Gagap Gempita Ranah Maya

(Ditulis 05 Desember, 2012.)

Aku Malu Jadi Blogger Copas!!

Hari ini timeline saya berjalan sedikit ngebut dibanding biasanya. Ada satu akun yang cukup menjadi sorotan beberapa waktu kemarin, hingga hari ini malah. Akun penyandang predikat “tukang copas (copy-paste, red)” ini kembali berulah lagi. Setelah sebelumnya melakukan sihir copy-paste-editsedikit itu, lalu sang bersangkutan meminta maaf lewat satu post di blog pribadinya. Dan hari ini ia mengulangi prilaku yang sama, bedanya tanpa edit-sedikit malah copas otentik yang sangat jelas identik. Mungkin beliau lupa mencantumkan sumber, pikir saya. Tetapi tidak, ternyata. Lewat beberapa rentet tweet, ia menyampaikan (lagi-lagi) maafnya. Tanpa bermaksud melakukan pembenaran dan pembelaan, ia gamblang mengucap, eh, menge-tweet maaf. Perlu dicatat, selain sabar, maaf juga tidak ada batasnya. Jadi kita harus lebih bersabar menerima banyaknya ucapan maaf.

Melepas urusan di atas, kadang-kadang saya sedikit kesal dengan hiruk-pikuk media sosial. Suka berlebihan dan asal-asalan memberi judgemental kepada seseorang. Bukan sekali-duakali saya menemukan akun satu mencibir akun lain. Sering. Lewat pola pikir sempit yang makin dipersempit 140 karakter di twitter, semacam ada saja orang paling berkuasa yang mencoba duduk sejajar dengan yang mahakuasa. Ada. Saja. Ada-ada. Saja.

Andai semua manusia tahu apa enaknya bersikap netral (dan banyak pula tidak enaknya). Mari membahas yang enak-enaknya saja supaya enak. Netral membawa manusia ke titik keseimbangan. Titik paling nyaman untuk menjalani kehidupan (saya rasa). Netral juga memberi spasi kepada kita untuk berpikir sebelum mencibir. Apakah kesalahan orang tadi berdampak signifikan terhadap kehidupan? Kalau tidak, perlukah kita memutar otak 720-derajat untuk memutuskan hinaan apa yang pantas buat orang tersebut? Anggaplah sekali “nyinyir” satu sel otak mati, mungkin hanya diperlukan seorang Syahrini untuk membuat otak ini mati total. Kalaupun ada yang berpikiran nyinyir hanyalah keperluan sebatas “seru-seruan”, baiklah saya menyerah. Koin-koin di rumah menunggu untuk disatupadukan menggunakan selotip, dan bagi saya kegiatan ini lebih seru ketimbang nyinyirsana-nyinyirsini.

Dan saya tiba pada satu kesimpulan, “satu-satunya solusi ya hanya tidak peduli”. Tidak peduli adalah kitab sucinya agama damai. Tanpa dogma apa-apa, mengalir begitu saja. Lagipula, seberapa besar pengaruh sebuah tweet dalam mengubah dunia? Dan agak aneh memang membandingkan antara tweet dan perubahan dunia. Karena semua kicauan tadi hanya menjadi tamu kehidupan. Kehadirannya pernah ada, kadang diingat dan kadang dilupakan. Semua mengalir, meninggalkan membekas, seperti blog-post ini.

Advertisements

One thought on “Gagap Gempita Ranah Maya

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s