Susah Pindah

(Ditulis 25 September, 2012.)

Permasalahan hati memang selalu menguras energi. Apalagi belakangan ini saya sering bunuh diri dengan mendengar playlist pemutus urat nadi dan seketika itu pula mood terbawa suasana seolah tidak akan pernah merasa bahagia *dihisap dementor kali ah*. Saat dimana semua lirik lagu sendu terasa “masuk akal”, merasa sangat kesepian bahkan di tengah keramaian, merasa Melly Goeslow adalah alien yang bisa merangkai nada. Seolah isi semesta bekerjasama membuat dunia berjalan tidak seperti biasanya. Hasem. Macam ababil gini.

Hmmm. Jadi begini ceritanya. Kemarinnya kemarin, yaitu kemarin lusa, saya hampir tidak jomblo lagi (jaman sekarang jomblo itu kayak kumpulan manusia hina dina, padahal sih biasa aja, eh?). Hampir, kalau saya tidak menolak ajakan si doi *cek KTP* buat jadian. Permasalahannya adalah … saya. Ndak ngerti, pokoknya merasa belum siap untuk menjalin hubungan baru. Malas untuk senyam-senyum sendirian (pacaran atau gila, mas?), malas untuk (melakukan formalitas) mengingatkan dan/ diingatkan makan, dan sejuta aktivitas bodoh lain yang akan terlihat pintar saat pacaran. Hanjir, makin ababil.

Dibilang belum move on ya bukan. Move on sudah, sudah terlalu malah. Sekarang dengan mantan ya begitu-begitu saja. Masih sering komunikasi dan cenderung bercanda, the point is semuanya sudah baik-baik saja. Kembali seperti sedia kala, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Awalnya memang memutus segala media komunikasi supaya terlaksana itu yang namanya move on. Berhasil walau memang agak sedikit berlebihan. Lalu masuk ke tahap membuka kembali akses komunikasi, mulai membuat kontak kembali, dan ya itu tadi, semua berjalan seperti biasa. Memang hal paling sulit adalah berdamai. Berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

Jadi ini semua ada apa? Saya merasa kosong sekali. Plong begitu rasanya. Perasaan begini terjadi hanya musiman, sih. Memang menulis bisa menjadi solusi penyembuh jitu untuk segala macam perasaan. Sedih, susah, pilu, bahagia, semuanya. Ya kalau sudah begini biasanya tak nikmati saja.  Terus si doi sudah ngga menghubungi lagi sekarang. Bhahaha. Biarkanlah. Untuk kedepannya saya akan lebih kedepan lagi. Ndak usah dibikin susah. Dan Jangan pernah berharap banyak pada berharap banyak.

Selamat siang.

Oh iya, sebentar lagi kan saya ulang tahun ini, coba disiapin kado gitu. :p

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s