Ada Yang Hilang

(Ditulis 14 September, 2012.)

(nama: anak tadi)

Pada suatu malam yang gelap, terdapat seorang anak berupa rupawan, senyum elegan, dan belum makan. Pada saat yang sama di atas meja makan, terdapat pula nasi yang seksi beserta lauk-pauk yang sederajat dengan camilan. Meliputi ayam bakar, sayur-mayur segala rupa, segelas susu hangat sesuai kaedah empat sehat, lima sempurna, enam perut kenyang mau meledak. Perlu diingat, ini semua “sederajat camilan”, catat.

Dan itu semua terjadi di rumah saya! Perlu diingat, “di rumah saya”. *disemir pemirsa.*

Karena tuntutan zaman, anak tadi (yaitu saya) melahap habis semua nasi yang seksi beserta lauk-pauk sederajat dengan camilan. Lalu keliyengan dan memutuskan untuk berbenah sebentar di atas kasur kesayangan. Merasa bosan dengan keheningan yang ngga hening-hening amat, anak tadi (yaitu saya) merogoh celana dan mengambil benda hitam, panjang, dan memiliki banyak … tombol. Ya, benda tadi biasa disebut remote tv.

Mungkin banyak yang heran kenapa anak tadi (yaitu saya) bisa-bisanya mengantongi remote tv? Heran? Karena … nggg, sampai tulisan ini diturunkan, jawaban atas pertanyaan standar tadi belum ada isiiannya *dikira ujian.*. Usut punya usut, anak tadi (yaitu saya) juga pernah membawa benda yang sama ke Dunkin Donut kesayangan kita semua. Bawa remote tv ke Dunkin Donut? Semacam inovasi di dunia pertelevisian.

Setelah memencet salah satu tombol remote tv berwarna merah, sedetik kemudian … tidak terjadi apa-apa. Mungkin kurang ikhlas, tandasnya. Sambil mengikhlaskan hati suci miliknya, ditekanlah sekali lagi tombol berwarna merah tadi. Sedetik, dua detik, tiga detik, tetap tidak terjadi apa-apa. Ikhlas sudah, lalu apa lagi? Saat memandang poster Albert Einstein di dinding kamar, anak tadi (yaitu saya) seperti mendapat petunjuk. Petunjuk untuk NYOLOKIN KABEL POWER TVNYA. BAHAHAHA. *diludahin pemirsa di rumah.*

Ya maap.

Setelah tv hidup. Eh salah. Tv nyala, apa masalah di kehidupan ini beres? Oh tentu tidak. Menimbang tv di kamar anak tadi (yaitu saya) hanya memiliki antena UHF untuk menangkap sinyal, ya jadi menu utama di tv miliknya hanya berupa tv-tv Indonesia. Setiap channel berganti hanya terdapat muka-muka ini:

  1. *lg* Sy*hp*tr*
  2. R*b*n *ns*
  3. *ndr* B*kt*
  4. J*ss*c* *sk*nd*r

(untuk kepentingan bersama, nama-nama di atas terpaksa harus kami sensor, ttd Admin baik).

Tidak mau mengambil risiko gagal ginjal, anak tadi (yaitu saya) segera mematikan televisi miliknya tanpa pikir panjang seperti saat menghidupkan.

Tv mati. Hidup sedikit tenang. Sebentar, iklan dulu.

(nama: iklan)

Untuk menarik perhatian anak tadi (yaitu saya), laptop di ujung kasur memasang pose paling seksi yang ia bisa. Biasa disebut kaum laptop, pose diam-ngga-ngapa-ngapain. Karena tergoda dengan keseksian pose diam-ngga-ngapa-ngapain, anak tadi (yaitu saya) tergugah hatinya untuk memencet tombol power pada bodi laptop. Setelah tombol ditekan, terdengar bunyi “Awww”. Mendengar bunyi demikian, anak tadi (yaitu saya) tidak tinggal diam. Menimbang pepatah kuno mengatakan, “diam itu emas, bergerak itu lemas”. Kemudian ia mencari sumber bunyi tadi dengan … ngga melakukan apa-apa alias diam. Supaya dapet emas, atau paling tidak mas-mas. :”>

Atas berkat rahmat  Tuhan yang maha esa, diketahuilah sumber bunyi tadi. Ternyata kakak anak tadi (yaitu saya) menginjak pecahan kaca atas ulahnya sendiri. Terjawab sudah. Semua tenang. Hore. *digebukin pemirsa.*

Setelah laptop hidup, mata anak tadi (yaitu saya) mulai sayup-sayup. Ada gerakan pelan namun pasti di kelopak matanya. Biasa disebut gerakan menutup. Tanpa sadar anak tadi (yaitu saya) mengarahkan kursor di laptopnya ke beberapa langkah kecil yang berdampak besar. Kira-kira begini langkahnya:

  1. Klik Windows Explorer (berjalan di alam bawah sadar)
  2. Klik kanan di salah satu partisi berjudul “Data (E:)” (masih di alam bawah sadar)
  3. Klik format (tentu di alam bawah sadar)
  4. Langkah akhir, klik start.

Saat proses berjalan, mata anak tadi (yaitu saya) langsung terbuka lebar sembari berkata ALLOHUAKBAR. Seperti kata pepatah kuno “Nasi sudah menjadi bubur, perbanyaklah makan sayur”.

Anak tadi (yaitu saya) mencoba ikhlas saat melihat isi partisi berisi data-data penting miliknya ludes keformat. Apa mau dikata. Antara mau pipis, mau minum, atau mau lanjutin tidur semua campur aduk jadi satu. Sambil tetap beristiqomah, anak tadi (yaitu saya) memilih untuk melanjutkan tidur. Ya sudahlah ya. BAHAHAHANJENGHAHAHA.

*nangis darah.*

TAMAT.

(pemirsa tepuk tangan)

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s