Mencari Cara Menikmati Jakarta

(Ditulis 04 September, 2012.)

Akhir bulan lalu, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Jakarta. Kesan pertama setelah lama tidak ke sana adalah, makin panas dan berantakan. Trafik jalanan yang acak-adut membuat saya trauma untuk sekadar menikmati perjalanan pulang ke rumah. Gambir – Slipi? Dua jam saja! Hahaha. Saya bahagia hidup di Jakarta.

Saat tiba di rumah, saya langsung mandi melepas gerah. Gila. Bagaimana bisa jutaan manusia bernyawa bertahan hidup di kota yang macam neraka?  Jawaban atas pertanyaan ngelantur tadi saya pikirkan sampai tertidur.

Tidak berlebihan rasanya banyak dari teman saya yang mengeluh akan keadaan Jakarta sekarang ini. Saat saya berkeliling Jakarta—Iya, sedirian—mudah saja bagi saya menemukan alasan keluh kesah yang tanpa ujung pangkalnya ini. Masyarakat yang tidak begitu peduli dengan orang-orang di sekitar, (lagi) keadaan jalanan yang semacam gumpalan benang hasil adu cekatan selusin kucing vertigo, dan bagi saya ini yang paling penting, harga makanan yang kurang manusiawi (blah, pecel doang 12rb? pake sayur organik?). Semakin dirunut, semakin keliyengan kepala saya untuk menemukan cara menikmati Jakarta.

Karena saya adalah manusia paling kurang kerjaan di dunia, maka saya sudah melakukan sedikit percobaan untuk memuaskan rasa kepenasaran di hati yang masih kosong ini. Saya bereksperimen untuk memasang senyum kepada setiap orang.

Setiap berpapasan dengan manusia, saya selalu menarik ujung bibir ke arah yang berlawanan, di mal, trotoar, halte busway, sampai di toilet bioskop pun saya lakukan. Hasilnya? Bhahahak. Kebanyakan sih memasang mimik aneh (mungkin dipikir saya orang gila. padahal? iya). Paling hanya satu dua yang membalas dengan (tetap) memasang gestur aneh di wajah mereka. Blah, di Jakarta ini semacam sebuah senyum saja sangat mahal harganya. Peluang usaha nih. Bisnis senyum.

Untuk urusan jalan, saya angkat tangan. Memilih moda transportasi di Jakarta adalah persoalan sejuta umat. Naik taksi? Macet, miskin mendadak. Naik ojek? Asap kendaran, kanker paru-paru. Mobil pribadi? (tetap) Macet, darah tinggi. Jalan kaki? Radiasi matahari, kanker kulit. Asap knalpot, sesak nafas. Terlalu jauh, parises. Kalau begini caranya, berpindah tempat di Jakarta = menambah riwayat penyakit di silsilah keluarga. Mau nyaman? Helikopter. Tiada lain pilihan.

MAKAN! Tidak bisa ditolong. Di Jakarta seperti ada tembok pemisah antara kata “murah” dan “enak”. Hanya boleh memilih satu dan mengesampingkan satu yang lain. Dan butuh dana ekstra untuk menambah kata “sehat”. Errr. Beginilah susahnya hidup di Jakarta.

Dengan semua probemakimia (ngga suka matematik) ini, memang hanya orang-orang pilihan yang mampu bertahan hidup di ibukota negara tercinta. Tapi jujur, Jakarta itu ngangenin! Entah pesona apa yang dimiliki si Jakarta, somehow, ada secercah rindu menggebu *muntah emas monas.* saat meninggalkan kota nista ini. Untuk itulah saya berjanji, suatu saat nanti, saya akan menemukan sendiri, sebuah cara menikmati Jakarta.

Walau pun tidak akan mudah. :|

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s