Yogya Yang Seyogyanya Ya Yogya

(Ditulis 08 Agustus, 2012.)

Setelah lebih kurang dua bulan waktu yang saya habiskan untuk mengenal lebih dalam kota Yogyakarta, saya terpaksa berkata, Yogyakarta adalah kota yang aneh.

Satu demi satu tempat yang saya datangi (bisa juga dibaca: nyasar dari satu posisi ke posisi yang lain yang sudah saya alami), saya mulai menemukan keanehan Jogja yang saya maksudkan. Atmosfer kota Jogja memang berbeda dari kota-kota  kebanyakan. Semacam santai tapi tetap bergerak (lah pegimana?). Saya yakin akan sangat merindukan kota ini saat berpisah dalam kurun waktu tertentu.

Keanehan Jogja meliputi;

#1 Olive

Olive

Olive semacam resto cepat saji sejenis KFC tetapi dengan harga yang sangat tidak masuk akal. MURAHNYA KEBANGETAN! Saya ulangi, MURAHNYA KEBANGETAN! Saat pertama kali berkunjung ke tempat ini, saya membuka mulut secara melingkar dengan diameter sempurna sekitar 2 senti (lebay terkadang perlu dihadirkan supaya seru aja) karena memang murah banget. Sempat terpikir untuk melaporkan kedzoliman Olive kepada KFC supaya terjadi somasi antarkeduabelah pihak. Buat yang ngga ngerti tenang aja, kita senasib. Sampai hari ini pun saya masih suka senyum-senyum sendiri kalo disepik gebetan pas melihat price-list makanan di Olive. :D

#2 Pengendara Umat Jogja

KEBANYAKAN, pengguna kendaraan di sini suka seenaknya. Bukan suka seenaknya aja, tapi seenaknya banget. Pernah satu ketika, saya jatuh dari motor yang saya naiki sambil saya kendarai (?) just because mobil di depan berhenti mendadak hanya karena ingin memutar arah, dan itu DI TENGAH JALAN. Anehnya, pengendara lokal (Plat polisi AB) di sekitar saya tidak ada SATU PUN yang membunyikan klakson. Bisa dibayangkan kalau ini terjadi di Jakarta, mesti akan menimbulkan polusi suara. Seperti sudah menjadi tradisi mengendarai kendaraan semacam begitu di begini. Belakangan kata kakek saya, memang orang-orang di sini selalu santai saat berkendara, SANTAI SIH SANTAI MAS, TAPI ITU MOBIL-MOTOR, BUKAN GEROBAK. Sering kesal juga sih pada awalnya. Namun makin kesini ya sudah terbiasa. Malah saat ada kendaraan yang “bikin ulah” saya hanya tertawa. Alon-alon asal kelakon. BHAHAHAHANJENGHAHAHAK.

#3 Soal Bahasa

Saat Jumat tiba, saya bangun seperti biasa, membuka mata, tarik nafas panjang, kemudian …. tidur lagi. Long story short, melaksanakan mandi seperti anak ganteng pada umumnya, lalu berangkatlah saya ke masjid setempat yang untung aja lagi di tempat coba kalo ngga lagi di tempat kan repot cari tempat (apeu). Kemudian adzan solat jumat berkumandang, lalu tibalah saat khotib berceramah. Detik pertama yang berbunyi “Asalamualaikum” datang ke telinga dengan sehat wal afiat, di detik selanjutnya, khotib ceramah soal “1gy2(&E@#R&@^E$^QT#WYDRQ” atau dalam bahasa manusianya: GUE NGGA NGERTI INI KENAPA PAKE BAHASA JAWA DAH. Dan pada hari itu juga saya berjanji kepada seluruh umat untuk tidak solat jumat di tempat itu lagi karena ditakutkan faedah ibadah saya berkurang hanya soal perkara tidak bisa meresapi apa yang khotib sampaikan (Mas, biasanya juga kan si emas tidur pas ceramah?!). Untuk itulah demi masa depan bangsa yang lebih baik, pada minggu berikutnya saya melaksanakan ibadah di tempat yang agak jauh dari rumah, sekitar ….. 10 meter (ngga nolong). Dan ternyata tak dinanya tak diduga, hasilnya, SAMA AJA. SET DAH. Ini pelanggaran hak minoritas. Bisa saya laporkan ke … FPI atas tindakan tak anonoh yang sudah saya rasakan. Beruntung saya punya orang-orang terdekat yang selalu menyanyangi saya secara tulus ngga pake nyanyi (FYI, Tulus itu nama penyanyi di Bandung kalo ndak salah, googling dah), atas berkat rahmat Alloh  yang mahakuasa, dan saran dari teman-teman (jijik sendiri bacanya), saya mendapatkan masjid yang menyajikan ceramah berbahasa indonesia. Semacam oase di tengah padang pasir :’) (nangis di pelukan koko-koko baju biru yang ketemu di Amplaz kemarin). Bukan soal ceramah saja, pengumuman gotong royong,  bahkan orang meninggal pun menggunakan bahasa jawa. Bisa dibanyangkan penderitaan saya sebagai anak delapanbelas tahun yang menjunjung tinggi keselarasan bangsa indonesia untuk berbahasa yang baik dan benar sesuai petunjuk KBBI pegangan masing-masing. Ya wajar kalau nantinya saya tidak tahu siapa yang meninggal, wong kedengeran sama aja ngono (Seka keringat berpeluh karena sudah berusaha beradaptasi dengan bahasa sekitar).

Terlepas dari keanehan yang saya alami tadi, Jogja sangat asik kok. Terutama soal harga makanan. Di sini banyak jajanan enak yang harganya miring. Tidak semuanya murah, tergantung pilih-pilih tempat pokoknya. Sebagai perbandingan, saya pernah makan ayam bakar+nasi+es teh tiga porsi bareng temen, dan habis cuma 21.500. Etapi itu murah ndak? Murah kan ya?

[True or false: Di Jogja makanan semuanya terasa manis? Ndak juga tuh. Saya pernah kok makan sambal yang rasanya bener-bener sambal. Lidah sumatera yang saya miliki sangat terlatih untuk menilai makanan berbahan dasar cabai. Pokoknya kewl.]

Intinya saya sangat nyaman berada di sini. Bosan? Iya juga. Karena tempo hidup yang begitu lambat jadi agak sedikit monoton. Sebenarnya cocok sih buat yang ingin menikmati masa tua, tapi kan sini masih muda kakak (diludahin),

Oh iya, Jogja memunyai hari lahir yang sama dengan saya. Jadi berasa saudara kembar sendiri sih (halah). :D

*foto bersumber dari google

Advertisements

Bubuhkan Komentar (Put a Thought)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s