Secangkir Teh di Pagi Buta

(ditulis 14 Oktober, 2012.)

Pagi ini saya lewatkan dengan cara yang sedikit berbeda dibanding pagi-pagi sebelumnya. Biasanya jika tidak bisa tidur begini, saya hanya membaca timeline yang tiada habisnya itu (timeline habis, penjara penuh). Tapi tidak untuk kali ini. Aktivitas dini hari di dapur sedikit mengusik kelambanan alur konstan pagi ini. Saat ditengok, ternyata kakak sayalah sebabmusabab itu semua. Sambil mengaduk teh hangat dengan saksama, dia menengok ke arah saya sembari berkata “mau teh juga, dek?” “mau.” “bikin sendiri”. Sial. Begitulah dia, selalu menjengkelkan di saat yang tidak tepat. Tak begitu lama, dia duduk santai di depan teve, menonton acara … apalagi kalau bukan siraman rohani, pagi buta begini. Kalau dipikir, menempatkan acara ketenangan batin di waktu orang masih sangat hidup di alam mimpi adalah ide paling buruk nomor dua setelah memilih Olag Syahputar sebagai pelawak favorit pilihan pemirsa. Sumpah, saya tidak sama sekali-serius-deh-percaya-demi-alloh-masa-kudu-belah-dada-nih pernah ada niat memberi dukungan kepada seseorang yang mengategorikan pelecehan seksual sebagai topik lawakan. Sampai mana tadi? Oh sampai situ.

Tidak sampai lima menit teve itu hidup, kakak saya mencabut kabel power dari pose nyamannya. “Acara rohani kok isinya jual derita masyarakat berkedok curhat, lalu sekadar diberi solusi dengan sepenggal ayat. Kalau orang itu–dari mana tadi? Cimahi?–agak sedikit usaha, dia pasti bisa menemukan ayat apa yang cocok buat masalahnya sendiri. Tidak perlu repot-repot datang ke Jakarta. Pagi buta. Cuma buat dengerin masalahnya dijawab sekenanya.” selanya. Saya hanya mengangguk tidak begitu memedulikan. Toh masalah orang. Kenal juga tidak.  Efeknya apa buat hidup saya. Tapi kakak kekeh melanjutkan, “Jaman sekarang ini masih banyak, dek, orang yang baru akan tenang saat melihat orang lain memiliki lebih banyak masalah dibanding diri dia. Untuk itulah acara tadi dibuat. Entah tuhan salah penempatan atau memang jaman purba belum kelar.” “Iya.” jawab saya sekenanya juga.

“Kamu itu harus lebih peduli dengan lingkungan. Jangan cuma iya-iya tapi bakal protes di belakang. Itulah selemah-lemahnya mental.”

Sampai di sini, saya yakin ada campur-tangan jin atau semacamnya di ramuan teh kakak tadi. Yes, I’m Indonesian.

Lalu obrolan berlanjut tak tentu arah. Dia bercerita begitu capeknya menjadi seorang ibu. Merindukan masa kejayaannya sebagai perempuan berjiwa liar berumur duapuluhan. Lewat ceritanya pagi ini saya dapat mengenal lebih dalam tentang selukbeluk perempuan. Dari siapa lagi saya bakal tahu kalau tanda wanita hamil adalah telat menstruasi, jika bukan dari dia? Atau pembalut bersayap? Atau keputihan? Dan bermacam-macam problematika selangkangan perempuan, my port key to enroll into this world.

