Negeri Ikan Koi

(Ditulis 19 November, 2012.)

[Sumber: Google image search.]

Setelah melakukan pengamatan kecil-kecilan selama beberapa pekan kemarin, saya mulai menyadari bahwa seperti ada yang salah dengan negeri kita tercinta ini. Saya tidak sedang berlagak kritis, karena pasti akan menjadi retoris. Biarkan sebentar saja saya mengurai apa yang sudah saya alami dan amati belakangan ini. Semua tentang pemberitaan yang ada di berbagai media massa (teve khususnya). Yang secara tidak sadar sudah barang tentu menjadi “asupan” pokok  semua masyarakat sampai ke lapis paling dasar.

Di suatu hari berlangit mendung, saya mendapat pesan dari teman, kuranglebih berisi,

“Nonton yuk?! Gue sendirian, nih!”

Saya diamkan beberapa saat, malah tidak niat membalas. Selain nampak terlihat akan hujan, saya sedang malas untuk ke luar rumah. Saya ketikan saja,

“Sori, tadi gue ketiduran! :(”

Nanti tinggal pencet send. Itu pun kalau tidak lupa.

Kemudian, saya bergerak ke ruang depan untuk mengambil koran. Dengan ditemani kopi panas, saya mulai menyantap satu demi satu menu yang disajikan oleh para redaktur koran tersebut. Setelah membaca habis sebagian besar topik yang diberitakan, bisa kehitung jari-kelingking berita yang membawa angin segar, sebut saja kebahagiaan. Sebelum bertanya kenapa, malah ada satu artikel tentang isu lingkungan yang cukup gawat saya rasa, seputar keberadaan spesies penyu yang makin hari makin minim jumlahnya. Karena intensitas pencurian telur yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, kuantitas penyu menjadi semakin sedikit dan bisa dibilang mendekati tahap kepunahan. Yang membuat saya heran adalah, artikel semacam ini diberi porsi kecil sekali, berada di pojokan bawah kanan lembar koran. Kalau diukur dengan satuan noninternasional, mungkin seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah saat digunakan membuat gesture peace. Anehnya, saat menengok ke sisi lain, kabar putusnya Raffi Ahmad dan Yuni Sarah malah memakan jatah setengah halaman sendiri. Kalau saja ada alien yang menemukan koran ini, pasti dia akan menilai bahwa tingkat urgensi manusia bumi sangatlah absurd. Atau bahkan dia akan menyangka bahwa bumi adalah dunia paralel bagi dunia mereka. Saya kira.

Setelah dibikin sedikit emosi dengan lembaran-lembaran Koran tadi, saya memutuskan untuk beralih ke depan teve. Tidak jauh berbeda, malah bertambah parah. Semua stasiun teve seakan saling berlomba untuk mengabarkan kabar paling miris yang ada di negeri ini. Anggota DPR jalan-jalan ke luar negeri dengan kedok studi-banding-orwhatsoever, kasus mutilasi dengan potongan tubuh terkecil yang bisa dibuat penjagalnya, pembunuhan ini dan pembunuhan itu, perceraian artis satu dan artis dua, dsb. Seketika saya bertanya, ke mana larinya kabar bahagia??

Bicara soal kebahagian, tidak bisa menolak, unsur inilah yang melekat paling kuat di kehidupan. Tidak ada manusia yang tidak ingin bahagia, tapi mencari kebahagiaan di negeri ini–Indonesia tercinta–tidaklah semudah membalikkan telapak kaki meja. Semacam ada sejumlah oknum yang menyembunyikan itu semua. Tidak usah pedulikan prestasi karena prostitusi lebih menggairahkan. Buang semua solusi karena kolusi lebih enak untuk disimak. Bakar hangus semua kebahagiaan karena masih banyak penderitaan yang harus disebarluaskan. Oknum ini bernama pasar. Dan kemudian akan dipecah lagi ke beberapa subbab-subbab memusingkan. Kebahagiaan bukanlah kacang goreng yang mudah laku di pasaran. Di negeri ini, kebahagiaan seperti ganja. Dijual secara sembunyi-sembunyi hanya kepada orang yang sedang “butuh terbang”. Tidak seperti di Negeri Ikan Koi.

Negeri Ikan Koi sendiri adalah negeri yang sudah lama saya bangun di pikiran saya. Negeri ini tidak begitu mempermasalahkan kebahagiaan dan/ penderitaan. Toh kalau pun dibuat menjadi masalah, itu semua tidak akan berlangsung lama. Karena negeri ini diisi oleh makhluk-makhluk pelupa. Makhluk dengan memori ingat tidak lebih dari lima detik ini akan melupakan segalanya. Lupa akan keberadaan mereka, lupa terhadap segala atribut yang melekat di setiap pribadi mereka, dan mereka akan lahir kembali menjadi makhluk baru. Makhluk yang sembuh, secara alamiah. Karena hanya lewat lupa, kita bisa melakukan dualitas lain sumbu. Membuang penderitaan dan menghadirkan kebahagiaan. Inilah poin yang ingin saya sampaikan. Saya harap, kelak negeri ini akan menjadi Negeri Ikan Koi. Tumbuh manusia-manusia baru yang sudah “sembuh” secara alami. Tidak perlu lagi dijejali berita-berita penyulut emosi. Kalaupun berita seperti itu—yang kata orang—lebih laku bak kacang goreng, saya berdoa semoga semua masyarakat negeri ini jerawatan. Jadi bisa lebih mawas untuk mengonsumsi kacang-kacangan.

Tanpa pikir panjang, saya sambar henpon di atas meja, lalu mengetikkan,

Sori, tadi gue ketiduran! L Eh, pesenin gue tiket! Omw!”

Send.

Advertisements

2 thoughts on “Negeri Ikan Koi

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s