Bukan Review

(Ditulis 10 11, ’12)

Film membuat saya, dan mungkin semua, diberi kesempatan untuk menengok kejadian lain di bagian muka bumi yang lain. Lewat penyajian set tempat, akting aktor dan aktris, cerita, dan segala macam pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, film memberikan kesempatan kepada setiap penontonnya untuk melirik sudut-pandang sudut-pandang lain dari kehidupan ini. Menyenangkan, bukan? Walaupun lewat kepura-puraan.

Tujuan saya menonton film pun beragam, dan tidak perlu saya jelaskan karena tidak begitu penting. Tetapi memang, film pasti memiliki dampak terhadap kehidupan seseorang. Kecuali film pocong-pocongan kali, ya.

Ada satu film yang bisa dibilang “paling” saya suka. Paling di sini karena saya sangat sering menontonnya berulangkali. Entah hanya untuk sekadar melihat ulang bagian tertentu percakapan para pemain di sana, karena itu dapat menaikkan mood saya seketika. Aneh? Iya. Selain film seri Harry Potter yang sudah khatam saya saksikan berkali-kali, ada satu film yang ingin saya, mungkin, “keluarkan” dampak unek-unek yang dihasilkan akibat film ini. Film tersebut adalah The Proposal.

Saya sangat senang dengan cerita film ini. Sederhana.

Margaret dan Andrew adalah bos dan bawahan di sebuah perusahaan urusan kepenerbitan. Margaret yang saat itu akan dideportasi karena melanggar peraturan keimigrasian–karena dia berasal dari Kanada dan sedang bekerja di Amerika, New York tepatnya—terpaksa meminta Andrew untuk menikahinya. Dari sinilah cinta mereka “tumbuh”. *halah.*

Saya tidak hapal nama aktor dan aktrisnya siapa. Apalagi sutradaranya. Bah. Saya adalah orang yang sangat sulit menghapal nama. Tetapi ada satu adegan yang bisa saya rewind berkali-kali. Saat Margaret dan Andrew bercakap-cakap di sisa waktu mereka sebelum tertidur bersama di tempat yang berbeda. Margaret sedang di atas kasur saat itu dan Andrew ada di sisi bawahnya. Kalo saya tidak salah, adegan ini ada di menit ke-58. Ini versi dvd, sih.

Tanpa bertatap muka, mereka mengobrol begitu saja. Margaret yang sudah tidak memiliki keluarga sejak umurnya enambelas tahun itu, mengungkapkan isi hatinya. Saya sendiri senang dengan topik yang mereka obrolkan. Dialog mereka padat berisi tanpa ada bagian yang percuma.

Lewat The Proposal anggapan saya tentang cinta berubah. Cinta tidak melulu menye-menye bagai anak abege, mereka menghadirkan cinta lewat jalan yang tidak terduga. Lewat The Proposal saya mengamati dunia “orang dewasa”, mereka ternyata sama dengan saya, sama-sama manusia *ya menurut ngana?*. Lewat The Proposal pula saya mengetahui, bahwa kisah cinta yang indah hanya ada di film-film saja.

Eh, atau belum nemu yang pas aja nih akunya? #eaaa

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s