Tiba-tiba Pengin Nulis

(Ditulis 27 Agustus, 2012.)

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan:

1. Beberapa

2. Hal

Udah.

Pernahkah Anda-anda yang sedang berbahagia merasa bingung dengan kejutan yang hidup berikan? Saya sedang merasakan sindrom ini. Sebut saja sindrom-bingung-namain-sindrom. Saat semua sudah bulat, seperti ada saja yang berusaha membuat semuanya tadi menjadi lonjong, bahkan elips yang cenderung panjang. Kalau hidup ini seperti surprise party, artinya dalam satu tahun saya berulang tahun lebih dari satu kali? Bah bakal cepet tua gini caranya.

Dampaknya pun bermacam-macam; Senang, stress, sampai nano-nano (ketahuan umur. masih 18 tahun. oh).

Sebagian orang sangat ambisius dengan ambisi masing-masing, sebagian lagi hidup santai karena memang tidak punya target hidup. Bukan tidak punya, tapi tidak muluk mungkin ya. Saya bahkan hampir lupa kapan terakhir kali saya menggebu karena ingin mendapatkan sesuatu. Bisa jadi penyebabnya adalah berteman dengan rasa “cukup” dan tidak berminat kenalan dengan “syirik” (ini @mamahdedeh).

Dan yang paling penting untuk selalu diingat–ini sudah saya praktikan sendiri dengan kemampuan kamuflase yang saya punya–adalah; “Usahakan untuk selalu bahagia, saat itu juga”. KakAlex (@aMrazing) yang mengatakan ini kepada saya. Sangat sederhana tapi begitu mengena. Begini ceritanya..

Saya suka membaca. Dan saya masih bergantung dana pada supply kakak saya. Apa kolerasinya? Masih belum ngerti? Baiklah, akan saya berikan klu: Toko buku. Buku. Beli. Akhir bulan. Nah itu dia. Momen ketika uang merah cerah satu-satunya di dompet dan buku hitam garis hijau bulat dari seorang Dee. Siapa yang harus diutamakan? Perut atau kerut (di wajah maksudnya. kan karena ngga bahagia tadi. tolong hargain dong ini udah susah mikirin rhyme-nya. ya udah)?

Pada puncaknya, atas nama kepuasan naluriah, saya tukarkan uang merah cerah satu-satunya di dompet dengan buku hitam bergaris hijau tadi. Bahagia? Bahagia. Menyesal? Sedikit. Kenapa? Asupan gizi di tubuh mesti tak kurangi soalnya. *telpon menkes. mendiknas. dan men-men lainnya.* Tapi apalah artinya uang. Uang bisa dicari. Oleh kakak sendiri. Hore.

Setelah membaca buku tadi saya sangat bahagia. Dan saya kagum dengan Dee Lestari. Dia sinting. Itu saja.

Saya sangat menghargai keuletan Anda-anda sekalian karena masih setia membaca sampai paragraf ini. Anda adalah orang-orang terpilih. Karena pada hakekatnya semua manusia itu orang-orang pilihan dan juga setiap manusia itu istimewa. Sebentar, kalau semuanya istimewa, di mana istimewanya? Ya istimewa di jalan masing-masing dong pastinya. *mendadak golden ways, golden gates, dan golden-golden lainnya.*

Kabar gembira: ini adalah paragraf terakhir. Mari rayakan dengan mendengarkan satu cerita lag….*dibuang ke sungai nil.*

Pesan saya cuma satu: jangan pernah menyerah dengan keadaan, karena pasti ada jalan. InsyAlloh. (ini maher zain)

Berikutnya serahkan saja pada dunia, kemana pun ia membawa Anda, anggap saja sedang diajak jalan-jalan intim berdua. Terus saya mau jujur tentang satu hal: SAYA BINGUNG MAU NGABISIN TULISAN INI GIMANA. Gini aja ndak apa-apa ya. Iya.

Selamat malam, selamat menyebrang.

Advertisements

3 thoughts on “Tiba-tiba Pengin Nulis

  1. Ada pepatah, lebih baik menyesal uang habis dibelikan barang ketimbang menyesal tidak jadi beli barang tersebut. hihihi. #gituAjah

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s