sendiri sedangkan sang raja adalah Tuhan.

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s