Kelaparan

(Ditulis 01 Oktober, 2012.)

Keasikan menonton film seharian membuat saya lupa untuk mengganjal perut dengan makanan. Sebenarnya perut sudah berkali-kali mem-ping minta sesuap nasi, tetapi tetap saya abaikan. Alasannya, saya tidak begitu menyukai aktivitas memasukkan segala macam benda yang biasa kita sebut “makanan” tadi ke dalam tubuh ini. Bah. Makan itu bikin cape, serius. Menggerakkan rahang untuk melunakkan makanan, lalu melakukan sedikit dorongan ke dalam tenggorokan, sampai ke lambung, lalu beres? Oh, tentu belum. Hasil olahan zat buang tadi perlu kita antarkan kembali ke dalam perut bumi lewat toilet. Di samping jalan ke toilet sendiri membutuhkan energi, lalu kita diharuskan lagi untuk berkontraksi, dan, blah. Saya tidak mau melanjutkan imajinasi ini membayangkan hal-hal menjijikkan setelahnya.

Jika masMol (@nisankubur) membaca ini, pasti saya akan diceramahi semacam,

“Bib, orang-orang di [masukkan daerah dengan statik orang-yang-menderita-kelaparan paling tinggi di sini], dan kamu masih saja mengeluh untuk sekadar melangkahkan kaki ke dapur, menyambut bahagia semua makanan yang ada, dan bersyukur atas itu semua? You son of a bitch!”

Atau masMol bisa membuat itu lebih sarkas lagi, lagi, dan lagi. I love that guy anyway.

Saya hanya membayangkan, siapa sosok yang pantas disalahkan atas segala macam permasalahan yang berkaitan dengan makanan ini. Setelah menimbang kesana-kemari, saya menemukan sosok yang harus bertanggung jawab atas ini semua, dia adalah Tuhan. (peace god, I love you too.)

Wondering, jika dulu Tuhan menciptakan manusia minus fungsi membutuhkan makanan, alangkah bahagianya hidup ini (ya kalau hidup ini bahagia, sih).  Saya dapat menonton film seharian tanpa gangguan ping-y thing dari perut ini dan masMol tentunya akan lebih berbahagia karena tidak ada lagi orang-orang yang menderita kelaparan di dunia (puas, mas?).

Tidak ada lagi ibu-ibu yang mengutuk pemerintah saat harga sembako naik bahkan-hanya-sepuluh-rupiah. Tidak ada lagi orang-orang yang kelebihan gula darah, darah tinggi, darah rendah, atau sekalian ngga usah punya darah, eh? Tidak ada lagi kecap, tidak ada lagi risoles, tidak ada lagi masakan padang, wait, what?!

Mungkin Tuhan bisa memperbaiki berbagai bugs kehidupan ini di sesi reinkarnasi kelak *ya kalau ada, kalau ndak ada juga ndak apa.*. Oh, satu pesan lagi, manusia itu butuh sayap. Sumpah, membayar harga tidak masuk akal sebuah maskapai penerbangan saat musim mudik tiba adalah siksa nerka versi beta yang ada di dunia. Manusia butuh sayap. Manusia butuh bisa terbang. Manusia memang banyak maunya.

Selamat makan.

Advertisements

2 thoughts on “Kelaparan

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s