Hidup Hidup Absurd

(Ditulis 18 Agustus, 2012.)

It’s not easy to be me.” and “I love to be me.

Dari kecil saya sering sekali dipanggil teman-teman dengan sebutan “aneh”. Karena saya suka tertawa sendiri, berbicara sendiri, sampai tiba-tiba menangis sendiri yang bahkan saya tidak tahu apa sebabnya. Saya juga punya teman khayalan sewaktu kecil, namanya Felix. Dia sangat baik. Hanya dia tempat saya berbagi keluh-kesah di tengah ketidakstabilan kondisi sosial keluarga saat itu. Di umur saya yang berjalan 10 tahun, dia terpaksa pergi. Ada urusan yang tidak bisa ia tinggal katanya. Tapi dia sudah berjanji, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum pernah melihat lagi rupa wajah hijau dia.

Sifat hidup abnormal ini terbawa sampai hari ini. Saya pernah mengajak ngobrol orang di jalan, dan di tengah obrolan berlangsung, saya tinggalkan saja dia karena saya tidak merasa cocok dengannya. Tanpa sepatah kata, ya hanya pergi saja. Saya sangat senang melakukan hal-hal baru, atau hal-hal yang biasa saya kerjakan tapi saya perbarui cara mengerjakannya. Saat naik eskalator misal, saya pernah turun dengan tangga naik. Saat itu sehabis nonton midnight, tangga turun begitu penuh sesak oleh orang yang sehabis nonton bersama saya, karena terburu-buru dan ide gila ini muncul, saya turun dengan tangga naik di sebelahnya. Semua mata tertuju pada saya saat itu, sambil tertawa-tawa saya berusaha keras melakukan turun dua kali-naik sekali. Memang sangat menguras energi, begitu sampai di lantai bawah, saya tertawa puas sambil meredam rasa malu. Ehem. Tapi yang penting saya bahagia, toh? Hore.

[Prambanan, 14 Agustus 2012.]

Karena merasa jengah dengan aktivitas monoton di rumah, saya memutuskan pergi ke Candi Prambanan, sendirian. Ngapain? Ngga tahu. Firasat saya mengatakan harus pergi ke sana saat itu juga. Awalnya kakek bilang “ndak usah, ngapain di sana, ndak ada apa-apa”. Tidak saya gubris wejangan kakek, setelah browsing sana-sini cara sampai ke sana. Saya berangkat. Sampai di sana saya baru sadar, “NGAPAIN DI SINI?”. Bhahahak. Kepalang tanggung sudah sampai masa mau langsung pulang, ya saya berkeliling saja. Bulan puasa begini memang jarang sekali turis domestik yang memutuskan pergi ke sana, berhubung saya turis dodolmestik, ya jadi hanya saya saja orang yang berbahasa Indonesia di sana. Berkeliling sebentar di Prambanan membikin saya kagum dengan orang-orang jaman dahulu. Menyusun batu-batu begitu bisa jadi bagus (?). Ya komentar paling pintar inilah yang hanya bisa saya berikan.

Saat melihat semua orang sedang berfoto, saya baru sadar (lagi), “KOK NGGA BAWA KAMERA? HAH?” lalu saya tertawa. Semacam bodoh sekali kalau saya ke sini tapi tidak ada satu pun bukti konkret yang bisa dipamerkan (hoek) ke teman-teman. Kemudian saya berjalan mendekati russian, dia sendirian. Jauh-jauh dari Rusia sendiran? Mblo..

Berbincang sebentar saya mengetahui namanya, Tim biasa ia disapa. Atau nama russianya Orchom. He told “that’s weird name..“ Saya hanya tertawa, pas sekali di sini, Orchom dari Russia dan Oncom dari Indonesia. *garing mas.*

Langsung saja saya menyampaikan maksud saya berkenalan dengan dia, minta tolong fotoin. Freak. Saya meminta dia mengambil gambar dengan iPhone kepunyaannya, dan mengirimkan foto tadi ke e-mail saya. Double freak. Dia menyambut baik kebodohan niat saya tadi. Setelah dikirim saya senang bukan main. Lalu kami berkeliling candi bersama, dan sebagai balasan, saya ajak dia makan soto kudus favorit saya. Ternyata dia suka. :D

Setelah berpisah, kami masih berkomunikasi lewat e-mail tadi. Kebetulan? Mungkin. Sudah diatur Tuhan? Pasti.

Hidup absurd memang menyenangkan. Menikmati kekacauan dunia yang pada kebanyakan orang tidak dapat mereka rasakan itu sangat-sangat membahagiakan. Dunia ini tempat yang kacau-balau dan semerawut, jadi buat apa hidup rapih dan teratur? Jika memang konsep hidup diperlukan, maka akan saya buat milik saya pribadi.

Konsep hidup: absurd. \^o^/

Advertisements

2 thoughts on “Hidup Hidup Absurd

  1. Akkk! Ternyata aku gak sendirian. Aku juga sering absurd spontan gitu lho, dan jujur aja itu kayak pelarian dari rutinitas hidup *halah* being absurd is awesome, apalagi kalo punya uang dan bisa traveling… :))

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s