Dari Layar, Lalu? Buyar?

(Ditulis 14 Agustus, 2012)

Setiap dari kita mungkin pernah menganggumi seseorang yang bahkan belum pernah kita lihat langsung wujudnya seperti apa. Melihatnya di twitter, blog, tumblr, dan berbagai macam media sosial lain lalu menyukai apa yang telah ia bagi di sana. Kemudian berujung pada angan yang bekerja, membayangkan jika kita bertemu dengan si dia, bertatap muka, dan membiarkan imajinasi kita mengalir bebas sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kenyataannya setelah bertemu,

Ah, dia ngga asik. Di timeline doang berisik, aslinya melempem, garing.”

Sudah sangat sering saya mendengar berbagai ucap macam di atas, bahkan saya juga pernah kok melakukan hal yang sama :p. Tapi semua ini salah siapa? Salah dia yang hanya “asik” di timeline saja? Atau salah imajinasi kita yang menghardik dia untuk berlaku seperti apa yang kita “bangun” sosoknya di pikiran kita?

Saya tersadar.

Bahwa manusia terlalu ribet untuk mengotak-kotakan manusia lain ke dalam kategori yang manusia ribet itu bikin sendiri. Saya juga pernah mengklaim kalau si A avatargenic (terlihat keren hanya di avatar saja), si B korangenic (terlihat keren kalau mukanya dibungkus koran) dan si C blabla sampai ke Z. Mengambil sudut pandang dari mata kita yang sedang duduk di sofa empuk memang kegiatan paling mengasyikan di dunia. Sampai akhirnya kita diusir dari sofa empuk tadi karena dilarang duduk di barang pajangan di lobby mal. Ngerti? Gue engga.

Yang saya maksudkan adalah, oke lah ada beberapa dari kita yang sangat kepengin banget bukan kepengin aja ketemu dengan “sosok idaman” kita di layar tadi. Masalahnya apa dia mau menerima kehadiran kita itu yang lebih penting. Kalau dia ngga “nyaman” dengan keberadaan kita bagaimana? Masih mau maksa? Rumah sakit jiwa belum penuh kok, silakan.

Saling follow bukan berarti pintu gerbang kehidupan dia boleh kita masuki seenak jidat nabi Muhammad. Di-unfollow juga bukan berarti kita dilarang kasih senyuman paling hangat. Mas, mba, sosial media itu memperkecil jarak, bukan volume otak. Berusaha terlihat paling pro padahal tabiat masih beta itu pfffftt tak terkira.

Sekarang 2012. Tahun depan 2013. Tahun depannya lagi 2014. Sepuluh tahunnya lagi 2024. Ya udah. *dilemparin Lumia 900 dari developer segala penjuru.*

Zaman sudah modern. Sudah saatnya kita meng-upgrade pola pikir kita supaya tidak berpikir instan kayak Indomie Ayam Bawang. Aeh. Laper.

Suka kepikiran kalau manusia purba belum seutuhnya punah pas melihat yang begituan. Ya mau gimana, wong cuma ada beda satu huruf antara KOLOT dan BOLOT. Terus biasanya mereka suka NYOLOT pengin deh masukin mukanya ke PISPOT.

Good (k) Night.

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s