Ringkasan Kesan Terhadap Supernova

(Ditulis 07 November, 2012.)

Ini kali kedua saya membaca buah karya Dee Lestari, setelah sebelumnya Perahu Kertas yang baru saja difilmkan itu. Agak jomplang memang saat mengawali kekaguman sesosok Dee lewat Perahu Kertas lalu beralih ke Supernova. Yang awalnya tercitra keren-banget-sumpah sampai kepada keren-banget-suwer-integral-setengah-x-kuadrat. Buat yang belum tau (duh, masa ada yang belum tau? Ciyu…oke, serius? Demi apa?), Supernova sendiri sampai saat ini sudah ada empat seri. Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2001), Akar (2002), Petir (2004), dan Partikel (2012). Dan ini masih akan dilanjut dengan Gelombang lalu Intelegensi Embun Pagi. Dengan sampul khasnya, semua seri Supernova semacam membangun jati diri di benak setiap pembaca. Termasuk saya, mereka semua nyaman di mata dan berkarakter. Semacam itu. [Untuk info lebih lanjut tentang arti di balik semua symbol Supernova, bisa dilihat di sini.]

Setelah menengok isi bukunya sendiri, saya mulai kehabisan mata air kata untuk menggambarkannya. Semua, saya ulangi, SEMUA, menyampaikan nyawa setiap mereka dengan cara yang jenius tak kentara. Isi cerita Supernova bagai labirin kompleks yang akan mengujung kepada limpahan cahaya. Semuanya terang tanpa ada sekat yang menghalangi. Saya jatuh cinta.

Karena Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh-lah jidat saya dibuat mengerut berkali-kali. Pengetahuan umum yang selama ini saya pelajari tak lebih dari segumpal soal tak ada ujung dan penyelesaian, semua dikemas dengan sangat amat epic. Lewat jalur fisika yang dibalut sastra, ataupun sebaliknya, ini adalah karya brilian paling mumpuni yang pernah mampir di mata baca saya. Apalagi saat tau ini ditulis tahun 2001, nggak kebayang surveynya kayak apa. Bisa saya bilang, DEE penulis paling sinting di Indonesia.

Akar. Novel ini membawa saya ke banyak perjalanan batin yang tak mudah untuk saya lupakan. Banyak perenungan panjang “oh iya” yang saya alami ketika membaca ini. Karena banyak merenung itulah novel ini menyita waktu baca lebih lama dibanding KPBJ. Padahal lebih tipis tetapi entahlah, mungkin ini buat saya pribadi. Yang jelas Akar sudah banyak membantu saya membuka tabir yang bahkan sulit untuk saya sentuh selama ini.

Lewat Petir saya sangat terkesan bagaimana cara Dee bercerita. Menurut saya, Petir mengusung tema sederhana dibanding seri lainnya, tapi semua diceritakan secara cantik, apik, dan tidak berlebihan. Tak ada kata percuma. Bahkan tanda baca. Kalik.

Partikel. Sekali lagi Dee berhasil menyita dunia saya untuk tahan berlama-lama di depan ramuan kata-katanya. Partikel adalah seri Supernova yang paling saya suka. Membaca ini seperti naik role coaster tapi pakai emosi. Dibawa naik berkali-kali lalu dihempas turun nggak pakai pengaman. Oke, mungkin ini berlebihan. Paling tidak Partikel bisa membayar jarak waktu menunggu delapan tahun para pembaca setia Dee. Saya, sih enggak. Lah wong baru ngikutin sekarang-sekarang ini. Hehe.

Semua seri Supernova ini seperti buku bergaransi. Semacam ada pakem “tidak puas, uang kembali”, begitu. Karena memang tidak mungkin akan menyesal membeli semuanya lalu menghabiskan waktu untuk membacanya. Kalau saya, sih dikasih sebagai kado ulang tahun. Ya malah untung, toh? Hehe lagi. Saran saya, bacalah serial Supernova dengan pikiran terbuka. Tidak perlu membawa isu SARA dan sebagainya. Nanti ribet sendiri soalnya. Rasakan saja sensasi setelahnya. Selamat membaca. Terima kasih, @aMrazing atas kadonya. Sangat suka!

*Eh, ulang tahun nggak bisa setahun tiga kali aja, gitu? *dikubur.*

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s