Dan waktu berjalan lebih pelan saat obrolan membahas tentang seorang bapak. Sosok misterius yang selama ini  kami segani. Bahkan setiap cuil informasi yang bersangkutan dengan beliau sangat sulit kami cari. Saudaranya siapa saja? makanan favorit? minuman favorit? kata mutiara? moto hidup? (mendadak testimoni). Hampir setahun beliau pergi meninggalkan dunia, namun tidak satu pun dari kami yang merasa kehilangan akan kehadiran beliau. Peran dia memang sudah lama mati bagi kami, anak-anaknya. Kakak bercerita, sebenarnya ia begitu sayang dengan bapak. Bapak adalah teman curhat semasa remaja, namun seiring berjalannya usia, ideologi kakak dengan bapak bertabrakan. Tidak bisa lagi diselamatkan. Itulah mengapa kakak tidak pernah pulang mudik semasa kuliah. “Lebih baik uangnya dipakai buat hal lebih berguna” katanya. “Jadi ketemu keluarga (selain bapak) barang sebentar nggak berguna, kak?” “Kalau kamu bisa melenyapkan—seenggaknya bungkus pake koran—muka bapak selama saya pulang sih, saya bakal ngebela-belain ketemu kalian. Hidup butuh pengorbanan.” begitu cetusnya.  Dengan tatapan dingin ia kemudian meminum teh hangatnya. “Saya sayang kalian. Kalian pasti tahu itu”. Tidak ada lagi yang bisa saya tuntut setelah mendengar ucapan barusan. Ada banyak beban yang harus ia tanggung saat itu. Menyandang predikat-asal sebagai pelacur dari—yang kata orang harus ia panggil–bapak sendiri padahal ia mencari uang—yang kata orang di “jalur halal” itu–demi membiayai kuliahnya bukan hal mudah untuk ditanggung anak ingusan umur duapuluhan awal. “Kamu tahu kan saya ngga bakal melakukan hal hina itu?” “Yes, I know. I trust you every time you inhale an oxygen”. Dia hanya tersenyum. Dihapusnya air mata dua tetes yang sudah meluncur hingga ke dagu itu. Lalu kami berbagi cerita lain seputar bapak. Saya adalah anak yang paling tidak peduli dengan masalah di keluarga saat itu, bayangkan saat baru berumur tujuh, saya harus dipaksa menyaksikan drama keluarga paling tidak berguna sejagad dunia. Bangun tidur, buru-buru berangkat sekolah. Pulang sekolah, main. Selepas main, ke masjid, belajar ngaji. Balik ke rumah, mengungsi belajar di tempat teman. Begitu seterusnya. Sampai saat ini, saya tidak menyesal dengan “pola hidup” demikian. Malah, menurut saya, itu keputusan paling pintar yang pernah saya ambil. Dipaksa menyaksikan adegan laga orang tua sendiri saat itu pasti akan merusak batin saya. Imbasnya saya memunyai “jarak” dengan orang-orang di rumah. Dan baru pagi ini terungkap, kalau bapak sudah menikah duakali sebelum dengan ibu saya. HAHAHAHABODOAMATHAHAHA.

Mendengar itu justru saya terdiam, begitu naifnya saya selama ini. Bahkan sampai detik ini saya tidak pernah mengobrol dengan bapak. Sosok yang semestinya ada di kehidupan setiap orang. Sosok yang tidak pernah ada di kehidupan saya. Saya tidak mengenal bapak sendiri. Merasa bahagia saat pulang ke rumah, bercerita panjang lebar tentang petualangan paling hebat yang pernah saya buat. Atau meminta acuan hidup sebelum membuat langkah pertama keluar dari rumah. Setidaknya salim tangan ke bapak sebelum berangkat ke sekolah. Saya. Tidak. Pernah.

Dih. Begitu bodohnya diri ini.

Kakak juga tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus dosanya dengan bapak. Dia merasa sangat bersalah sekali kepada bapak. Sayang, dulu dia tidak memiliki keberanian untuk memaafkan bapak dari dalam diri sendiri. Lalu langsung pulang ke rumah. Meminta maaf atas segala salah. Atas segala kekeliruan. Atas segala salah paham, beda pendapat, tidak rela mengesampingkan ideologi naifnya itu. Ya, kami semua sebodoh itu. Justru saat paling bubur untuk sadar perihal peran seseorang di kehidupan adalah saat di mana ia telah pergi dari dunia. Dan saat paling nasi untuk mencegah itu semua, adalah berdamai. Dengan diri sendiri terutama.

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Hanya menyimpan sesal sambil terus mendoakan. Bapak akan selamanya menjadi sosok misterius di kalangan anak-anaknya. Mungkin kodratnya harus begitu. Apa boleh buat. Oh, saya juga baru tahu kalau bapak selama ini mengidap diabetes, penyakit yang berpotensi besar menurun ke generasi seterusnya. Dan teh saya pagi ini amat sangat kelebihan gula. Sial. Umur berkurang.

Eh, memang bisa nambah?

Advertisements

3 thoughts on “Secangkir Teh di Pagi Buta

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s